Artikel

Syarah Sistem Pendidikan Islam

 

 

BAB  I

LANDASAN  IDEAL  PENDIDIKAN

 

 

 

1. Tujuan Akhir Pendidikan.

وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّلِيَعْبُدُوْنِ (الذاريات: 56)

" Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." (Qs. adz Dzariyaat 51: 56).

 

وَإِذْقَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لاَتُشْرِكْ بِاللهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ(لقمان31: 13 )

" Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran (mendidik) kepadanya, "Hai anakku, janganlah kamu menyekutukan Allah, sesungguhnya menyekutukan Allah benar-benar kedzaliman yang besar." (Qs.Luqman 31: 13).

 

Ayat ke-56 surat ke-51 adz Dzariyaat di atas memberikan gambaran yang umum dan luas, bahwa Allah menciptakan manusia di muka bumi ini hanyalah untuk beribadah kepada-Nya. Ibadah yang dimaksud adalah segala sikap dan perilaku manusia hendaklah diniatkan karena menjalankan suruhan Allah (minallah), dilaksanakan dengan cara-cara yang sesuai dengan ketentuan Allah (billah) dan tujuan melaksanakan aktivitas tersebut di dalam rangka meraih keridhoan Allah semata (ilallah).

Sedangkan ayat ke-13 surat ke-31 Luqman di atas merupakan salah satu contoh yang diperagakan Luqman sebagai hamba Allah yang sholeh bahwa proses pendidikan dan pengajaran adalah mengarahkan dan membimbing anak didik untuk menyadari fungsi dirinya sebagai hamba Allah, bukan hamba selain-Nya. Sehingga apa pun profesi anak didik kelak, maka keimanan atau ketaqwaan akan menjadi landasan hidupnya. Pada akhirnya, kelak anak didik hidup di dalam masyarakatnya berada di dalam keadaan beribadah kepada-Nya semata.

Tujuan tersebut (hidup di dalam beribadah) merupakan suatu idealisme yang mapan. Idealisme itu sangat erat kaitannya dengan  sistem nilai yang dianut oleh  masyarakat. Hal itu mengandung pengertian, bahwa sistem nilai (taqwa) yang dianut masyarakat menjadi landasan bagi sistem/ konsep pendidikan. Tercapai tidaknya tujuan akhir pendidikan, mensyaratkan adanya sistem nilai yang sesuai dengan fitrah manusia (mengesakan Allah).

Suatu yang mustahil (sebagai misal), bila kita menanam padi dan mengharapkan buah, sementara tanahnya kering tanpa ada air setetes pun. Mengapa demikian, sebab fitrah padi adalah tumbuh di atas tanah (yang memiliki unsur sama dengan tanah) serta memiliki air yang cukup.

Fitrah manusia adalah bersih dan lurus/ mengesakan Allah/ berdienul Islam (Qs. Ar Rum 30: 30). Maka bila sistem nilai tempat  tumbuh kembangnya pendidikan dan pengajaran ternyata berlawanan dengan fitrah tersebut, maka jelaslah sudah, pendidikan itu akan terasa kering. Ia tidak akan dapat menghasilkan anak didik yang sanggup mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan yang menjadi harapan orang tua dan masyarakatnya.  Justru menjadi sebaliknya, anak didik akan cakap mengembangkan hawa nafsu dan mungkin saja dapat menjadi penghalang bagi misi keberadaannya di dunia ini. Iptek dan segala profesi yang kelak dikuasainya akan lebih banyak membuat kemudharatan bagi sesamanya dan alam semesta, dibanding manfaatnya.

 

2. Iman atau Taqwa Sebagai Landasan Sistem Pendidikan.

Iman atau taqwa merupakan sebuah sistem nilai buatan Sang Pencipta manusia. Sistem nilai ini memiliki sifat yang menyeluruh dan sempurna yang cocok dengan fitrah manusia di mana pun berada dan di dalam masa apa pun serta di dalam kondisi bagaimana pun. Ia seharusnya dilestarikan dan ditumbuhkembangkan oleh para aktivis pendidikan.

Untuk dapat melaksanakan hal itu -terutama para pendidik- dituntut untuk menyiapkan diri terlebih dahulu. Pendidik seharusnya dan sewajarnya menggembleng dirinya agar menjadi manusia yang beriman atau bertaqwa serta menguasai iptek berdasarkan jenjangnya dan memberikan keteladanan yang tulus. Untuk memenuhi tenaga pendidik yang berkualitas itulah, maka Perguruan Tinggi yang bermutu perlu segera disiapkan.

 

3. Bentuk Out Put Sistem Pendidikan.

Untuk mencapai tujuan akhir sebuah sistem pendidikan, memerlukan pencapaian tahap demi tahap tujuan yang lebih khusus. Untuk itu perlu dirumuskan tujuan yang bersifat kelembagaan suatu lembaga pendidikan tertentu. Hal ini berarti setiap institusi pendidikan yang umum dan khusus (karena memiliki spesifikasi tertentu) memerlukan rumusan tujuan institusional yang berbeda-beda antara institusi yang satu dengan yang lainnya. Pada tahapan inilah, pihak yang berwenang dan ahlinya dituntut untuk berpikir kritis, sistematis dan dinamis serta komprehensif di dalam rangka mengembangkan bentuk dan warna kualitas manusia yang dikehendaki pada zaman/ era lulusan sebuah satuan pendidikan tertentu, di masa yang akan datang. Lulusan ini diharapkan mampu mengolah dunia dengan kemajuan iptek yang berlandaskan iman atau taqwa. Akhirnya kemajuan dan penguasaan iptek dijadikan sarana untuk menopang pengabdian kepada penciptanya di dalam semua lapangan/ bidang kehidupan manusia. Pemegang kebijakan dan para ahli tersebut di atas, berarti mampu mengubah nasib kaumnya ke arah kemajuan lahiriyah dan bathiniyah (mental spiritual dan fisik material), jika berhasil merumuskan tujuan pendidikan dan konsep dan kurikulum pendidikan yang tepat dan benar. Buah yang akan dipetik dari sistem pendidikan yang demikian adalah keselamatan, kesejahteraan lahir & bathin, keamanan dan ketenangan yang sesungguhnya. Inilah rumus Islam yang sebenarnya dikehendaki semua orang.

Sedangkan kenyataannya menunjukkan, dunia sekarang telah mengalami kemajuan iptek dan munculnya manusia-manusia genius serta banyaknya penelitian canggih sebagai hasil suatu sistem pendidikan modern dengan pola pendekatan materialistik. Akibatnya, tidak aneh apabila kemerosotan moral, mental dan akhlaq telah membudaya, termasuk anak sekolahnya sekalipun. Seperti: Perang bermotif keserakahan dunia; munculnya penyakit menakutkan/ AIDS; korupsi; manipulasi; perzinaan; pembunuhan merajalela; perjudian; mabuk-mabukan; pelacuran hak azasi; penipuan; uang telah menjadi tumpuan dan tuhan; perkelaian dan pembunuhan antar pelajar telah menjadi panorama sehari-hari yang menyesakkan dada. Bagaimana sistem pendidikan yang ada dapat menjawabnya ?

 

4. Perubahan Sistem Nilai = Perubahan Tujuan Pendidikan.

Kenyataan dunia seperti digambarkan di atas, akan mengalami perubahan, manakala manusia bersedia mengubahnya. Perubahan harus dimulai dari akarnya dan menyeluruh dan tentu saja secara bertahap dan atau sekaligus jika sanggup. Sebab kerusakan yang terjadi adalah sebagai konsekuensi penerapan sistem nilai yang menyimpang. Berarti pula perubahan yang dikehendaki di dalam bentuk: Penggantian Sistem Nilai yang melandasi sistem pendidikan; Strategi & Konsep Pendidikan; Metode serta materi Pembelajarannya.

Akhirnya akan dapat diwujudkan (hasil pendidikan) yang kita cita-citakan bersama. Bukankan Allah telah menginformasikan,

إِنَّ اللهَ لاَيُغَيِّرُ مَابِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوْا مَابِأَنفُسِهِمْ وَإِذَآ أَرَادَ اللهُ بِقَوْمٍ سُوْءًا فَلاَ مَرَدَّ لَهُ وَمَالَهُم مِّن دُونِهِ مِنْ وَالٍ (الرعد: 11 )

" ..... Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia." (Qs. ar Ra’d13: 11).

 

Apabila perubahan di atas terjadi, maka pendidikan dapat menyumbangkan perannya yang besar di dalam membangun keseluruhan bidang hidup dan kehidupan manusia (peradaban). Namun, bukanlah suatu hal yang mudah untuk mengubah suatu keadaan yang telah membudaya. Perubahan itu tidak akan terjadi, jika orang-orang yang terkait langsung seperti: Pemegang kebijakan, para ahli/ tokoh pendidikan dan para tenaga lapangan, lebih senang berpangku tangan. Mereka hanya menerima dan meneruskan kondisi yang ada/ yang telah membudaya, enggan bersungguh-sungguh dengan segala daya dan upaya untuk mengubah keadaan. Bahkan telah merasa enak, nyenyak dan mapan di dalam kondisi lama (status quo).

 

5. Kebanyakan Sekolah-Sekolah Masa Kini.

Satu pertanyaan perlu dikemukakan, "Bagaimanakah upaya sekolah-sekolah yang ada sekarang ini?" Apabila kita bersedia meneliti, akan didapatkan bahwa sekolah-sekolah yang ada di dalam upaya melaksanakan proses pendidikan  dan pembelajaran siswa, tidak lagi/ kurang menyelaraskan upayanya dengan sistem nilai iman atau taqwa. Hal itu dapat dipahami, sebab sekolah hanyalah salah satu instrumen pelaksana program pendidikan yang telah ditetapkan dari atas. Akibatnya, masyarakat yang peduli terhadap perubahan ke arah kemajuan lahiriyah yang berlandaskan kemajuan rohaniah menjadi prihatin terhadap kenyataan yang ada. Betapa tidak, kenyataan menunjukkan bahwa sekolah lebih menitikberatkan dan menuntut anak didik untuk maju di dalam aspek lahiriyah, sekaligus mengesampingkan/ mengecilkan aspek mental rohaniah. Kemajuan lahiriyah tidak dilandasi dan dibarengi oleh kemajuan mental spiritual yang baik, sehingga melahirkan anak didik yang pandai otaknya, akan tetapi kering jiwanya.

Akhirnya, terbentuklah manusia-manusia terdidik bagai mesin, sebab kini sekolah bagaikan pabrik. Lahirlah manusia robot yang tidak lagi hidup merdeka, tetapi dikendalikan oleh sesama manusia. Hidup tidak lagi dapat dikendalikan oleh Yang Berhak mengendalikan. Padahal hidup dan mati serta segala fasilitas hidup adalah dari Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Mengapa manusia tidak rela dikendalikan-Nya? Mengapa sistem pendidikan tidak mengacu kepada-Nya dan mengapa sistem nilai iman atau taqwa dilupakan? Manusia-manusia yang berkepribadian terpecah (tidak seimbang antara kemajuan lahiriyah dengan kemampuan jiwanya), kian hari semakin bertambah. Sungguh hal itu harus segera diakhiri.

 

6. Pendidikan Merupakan Wahana Pelestarian Sistem Nilai.

Sistem nilai tertentu akan menuntut sistem pendidikan yang dikembangkan, strategi yang ditempuh, teknik yang digunakan, materi pelajaran sebagai muatannya, kebijakan-kebijakan pendidikan dari tingkat satu lembaga pendidikan hingga tingkat pusat dan sistem kurikulum secara menyeluruh, tidaklah boleh bertentangan dengannya.

Oleh karena itu, iman atau taqwa sebagai satu sistem nilai hendaklah telah terintegrasi dengan jelas dan transparan di dalam mengembangkan sistem pendidikan; di dalam menentukan strategi yang ditempuh; di dalam menetapkan teknik/ metode pembelajaran siswa; di dalam rumusan-rumusan materi pelajaran; di dalam kebijakan-kebijakan pendidikan dan di dalam menetapkan sistem kurikulum yang dikembangkan.

Dengan demikian, dapat diharapkan sistem nilai iman atau taqwa akan menjadi lestari, sekaligus kelemahan-kelemahan sistem pendidikan yang berlandaskan sistem nilai lama, dapat diperbaiki. Di kemudian hari, insya Allah, akan lahir manusia-manusia yang benar-benar terdidik dengan baik yaitu lahirnya manusia yang seimbang kepribadiannya. Ia akan memiliki kemajuan lahiriyah yang pesat dengan diimbangi oleh kemajuan bathiniyah yang unggul. Ia dapat menyelaraskan dan tahu batas antara kepentingan-kepentingan pribadi dengan kepentingan-kepentingan masyarakat, sehingga kerusakan-kerusakan yang telah membudaya (kerusakan akhlaq seperti telah tersebut di atas) tidak lagi terulang dan bahkan dapat diberantas.

Hanya sistem nilai iman atau taqwa sajalah yang dapat mencegah dan menghentikan setiap pribadi yang menyimpang. Memang antara sistem nilai yang rusak (fujur) dengan sistem nilai yang baik (taqwa) senantiasa terjadi tarik-menarik, baik di dalam diri pribadi maupun di dalam masyarakat luas. Namun bagi mereka yang telah berlandaskan sistem nilai iman atau taqwa, maka potensi fujur dapat ditekan. Allah telah berfirman,

فَأَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوَاهَا{قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا{وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا ( الشمس:8 - 9)  

"Maka Allah yang mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang telah menyucikan jiwanya dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya." (Qs. asy Syams 91:8-10)

 

Melestarikan sistem nilai iman atau taqwa adalah tergolong di dalam menyucikan jiwa dan hal itu merupakan suatu keberuntungan dunia hingga akhirat. Siapakah yang tidak ingin beruntung?

 

7. Landasan Konstitusional dan Operasional Pendidikan.

Kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa untuk membangun dan mengembangkan sistem pendidikan, harus menggunakan landasan sistem nilai iman atau taqwa dengan tujuan akhir terwujudnya manusia yang senantiasa mengerahkan segala daya dan upaya di dalam mengupayakan kesejahteraan dan kedamaian ummat manusia di seluruh lapangan kehidupan, baik tingkat regional, nasional maupun internasional, di dalam suasana kasih sayang dan persaudaraan, sebagai wujud ibadah kepada Allah Ta’ala.

Iman atau taqwa sebagai landasan sistem pendidikan akan dapat menuntun sekaligus menuntut warga didik (para pemegang kebijakan, para ahli dan pelaksana serta para siswa) untuk senantiasa menerapkan  pendidikan yang sejalan  dengan kebijakan Allah Yang Esa sebagai pencipta manusia. Bahkan menuntut agar warga didik melestarikan sistem nilai tersebut. Sebab dengan ketiadaan nilai-nilai iman atau taqwa pada diri warga didik, maka hilanglah/ merugilah suatu lembaga pendidikan. Kembali kepada fitrah manusia (yang bersistem nilai iman atau taqwa) merupakan suatu keharusan sebelum kita memikirkan dan merumuskan konsep pendidikan, apalagi melaksanakannya.

Adapun landasan konstitusional sebuah sistem/ konsep pendidikan adalah merupakan kebijakan Sang Pencipta manusia itu sendiri. Sebab Allah Ta’ala-lah yang Maha Tahu tentang manusia. Selanjutnya mengikuti contoh yang telah diperagakan oleh Rasulullah r. Sebab beliaulah orang yang ditunjuk Allah Usebagai operasionalisasi ‘kebijakan’ Allah U. Kemudian memperhatikan upaya para cerdik pandai/ ulama pada bidangnya masing-masing untuk masa kini di tempat sebuah lembaga pendidikan dibangun dan dikembangkan. Sudah barang tentu landasan ini lebih disesuaikan dengan situasi dan kondisi kemampuan setiap wilayah dan keanekaragaman sumber daya  yang tersedia. Baik sumber daya manusia, dana, material maupun yang lainnya.

Perlu dikemukakan di sini bahwa, sumber daya manusia yang seharusnya ada di dalam sistem pendidikan adalah mereka yang memiliki karakteristik:

1. Berlandaskan sistem nilai iman atau taqwa.

2. Konsisten memperjuangkan sistem nilai tersebut di atas.

3. Berakhlaq mulia.

4. Menguasai ilmu di bidangnya masing-masing.

 

Sumber Daya Manusia di atas, diharapkan akan sanggup mengadakan pembaharuan dan merumuskan sistem pendidikan dan kurikulum yang dapat mengantarkan anak didik agar memiliki iman atau taqwa yang kokoh dan iptek yang tinggi. Melalui kemampuan tersebut, pada masanya, anak didik akan sanggup berfungsi sebagai pengolah bumi Allah ini. Ia dapat membawa kemaslahatan ummat manusia sesuai kehendak Sang Pencipta alam semesta.

Landasan operasional sebuah sistem pendidikan merupakan tanggung jawab para ahli secara khusus, agar rumusan pendidikan yang akan dikembangkan benar-benar proporsional. Hasil kerja para ahli ini dijadikan suatu kebijakan pendidikan yang diberlakukan menyeluruh mulai tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Sebagaimana sabda Rasulullah r, bahwa suatu urusan pekerjaan diserahkan kepada ahlinya.

إِذَا وُسِّدَ اْلأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِِهِ فَانْتَظِرِالسَّاعَةَ (رواه البخارى ومسلم وهذا لفظ البخاري الرقم 60)

Jika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya.” (HR. Bukhori dan Muslim. Ini lafadz Imam Bukhari dalam kitab al Ilmi No.60 ).

 

 

 

BAB  II

PENGERTIAN  PENDIDIKAN

 

1. Definisi Pendidikan.

Banyak definisi pendidikan diajukan para pakar pendidikan. Pada tulisan ini, penulis menampilkan pendapat yang menyatakan, bahwa pendidikan merupakan usaha sadar orang dewasa untuk membimbing, mengarahkan atau mengondisikan orang yang belum dewasa agar mencapai kedewasaannya. Pengertian ini masih umum, artinya bentuk kedewasaan yang dimaksud tergantung kepada sistem nilai yang melandasi konsep pendidikan yang melingkupinya. Bila konsep pendidikan yang hendak dikembangkan  berlandaskan sistem nilai iman atau taqwa, maka bentuk kedewasaan yang dimaksudkan tentu berbeda dengan bentuk kedewasaan yang hendak dikembangkan oleh konsep pendidikan yang berlandaskan sistem nilai fujur.

 

2. Perbandingan Bentuk Kedewasaan.

Bentuk kedewasaan yang dihasilkan oleh sebuah konsep pendidikan yang berlandaskan sistem nilai fujur adalah kedewasaan yang tidak seimbang dan kerdil. Artinya matang pada satu aspek kepribadian (logika berkembang misalnya), akan tetapi aspek emosi dan sisial cenderung kepada pengabaian nilai-nilai moral dan asusila (fujur). Inilah bentuk kedewasaan yang rusak/ tidak seimbang dan cacat norma.

Sedangkan bentuk kedewasaan yang dihasilkan oleh sebuah sistem pendidikan yang berlandaskan sistem nilai iman atau taqwa adalah lahirnya manusia-manusia yang keseluruhan aspek kepribadiannya (baik logika, etika, estetika, moral dan sosial) berkembang secara seimbang dan stabil, seiring dan sejalan secara harmonis, sehingga tidak lagi muncul berbagai penyakit akhlaq/ moral dan sosial.

 

2.1. Bentuk Kedewasaan.

Bentuk kedewasaan berikut merupakan hasil dari konsep pendidikan  yang berlandaskan sistem nilai fujur, disertai dengan komentarnya:

2.1.1. Dewasa Fisik.

Dewasa fisik berarti telah matang bentuk pertumbuhan jasad yang berguna untuk mengemban tugas-tugas hidupnya. Bentuk kedewasaan ini ditandai dengan perubahan panjang/ tinggi tubuh seseorang, telah tumbuh ciri-ciri sekunder, seperti tumbuh kumis, muncul anak tekak, tumbuh rambut di tempat tertentu dan telah bermimpi, bagi anak laki-laki. Sedangkan bagi anak perempuan, ciri kedewasaan fisik terletak pada pertumbuhan buah dada dan mulai menstruasi serta tumbuh rambut pada bagian tertentu.

Komentar:

Sesungguhnya, kedewasaan fisik seperti digambarkan di atas bukan merupakan pengaruh langsung dari proses pendidikan. Artinya, pertumbuhan fisik tersebut terjadi secara alamiah (hukum yang telah Allah berlakukan bagi makhluq-Nya). Sehingga pendidikan memberikan kontribusi yang kecil terhadap kedewasaan fisik seseorang.

 

2.1.2. Dewasa Psikhis.

Kedewasaan psikhis berciri dapat membedakan perbuatan benar dan salah; baik-buruk; indah-jelek dan memiliki moralitas yang tinggi. Ciri yang terakhir ini (moralitas yang tinggi) dipandang sebagai perwujudan praktek keagamaan (hubungan manusia dengan Tuhannya).

Komentar:

Dengan adanya issu bahwa persoalan agama adalah masalah pribadi, maka pendidikan dan pembinaan agama menjadi urusan keluarga. Sehingga hal itu menyebabkan pendidikan agama di sekolah-sekolah semakin disisihkan dan pelajaran -pelajaran lainnya menjadi jauh dari nilai-nilai iman atau taqwa. Lebih memprihatinkan lagi, apabila kita memperhatikan praktek keseharian di sekolah-sekolah, adalah steril dari ruh dan nilai taqwa. Praktek keimanan hanya terbatas pada ritual seremonial belaka. Hal itupun sering dilalaikan apabila ada kesibukan lain. Bahkan banyak yang tak menghiraukannya. Praktek keseharian di dalam keluarga dan masyarakat luas, kebanyakan tidak jauh berbeda. Pendidikan agama di sekolah dikebiri dan pembinaan agama di keluarga dicurigai. Akankah ada motif hendak melenyapkan landasan nilai iman atau taqwa dengan pembungkus seakan diberi kesempatan berkembang ?

Agama hanya dipandang sebagai bagian, bahkan sub bagian dari sistem yang berlaku. Mereka memandang iman atau taqwa bukan  secara menyeluruh dan apa adanya. Hal itu mungkin cocok di negeri Barat, tetapi tidak di negeri Timur (khususnya Indonesia). Firman Allah jalla wa ‘ala,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوْا فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُوْا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينُُ ( البقرة: 208)

"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syetan. Sesungguhnya syetan-syetan itu musuh yang nyata bagi kamu." (Qs. Al Baqoroh: 208).

 

2.1.3. Dewasa Sosial.

Ciri kedewasaan yang ke tiga adalah dewasa di bidang sosial. Pengertiannya adalah bahwa anak didik diharapkan setelah mengikuti program pendidikan tertentu, mereka akan memiliki kedewasaan bersikap dan bertindak di masyarakat. Mereka dapat membawa diri mereka untuk dapat berperan serta di dalam menumbuhkem bangkan masyarakat sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Baik norma agama, adat-istiadat, hukum dan kesusilaan.

Komentar:

Apabila kita bersedia meneliti dengan sedikit seksama, akan tampak kerancuan semakin meruncing tanpa diperuncing. Bagaimana mungkin berbagai norma tersebut akan dapat direalisir anak didik, sedangkan antar norma tersebut satu dengan yang lainnya terdapat perbedaan yang sangat mencolok, bahkan bertentangan walau tanpa harus dibeda-bedakan dan dipertentangkan.

Norma adat-istiadat dan kesusilaan adalah lebih merupakan warisan nenek moyang secara turun-temurun. Norma hukum merupakan warisan kaum penjajah. Sedangkan norma agama (Islam) hanya baru sebatas dipelajari, tanpa pernah dipraktekkan, padahal norma tersebut merupakan produk Allah pencipta dan pemberi segala fasilitas hidup manusia.

Lalu, bagaimanakah bentuk kedewasaan yang dikehendaki di dalam konsep pendidikan yang berlandaskan sistem nilai iman atau taqwa? Berikut ini uraian singkatnya:

1. Dewasa jasmaniah.

Dewasa jasmaniah mengandung pengertian pertumbuhan jasad yang matang secara potensial alamiah, maupun potensial efektif. Kematangan potensial alamiah merupakan ketentuan/ syarat atau sunnatullah yang telah pasti adanya, tanpa harus diupayakan secara khusus oleh manusia (bukan merupakan produk manusia). Kematangan potensial efektif adalah pelengkap atas pertumbuhan potensial alamiah.       Gabungan keduanya menjadikan anak didik dapat memiliki keunggulan khusus dibanding dengan anak didik yang hanya matang potensial alamiahnya saja. Keunggulan khusus tersebut diperuntukkan sebagai persiapan untuk mengemban tugas hidupnya di dunia ini secara optimal dan tugas khusus di dalam menegakkan kebenaran dan keadilan dengan berlandaskan iman atau taqwa.

Kematangan potensial efektif inilah yang terutama harus diupayakan oleh pendidikan. Untuk itu Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallama telah menganjurkan, memberi tahu dan memerintahkan serta mencontohkan bahwa  belajar berlari, berenang, memanah (menembak) dan berkuda adalah penting.

 

2. Dewasa Qolbiyah.

Inti pengertian dewasa qolbiyah adalah hati yang lunak/ jinak di hadapan Allah Ta’ala, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman atau bertaqwa, sekaligus muncul hati yang tegas dan tegar, jika berhadapan dengan bentuk-bentuk penyimpangan dari iman atau taqwa. Dari hati yang demikian, akan muncul sikap yang dapat mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk berdasar sistem nilai iman atau taqwa tersebut. Dengan demikian, segala perilakunya dikontrol oleh hati yang jernih sebagai celupan Allah Ta’ala.

Rasulullah rtelah bersabda,

أَلآ وَإِنَّ فِيْ الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كَلُهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُهُ أَلآ وَهِيَ الْقَلْبُ (رواه البخاري مسلم و أبو داود والنسائي و البيهقي )

"Ingatlah bahwa di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, yang apabila baik, maka baiklah segala perbuatannya dan apabila segumpal daging itu buruk, maka buruklah segala perbuatannya. Ketahuilah, bahwa segumpal daging itu adalah hati." (HR. Bukhori, Muslim, Ab Daud, an Nasa’I, dan al Baehaqi).

 

Dari hati yang tunduk kepada penciptanya, akan muncul pula akhlaqul karimah/ akhlak yang mulia sebagai buah iman atau taqwa.

 

3. Dewasa fikriyah.

Pengertian mendasar atas kedewasaan berpikir seseorang adalah akan tampak pada saat seseorang menghadapi problematika hidup sesuai dengan taraf dan irama perkembangannya. Artinya kualitas kedewasaan seseorang tidak akan sama satu dengan lainnya. Walau demikian, kedewasaan berpikir seseorang dapat diketahui dari pendayagunaan  potensi intelektualitasnya (ingatan, pemahaman, aplikasi, analisa, sintesa, evaluasi) di dalam menghadapi setiap permasalahan. Berarti, seseorang dapat dikatakan dewasa fikriyah, menakala ia sanggup menggunakan potensi kecerdasannya untuk menemukan strategi dan teknik penyelesaian masalahnya disertai dengan penanggulangan atas beberapa efek atas keputusan yang telah diambil. Kemampuan menanggulangi beberapa efek atas keputusan yang diambil itu merupakan bukti tingkat kedewasaan seseorang sampai pada tahap berkualitas. Manusia yang demikian inilah yang selalu Allah Ta’ala gambarkan dengan kata-kata: Apakah engkau tidak berpikir, apakah engkau tidak memahaminya, apakah engkau tidak berakal, dan sejenisnya.

لَوْ أَنزَلْنَا هَذَا القُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللهِ وَتِلْكَ اْلأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ ( الحشر: 21)

"Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah-belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir." (Qs. Al Hasyr:21).

 

Semakin besar permasalahan hidup manusia, maka untuk menanggulanginya dibutuhkan kualitas berpikir yang makin tinggi pula. Semakin maju cara berpikir seseorang, maka akan semakin berkembanglah taraf peradaban manusia. Sebaliknya, ketidakberdayaan seseorang untuk mengembangkan potensi kecerdasannya, mengakibatkan keterbelakangan peradaban. Kemampuan berpikir merupakan ciri khas manusia yang membedakannya dengan makhluq lain. Ketidakpedulian di dalam urusan ini akan mengakibatkan manusia terjatuh ke lembah kebinasaan. Sebaliknya, upaya mengembangkan kemajuan pikir seseorang tanpa dibarengi dengan kendali yang wajar (wahyu), menyebabkan manusia itu jatuh ke dalam jurang kenistaan (fujur).

 

4. Dewasa Dieniyah.

Yang dimaksud dengan dewasa dieniyah merupakan kesanggupan seseorang memiliki keimanan yang lurus dan mapan karena didasari atas pemahaman (ilmu) terhadap kalimat tauhid, menerima hatinya (yakin) dan berani membuktikan keimanannya di dalam kehidupan sehari-hari dengan berbagai resikonya. Firman Allah Ta’ala,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لآإِلَهَ إِلاَّاللهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ (محمد: 19)

"Maka ilmuilah/ pahamilah, bahwa sesungguhnya tiada ilah yang haq, melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi dosa orang-orang mu'min laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempatmu berusaha dan tempat tinggalmu." (Qs.Muhammad:19).

 

Rasulullah rbersabda,

بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ وَحَجِّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً (رواه البخارى ومسلم و الترمذي والنسائي وأحمد وبن حزيمة والطبراني )

 "Islam dibangun atas lima dasar yaitu: Bersyahadat bahwa tidak ada tuhan melainkan Allah dan bersyahadat bahwa Muhammad adalah Rasulullah dan mendirikan sholat, mengeluarkan zakat, shoum Ramadhan dan berhaji jika kuasa." (HR. Bukhori, Muslim, Tirmidzi, an Nasa’I, Ahmad, Ibn Khuzaemah dan Thabrani).

 

Orang dikatakan beriman atau bertaqwa, apabila memiliki minimal keilmuan Islam secara menyeluruh tentang dasar-dasar dien (Qs.Muhammad:19), lalu meyakini ilmunya (Qs.Al Jaatsiyah: 20) kemudian berani mempraktekkan keyakinannya di dalam semua aspek kehidupannya. Manusia dengan gambaran seperti inilah merupakan manusia yang dewasa dieniyahnya (agamanya).

Kemudian, kesatuan antara dewasa jasadiyah, fikriyah, qolbiyah dan dieniyah di dalam diri seseorang, akan menghasilkan insan kamil (paripurna) yang dicita-citakan dunia pendidikan. Insan kamil inilah yang akan sanggup menyelaraskan dan menyeimbangkan potensi jasadiyah, fikriyah, qolbiyah dan dieniyahnya di dalam bersikap dan berperilaku sehari-hari di dalam hidup sebagai peribadi, anggota keluarga, anggota masyarakat maupun di dalam lingkungan yang lebih luas lagi. Insan kamil ini di dalam hidupnya selalu dibimbing oleh wahyu, sehingga ia berada di dalam kebaikan di dunia dan akhirat, insya Allah.

 

 

 

 

 

 

BAB  III

PENDIDIKAN SEBAGAI SISTEM

 

1. Pengertian Pendidikan Sebagai Sistem.

وَإِذْقَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لاَتُشْرِكْ بِاللهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (لقمان:13)

"Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran (mendidik) anaknya, "Hai anakku, janganlah kamu menyekutukan Allah, sesungguhnya menyekutukan Allah benar-benar kedzaliman yang besar." (Qs. Luqman :13).

 

Juga sabda Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallama,

عَنْ بْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِيْ سَعِيْدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِيْهِ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ ثُمَّ لَمَّا عَمَلاً أَبَا طَالَبٍ اَلْوَفَاةُ جَاءَهُ رَسُوْلُ اللهِ  صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  فَوَجَدُ عِنْدَهُ أَبَا جَهْلِ بْنَ هِشَامٍ وَعَبْدَ اللهِ بْنَ أَبِيْ أُمَيَّةَ بْنَ الْمُغِيْرَةِ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  لِأَبْي طَالِبٍ   يَا عَمِّ  قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ كَلِمَةٌ أَشْهَدُ لَكَ بِهَا ثَمَّ اللهِ فَقَالَ أَبُوْ جَهْلٍ وَعَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِيْ أُمَيَّةَ يَا أَبَا طَالِبٍ أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَلَمْ يَزَلْ رَسُوْلُ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ وَيَعُوِّدَانِ بِتِلْكَ الْمَقَالَةِ حَتَّى قَالَ أَبُوْ طَالِبٍ آخِرَ مَا كَلَّمَهُمْ هُوَ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَأَبِىْ أَنْ يَقُوْلَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَا وَاللهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْكَ فَأَنْزَلَ اللهُ تَعَالَى فِيْهِ مَا كَانَ لِلنَّبِيَّ الآية (رواه البخاري و مسلم وابن ماجه وأحمد وغيرهم)

 

"Ibn Syihab berkata bahwa Sa’id bin Musayyab telah mendapatkan berita dari ayahnya, "Ketika Abu Tholib mendekati kematiannya, maka datang Rasulullah saw dan di sana ada Abu Jahl bin Hisyam beserta Abdullah bin Abi Umayah bin Al Mughiroh, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Abu Tholib, "Wahai pamanku, katakanlah Lailahaillah, satu kalimat yang mana aku jadikan saksi untukmu di sisi Allah. Lalu Abu Jahl dan Abdullah bin Abi Umayyah berkata, "Hai Abu Tholib, apakah engkau akan meninggalkan agama Abdul Mutholib ?" lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun terus menawarkan  kepada Abu Tholib untuk mengucapkan kalimat tersebut dan kedua orang itu menyanggah kembali, sehingga akhirnya Abu Tholib berkata, bahwa ia tetap pada agama Abdul Mutholib dan menolak kalimat Lailahaillah. Lalu nabi shallallahu ‘alaihi bersabda, "Demi Allah saya tetap membacakan istighfar untukmu selama aku tidak dilarang untuk itu." Maka kemudian Allah menurunkan Surat At taubah ayat 113 sebagai larangan bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan orang beriman lainnya untuk memintakan ampun bagi orang musyrik, sekalipun saudaranya." (HR.Muttafaqun Alaihi dan Ibn Majah, Ahmad, ath Thabrani dan al Hakim).

 

-------------------------

 

Sistem berbeda dengan cara. Cara bersinonim dengan teknik atau metode atau seni. Sistem merupakan gabungan beberapa komponen yang saling berinteraksi sesuai dengan fungsinya masing-masing di dalam rangka mencapai tujuan sistem tersebut.

Pendidikan sebagai sistem berarti memandang sektor/ bidang pendidikan secara menyeluruh dan utuh sebagai suatu sistem. Sistem ini di dalam pelaksanaannya berkaitan dan saling berinteraksi dengan sistem lain  di dalam sebuah supra sistem. Oleh karena itu, pendidikan berkaitan erat dengan sistem nilai yang berlaku (iman atau taqwa), politik, sosial, ekonomi dan bidang hankam di dalam sebuah masyarakat. Stabilitas bidang-bidang kehidupan tersebut akan berpengaruh terhadap rumusan dan pelaksanaan sistem pendidikan. Demikian pula sebaliknya, stabilitas sistem pendidikan (karena berlandaskan sistem nilai iman atau taqwa) akan berpengaruh terhadap stabilitas bidang lainnya. Semuanya berkait erat di dalam rangka mewujudkan tujuan bersama.

Adapun ayat 13 surat Luqman di atas, manakala dipelajari, ternyata merupakan sebuah praktek pendidikan di dalam keluarga. Di dalamnya terdapat beberapa komponen, seperti: Komponen ayah sebagai pendidik (yaitu Luqman); Komponen anak sebagai anak didik (anak Luqman); Komponen metode (yaitu lemah lembut, walau isinya larangan, tampak dari teks bahasa tersebut); Komponen tujuan (tampak dari keinginan Luqman agar anaknya menauhidkan Allah semata, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun); Komponen materi (pesan yang disampaikan Luqman) dan komponen situasi dan kondisi (saat berlangsungnya proses pendidikan dan keadaan/ kualitas semua komponen serta lingkungan).

Sedangkan ayat 113 surat At Taubah dan hadits riwayat Bukhori & Muslim di atas, menggambarkan pula sebuah praktek pendidikan yang berupa mendewasakan aqidah Abu Tholib dari jahiliyah kepada Islam, hal itu juga merupakan sebuah sistem. Rasulullah radalah sebagai da'i (komponen pendidik), Abu Tholib, paman Rasulullah rsebagai mad'u (komponen peserta didik), Dienul Islam merupakan tujuan dari proses da'wah (komponen tujuan), pesan yang disampaikan Rasulullah r  (komponen materi), dialog merupakan cara yang Rasulullah rlakukan (komponen metode), situasi saat berlangsungnya proses da'wah adalah di rumah mad'u (peserta didik) di dampingi pihak lain yang berpengaruh terhadap berlangsungnya proses da'wah (komponen situasi) serta keadaan mad'u/ peserta didik yang sedang sakit (komponen kondisi) disertai kegigihan pihak lain yang menggagalkan tujuan (Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah memprovokasi Abu Tholib, agar tidak menerima da’wah Rasulullah r).

 

2. Komponen-Komponen Pendidikan.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa komponen-komponen yang terdapat di dalam sebuah pendidikan adalah:

1. Tujuan.

2. Pendidik.

3. Anak/ peserta didik.

4. Metode/ cara.

5. Materi/ bahan.

6. Situasi dan Kondisi.

7. Media/ alat bantu rekayasa pendidik.

Pendidikan sebagai sebuah sistem dapat digambarkan sebagai berikut :

 

 
 

 

 

 


Tujuan

Anak Didik

Pendidik

Materi

                                     

 

 
 

 

 

 

 


Penjelasan diagaram di atas:

1. Komponen Tujuan.

Fitrah manusia dewasa yang sehat mengatakan bahwa setiap aktivitas manusia, tidak akan  lepas dari sesuatu yang diinginkan/ dituju. Dengan memiliki tujuan, setiap aktivitas manusia menjadi terarah. Demikian juga, setiap potensi yang dimilikinya akan senantiasa  didayagunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Tujuan akhir suatu sistem pendidikan yang fitriah tidak lain adalah mengajak manusia untuk berperilaku hidup di dunia ini berada di dalam  kebaikan dan ketaqwaan. Berarti pula, hidupnya berada di dalam keadaan beribadah kepada penciptanya.

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لاَتَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللهِذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَيَعْلَمُونَ (الروم: 30)

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada dienullah, (tetaplah atas ) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah itu. (Itulah) dien yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (Qs. Ar Ruum :30).

 

Proses pendidikan yang mengarahkan manusia agar tetap pada fitrahnya, sulit untuk diwujudkan, disebabkan peranan syetan yang selalu menggoda. Pendidikan menghadapi karang penghalang yang besar, sehingga tidak mengherankan, apabila komponen tujuan ini menjadi sangat ideal dan sulit dicapai di dalam  situasi masyarakat fujur.

 

مُنِيبِيْنَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوْهُ وَأَقِيمُوْا الصَّلاَةَ وَلاَتَكُوْنُوْا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (الروم: 31)

"Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertaqwalah kepada-Nya serta dirikanlah sholat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah (musyrik)." (Qs.Ar Ruum 31).

 

Dari ayat itu, tampaklah bahwa pendidikan meletakkan fungsinya sebagai suatu aktivitas yang mengembalikan manusia kepada fitrahnya, setelah tergelincir oleh godaan syetan. Sudah menjadi sunnatullah, bahwa manusia dewasa dituntut untuk mendidik anak secara optimal, sedangkan masalah tujuan pendidikan tercapai atau tidak adalah menjadi Kehendak Allah.

 

2. Komponen Pendidik.

Pendidik/ murrobi/ da'i merupakan sosok manusia beriman yang berfungsi membimbing, mengarahkan, menunjukkan, mengajak dan menyediakan kondisi-kondisi yang membuat anak didik/ mad'u menyiapkan dirinya meraih tujuan hidup yang menjadi fitrahnya.

Pendidik ini pula yang seharusnya menjadi teladan nyata di dalam kehidupan yang dapat diamati anak didik, sebagai figur penghubung terhadap figur ummat yang ideal (Rasulullah r). Pendidik jualah yang seharusnya  bersama-sama anak didik berinteraksi di dalam rangka memotivasi anak didik meraih tujuannya. Pendidik/ da'i/ murrobi merupakan  ujung tombak yang dapat menjembatani anak didik untuk bersistem nilai iman atau taqwa. Hal itu merupakan  bentuk usaha/ ikhtiar pendidik sebagai tanggung jawab yang diamanatkan Allah Azza wa Jalla. Adapun berhasil tidaknya anak didik meraih tujuannya, sehingga hidupnya senantiasa di dalam ibadah kepada Allah, merupakan persoalan hidayah/ petunjuk Allah. Firman-Nya,

مَن يَهْدِ اللهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَن يُضْلِلْ فَلن تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُّرْشِدًا (الكهف: 17)

"Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapat seorang pemimpin pun yang akan dapat memberi petunjuk kepadanya." (Qs.Al Kahfi 18 :17).

 

Peranan pendidik adalah sebatas berusaha mengantarkan anak didik untuk memperoleh hidayah Allah Ta’ala. Rasulullah rpun tidak sanggup untuk meng-Islamkan pamannya, karena memang beliau adalah pendidik/ da'i, bukan Allah Ta’ala, sehingga memberi petunjuk adalah hak mutlak Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

3. Komponen Anak Didik.

            Anak didik merupakan sosok manusia yang belum dewasa (mungkin fikrohnya atau jasadnya atau qolbinya atau diennya dan atau keseluruhannya) yang secara aktif berkiprah atau meraih tujuan hidupnya. Ia dituntut untuk mendayagunakan segenap potensi positif pemberian Allah Ta’ala. Ia adalah makhluq Allah Ta’ala yang bersifat potensial untuk mengembangkan jalan fujur atau jalan taqwa. Ia diberi kebebasan secara bertanggung jawab oleh Allah Ta’ala. Artinya, apabila ia memilih jalan fujur berarti tujuan hidup yang sesuai dengan fitrahnya, tidak akan pernah tercapai. Sebagai konsekuensinya, ia harus siap mempertanggungjawab kannya di hadapan Allah Ta’ala kelak di Yaumil Akhir.

            Dengan demikian, peranan anak didik adalah mengerahkan segenap potensi yang merupakan karunia Allah Ta’ala untuk memilih jalan manakah yang akan dikembanmgkan. Ia, di dalam perannya dibantu oleh pendidik, agar potensi fujur dapat ditekan dan potensi taqwa dapat dikembangkan.

            Selain itu,  ia pun akan senantiasa berinteraksi dengan sesama anak didik dan lingkungan (teman sebaya, orang tua dan orang lain serta situasi dan kondisi geografis, sosial dan politik). Proses interaksi tersebut dapat memperlancar atau menghambat pencapaian tujuan pendidikan.

            Interaksi dengan lingkungan yang menghambat proses pendidikan, biasanya terlihat, terdengar dan terasa mengenakkan (ni’mat) bagi anak, walau hanya sekejap. Anak didik yang belum dapat menangkap makna yang sesungguhnya dari setiap fenomena yang ia berinteraksi dengannya, merupakan suatu yang berbahaya dan mengancam kesuksesan hidup anak kelak. Oleh karena itu, anak membutuhkan kehadiran orang dewasa yang bijaksana –yang sudah seharusnya berperan sebagai pendidik- untuk membimbingnya. Namun sayang, sungguh teramat sayang, di dalam masyarakat yang telah melacurkan nilai taqwa dan diganti dengan nilai fujur, maka tidak semua orang dewasa memperhatikan hal ini. Bagaimana mungkin akan menjadi anak yang sholeh/ sholehah, yang akan berguna bagi diri anak, keluarga dan masyarakatnya, kalau anak didik ini diracuni di dalam jalan fujur di tengah masyarakatnya serta hampir seluruh orang dewasa membiarkannya ?

 

4. Komponen  Materi  Pendidikan.

            Inti pesan/ materi pendidikan yang dibawa para nabi yang harus diteruskan oleh para pendidik (da’i) adalah seperti yang tergambarkan di dalam Qs.Ar Ruum ayat 30-31 di atas atau seperti tercantum di dalam Firman Allah Ta’ala,

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ  الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَآءَ بِنَآءًوَأَنزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلاَ تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَندَادًا وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ (البقرة: 21-22)

“Hai manusia, ibadahilah Robbmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaaqwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atapnya dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit. Lalu Dia menghasilkan dengan air hujan itu segala buah-buahan sebagai rizki untukmu Karena itu, janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah (syirik), padahal kamu mengetahui.” Qs. Al Baqoroh : 21-22).

 

            Ayat di atas memberi petunjuk, bahwa Allah Ta’ala memberikan amanat agar manusia beribadah kepada-Nya semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Derajat yang akan diperoleh manusia yang telah beribadah kepada Allah adalah taqwa. Pada sisi lain, Allah Ta’ala seakan mengungkap, bahwa tidak pada tempatnya apabila manusia beribadah kepada selain-Nya. Sebab tidak ada yang sanggup menciptakan manusia dan memberikan segenap fasilitas hidup selain-Nya. Ungkapan (firman) Allah Ta’ala tersebut, pada hakikatnya menghujat manusia, sebab sebenarnya manusia telah memahami, bahwa dirinya tidaklah pantas untuk menyekutukan Allah Ta’ala dengan apa pun dan memang tidak ada yang dapat menandingi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

            Di dalam kitabnya –At Tauhid- Syaikh At Tamimi, setelah membawakan Qs. Adz Dzariyaat: 56 ; An Nahl : 36 ; Al Isra’ : 23-24 ; An Nisa’ : 36, selanjutnya beliau membawakan Qs. Al An’am : 151-153,

 قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَاحَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلاَّتُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلاَتَقْتُلُوا أُوْلاَدَكُم مِّنْ إِمْلاَقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلاَتَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَ مِنْهَا وَمَابَطَنَ وَلاَتَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلاَّباِلْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ ðوَلاَتَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلاَّ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ لاَنُكَلِّفُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْكَانَ ذَاقُرْبَى وَبِعَهْدِ اللهِ أَوْفُوا ذَالِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ ðوَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَالِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ( الأنعام: 151-153)

“Katakanlah (Muhammad), “Marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Robbmu yakni janganlah kamu berbuat syirik sedikit pun kepada-Nya, berbuat baiklah kepada kedua orang tua dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), kecuali dengan sesuatu (sebab) yang benar. Demikianlah yang diwasiatkan Allah kepadamu, supaya kamu memahaminya.ðDan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecauali denggan cara yang lebih bermanfaat, hingga ia mencapai kedewasaannya dan sempurnalah takaran dan timbnagan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang, melainkan menurut kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendati pun dia adalah kerabat (mu) dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diwasiatkan Allah kepadamu, agar kamu ingat.ð“Dan (kubacakan), “Sungguh inilah jalan-Ku, berada di dalam keadaan lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kamu  dari jalan-Nya. Yang demikian itu diwasiatkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.” (Qs. Al An’aam :151-153).

 

            Selanjutnya Syaikh berkata, bahwa Ibnu Mas’ud radhiyallohu ‘anhu berkata, “ Barangsiapa ingin melihat wasiat Muhammad ryang tertera di atasnya cincin stempel milik beliau, maka hendaklah ia membaca firman Allah Ta’ala, “Katakanlah (Muhammad), “Marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Robbmu yakni janganlah kamu berbuat syirik sedikit pun kepada-Nya ……..” dan seterusnya, sampai pada firman-Nya, “Dan (kubacakan), “Sungguh inilah jalan-Ku, berada di dalam keadaan lurus ……” dan seterusnya.” (Riwayat at Tirmidzi, Ibnu Al Mundzir dan Ibnu Abi Hatim).

 

            Mu’adz bin Jabal Radhiyallohu ‘anhu menuturkan,

كُنْتُ رَدِيْفَ النَّبِيِّ عَلَى حِمَارٍ‘ فَقَالَ لِىْ ‘ يَامُعَاذُ‘ أَتَدْرِيْ مَاحَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ وَمَاحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى الله ؟ قُلْتُ ‘ "اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ" قَالَ‘ "حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوْهُ وَلاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْأً" قُلْتُ‘ "يَارَسُوْلَ اللهِ‘ أَفَلاَ أُيَشِّرُالنَّاسَ ؟ " قَالَ ‘ "لاَ تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوْا" (روه البخارى و مسلم الترمذي والنسائي وأحمد والطبرانئ)

 

 “Aku pernah diboncengkan Nabi Shallallohu ‘alaihi wa sallama di atas seekor keledai. Lalu beliau bersabda kepadaku, “Hai Mu’adz, tahukah kamu apakah hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya dan apa hak para hamba yang pasti dipenuhi Allah ?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau pun bersabda, “Hak Allah yang wajib dipenuhi para hamba-Nya adalah supaya mereka beribadah kepada-Nya saja dan tidak berbuat syirik sedikit pun kepada-Nya, sedangkan hak para hamba yang pasti dipenuhi Allah adalah, bahwa Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak berbuat syirik sedikit pun kepada-Nya.” Aku bertanya, “Ya Rasulullah, tidak perlukah aku menyampaikan kabar gembira ini kepada orang-orang ?” Beliau menjawab, “Janganlah kamu menyampaikan kabar gembira ini kepada mereka, sehingga mereka nanti akan bersikap menyandarkan diri.”( HR. Bukhori, Muslim, Tirmidzi, an Nasa’I, Ahmad dan Thabrani)

 

            Berdasarkan ayat-ayat dan hadits di atas, Syaikh At Tamimi menjelaskan tentang kandungan/ pesan/ materi pembahasan yang terdiri atas 24 butir/ pesan/ materi bahasan, di antaranya:

  • Ibadah merupakan hakikat tauhid, karena pertentangan yang terjadi (antara Rasulullah rdengan kaum musyrikin) adalah tentang tauhid ini.
  • Barangsiapa belum melaksanakan tauhid ini, belumlah ia beribadah (menghamba) kepada Allah. Di sinilah letak pengertian firman Allah Ta’ala,
وَلآَأَنتُمْ عَابِدُونَ مَآأَعْبُدُ

       “Dan sekali-kali kamu sekalian bukanlah penyembah (Tuhan) yang aku  

        sembah.” (Qs. Al Kafirun :3).

·         Hikmah diutusnya para rasul (yakni untuk menyerukan tauhid dan melarang syirik).

·         Bahwa ajaran/ tuntunan para nabi adalah satu (yakni tauhid/ pemurnian ibadah kepada Allah).

Dapat ditegaskan di sini, bahwa materi pendidikan yang menjadi prioritas utama, sebagaimana penjelasan di atas, yakni at Tauhid. Inilah yang telah dicontohkan para nabi, sahabatnya dan Luqman di dalam memberikan pendidikan terhadap anak didik mereka. Semoga kita dapat mengambil pelajaran.

Materi pendidikan tersebut selanjutnya harus dikelola oleh pendidik agar mudah untuk diserap dan diamalkan  anak didik sesuai dengan usia perkembangan dan kemampuan anak. Kemudian materi tersebut, dilengkapi dengan materi iptek dan ketrampilan lainnya. Kemajuan iptek dan ketrampilan lainnya diharapkan dapat meningkatkan kualitas peradaban dan budaya manusia, yang tentu saja sejalan dengan iman atau taqwa. Itulah muatan yang diemban oleh pendidikan dan pengajaran anak masa depan yakni anak yang sholih/ sholihah.

 

5. Komponen Metode/ Teknik/ Cara/ Seni.

            Metode merupakan kecakapan pendidik di dalam mengelola dan membimbing, mengarahkan, memotivasi dan menyiapkan kondisi-kondisi tertentu, sehingga materi pendidikan dapat dipahami dan diterima anak dengan mudah. Efeknya, dapat mempermudah siswa untuk mencapai tujuan pendidikan. Dapat diakatakan pula, bahwa metode merupakan upaya pendidik untuk memperjelas jalan yang akan ditempuh anak didik di dalam mewujudkan kebenaran.

            Ketepatan di dalam menggunakan metode dan variasi yang menarik, akan mengakibatkan kerja pendidik lebih efisien dan efektif. Firman Allah Ta’ala.

اُدْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ أَحْسَنُإِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ (النحل: 125)

“Serulah (manusia) ke jalan Robbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara/ metode yang baik. Sesungguhnya Robbmu, Dialah yang mengetahui tentang siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Qs. An Nahl : 125).

 

            Berdasarkan ayat di atas, metode yang seharusnya ditempuh para da’i/ pendidik di dalam mendidik haruslah baik. Pengertian baik sudah barang tentu sepanjang tuntunan Allah Ta’ala dan sunnah Rasul-Nya. Pengertian baik seperti itulah yang akan disukai oleh manusia yang cenderung kepada kebenaran. Sekaligus akan dibenci (tidak disukai) oleh manusia yang cenderung kepada kesesatan, yakni manusia yang lebih mendahulukan potensi fujur daripada potensi taqwa.

            Bagi manusia atau anak didik yang menyukai kebenaran, maka terbukalah potensi taqwanya. Selanjutnya ia akan sampai terhadap materi pendidikan/ pelajaran. Langkah berikutnya, mengikuti program yang telah disusun para pendidik. Pada akhirnya, dengan metode Robbani, akan menghasilkan manusia yang mendapat petunjuk Allah, sehingga selalu konsekuen di dalam  mengarungi kehidupannya. Allah Ta’ala berfirman,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي اْلأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ (آل عمران: 159)

“Maka disebabkan rahmat dari Robbmulah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi kasar, tenulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka di dalam urusan itu. Kemudian, apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. “(Qs. Ali Imran : 159).

 

            Berdasarkan ayat di atas, sebagai pendidik muslim, sudah barang tentu menconoh teladan utama yakni Rasulullah rsebagai pendidik ummat yang memiliki sifat, yakni cara mendidik manusia dengan: Lemah-lembut sebagai rahmat Allah Ta’ala. Jangan sekali-kali bersikap keras, apalagi kasar. Sebab, hal itu akan mengakibatkan  anak didik tidak akan  dapat menyerap materi pelajaran, sehingga tujuan pendidikan pun tidak tercapai.

 

6. Komponen Media.

            Agar anak didik lebih tertarik dengan materi pendidikan dan pengajaran serta agar memperoleh pengalaman belajar yang mendekati/ sesuai obyek aslinya/ yang sesungguhnya dan agar hal itu dapat dipelajari anak didik di dalam jumlah yang besar, maka media pendidikan sangat dibutuhkan kehadirannya. Media ini dapat menjembatani pengalaman nyata yang tidak mungkin dijangkau anak didik, sehingga dapat dihadirkan ke dalam ruang kelas. Misalnya, menyajikan peristiwa gunung meletus (dibuatlah media pendidikannya berupa film pendidikan).

            Media pendidikan ini harus dirancang  pendidik dan bekerja sama dengan tenaga ahli di bidangnya (misal: Ahli Teknologi Pendidikan). Firman Allah Ta’ala,

فَسِيرُوْا فِي اْلأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ (النحل: 36)

“Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhaikan bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan rasul-rasul.”(Qs. An Nahl :36).

 

            Ayat di atas, berupa perintah Allah Ta’ala dengan nada lemah-lembut, agar manusia suka mengadakan perjalanan ilmiah tentang sejarah orang-orang yang menolak kebenaran, sehingga mendapat adzab Allah Ta’ala di dunia. Manusia yang hidup di kemudian hari, supaya mengambil pelajaran atas sejarah, agar tidak mengulangi kesalahan yang serupa. Untuk merealisasikan perintah Allah Ta’ala tersebut, maka media pendidikan dapat dimanfaatkan untuk menunjukkan bukti-bkti ilmiah kepada anak didik, baik berupa media chart, slide, OHT maupun film pendidikan (TV, Video, CD) dan sejenisnya.

 

7. Komponen Situasi dan Kondisi Intern.

            Situasi merupakan keadaan sekitar, di tempat berlangsungya proses pendidikan. Kondisi adalah kualitas taraf kemampuan seluruh komponen yang terkait di dalam proses pendidikan. Situasi Kondisi (Sikon) yang memungkinkan terlaksananya proses pendidikan dengan baik adalah apabila memiliki daya yang kuat untuk membuat wahana yang kondusif bagi proses tersebut. Firman Allah Ta’ala,

لَّيْسَ عَلَى الضُّعَفَآءِ وَلاَعَلَى الْمَرْضَى وَلاَعَلَى الَّذِينَ لاَيَجِدُونَ مَايُنفِقُونَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُوا للهِ وَرَسُولِهِ مَاعَلَى الْمُحْسِنِينَ مِن سَبِيلٍ وَاللهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ (التوبة: 91)

“Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, atas orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa-apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas terhadap Allah dan Rosul-Nya. Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. At Taubah : 91)

 

            Ayat ini, mengisyaratkan dengan tegas, bahwa dengan kondisi yang tidak memungkinkan untuk beraktivitas (jihad, termasuk juga menuntut ilmu), maka lebih baik beristirahat. Sebab apabila memaksakan diri, dapat berakibat kepada kegagalan usaha karena kesalahan upaya manusia. Bagi mereka yang ikhlas kepada Allah dan Rosul-Nya, maka tidak akan mengambil resiko yang dapat dikirakan karena sebuah kesalahan. Sehingga, istirahat sementara waktu adalah cara terbaik, sebagai sebuah ketentuan Allah Ta’ala.

            Implikasi ayat tersebut terhadap proses pendidikan adalah pendidik tidak boleh memaksakan program/ materi pendidikan kepada anak didik, di luar jangkauan fisik dan psikhis mereka. Lebih dari itu, proses pendidikan yang berlangsung harus diupayakan  memenuhi prinsip-prinsip mendidik yang sejalan dengan iman atau taqwa. Hal ini memiliki maksud, agar pendidik tidak melampaui ketentuan dari Allah Ta’ala dan contoh Rosul-Nya (sunnah beliau).

            Adapun jalinan kerja sama antar keseluruhan komponen yang berpengaruh terhadap proses dan hasil pendidikan (seperti tersebut di atas) adalah sebagai berikut:

Setelah tujuan pendidikan dirumuskan dengan cermat, maka pendidik merumuskan suatu strategi pendidikan untuk mengoptimalkan segenap komponen yang ada, agar dapat berfungsi. Selanjutnya, mengadakan interaksi dengan anak didik dan antar anak didik, dengan menggunakan metode yang tepat dan bervariasi, disertai dengan penggunaan media pendidikan yang menarik, sehingga anak didik termotivasi untuk mendayagunakan potensi mereka. Pendidik mengelola sikon yang ada untuk menunjang proses pendidikan  di dalam mencapai tujuan  yang telah dirumuskan.

            Berdasarkan pembahasan di atas, sebagai konsekuensinya, apabila terdapat ikhtiar manusia yang kurang optimal (terbukti dari tujuan yang telah ditetapkan, tidak dicapai dengan sempurna oleh anak didik/ kualitas anak didik tidak sebagaimana yang diharapkan), maka sebagai muhasabah diri (introspeksi), perlu hal ini senantiasa dilakukan. Caranya:  Pelajari keseluruhan komponen yang terkait dengan proses pendidikan, berjalan sesuai dengan fungsinya atau belum. Kemudian, bagaimana jalinan kerja sama antar komponen yang ada.  Komponen manakah yang paling kuat berpengaruh terhadap kegagalan/ kekurangan proses dan hasil pendidikan. Dari sini, akan diketahui dan ditentukan cara penyelesaian masalahnya.

            Apabila ikhtiar maksimal telah dilaksanakan, tetapi tujuan yang telah ditetapkan tidak juga tercapai dengan sempurna/ bahkan gagal sama sekali, maka hal itu berarti kehendak manusia berbeda dengan Kehendak Allah Ta’ala. Dan sudah pasti, kehendak Allah Ta’ala itulah yang akan terlaksana. Dan apa pun yang terjadi, maka selayaknya kita menerima dan menyatakan itulah Qadarullah. Selanjutnya, kita dituntut untuk senantiasa meningkatkan upaya kita terus-menerus, tanpa mengenal putus asa, keluh-kesah dan sejenisnya. Dan tetap memohon karunia-Nya dan bertawakkal hanya kepada-Nya serta mohon ampun kepada-Nya.

 

C. Prinsip-Prinsip Pendidikan.

C .1. Prinsip Iman atau taqwa.

            Prinsip ini menekankan agar proses pendidikan yang berlangsung berazazkan sistem nilai iman atau taqwa. Meninggalkan segenap bentuk dan kemungkinan munculnya gejala fujur yang dapat menghanguskan nilai/ upaya yang selama ini dijalankan. Akhirnya, bukan tujuan yang dapat dicapai dan keuntungan dunia serta akhirat yang diraih, melainkan kerugian belaka dan gagalnya upaya kita. Allah Ta’ala telah berfirman,

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَاîقَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَاîوَقَدْ خَابَ مَنْ د َسَّاهَا(الشمس:8-9)

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) fujur dan ketaqwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”(Qs. Asy Syam: 8-10)

 

C.2. Prinsip Sumber Rujukan.

            Prinsip ke dua merupakan konsekuensi atas prinsip pertama. Karenanya, rujukan bagi sebuah kebijakan pendidikan, perumusan kurikulum dan operasional pendidikan serta perangkat-perangkat pendidikan, tidaklah boleh lepas dan bertentangan dengan  Kehendak Allah Ta’ala (Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah).

 

C.3. Prinsip Pemerataan.

            Prinsip ini menekankan bahwa menuntut ilmu atau memperoleh pelayanan pendidikan adalah sama saja, baik bagi laki-laki maupun wanita, kaya maupun miskin, masyarakat kota maupun desa. Jika pemerataan di dalam menuntut ilmu telah tersebar, maka anak-anak kita kelak, jika menghadap Robb mereka, dapat mempertanggungjawabkan hidup mereka, insya Allah. Sebab, menuntut ilmu merupakan  kewajiban yang berlaku bagi siapa saja. Rasulullah rtelah bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ (رواه بن ماجة والطبراني وابن شهاب)

Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” (HR.Ibnu Majah, Thabrani dan Ibn Syihab)

 

C.4. Prinsip Long Live Learning.

            Prinsip ini menekankan bahwa belajar tidak terikat oleh umur seseorang. Selama hayat di kandung badan, maka wajib belajar akan berlangsung terus-menerus. Rasulullah rtelah bersabda untuk setiap orang yang hendak mati pun, agar tetap dapat belajar yakni,

لَقِّنُوْا مَوْ تَا كُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ (رواه مسلم وأبو داود والترمذي والنسائي وابن ماجه وأحمد والطبراني)

“Talqinkan (ajarkanlah) orang yang hendak mati di antara kalian (dengan ucapan) Laa ilaaha illallah.”(HR. Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’I, Ibnu majah, Ahmad dan Thabrani).

 

            Apabila prinsip ini terealisir, maka orang-orang yang bersistem nilai iman atau taqwa, senantiasa akan belajar terus, sehingga kualitas diri akan dapat ditingkatkan terus. Dengan ilmu, kehidupan menjadi berkembang, senantiasa dinamis dan penuh kreativitas. Derajat hidup orang-orang yang beriman dan berilmu, akan terus meningkat, tidak hanya di sisi manusia, akan tetapi demikian juga di hadapan Allah Ta’ala. Firman-Nya,

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا إِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوْتُوْا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ (المجادلة: 11)

“Hai orang-orang yang beriman, jika dikatakan kepadamu, “Berlapang-lapanglah di dalam majlis, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al Mujaadilah : 11).

 

 

5. Prinsip Ilmu Ilahiyah.

            Prinsip ini menekankan bahwa seluruh ilmu, baik yang eksak maupun social, ilmu agama maupun teknik keduniaan adalah milik Allah Ta’ala dan bersumber dari-Nya (kecuali pengetahuan yang sifatnya fasad, seperti sihir. Maka ia adalah dari syaithon). Ilmu Allah Ta’ala sangat luas, sedangkan manusia hanya sanggup menguasai ilmu-Nya hanyalah sedikit saja (Qs.2:32). Dan adanya pandanggan yang mengatakan bahwa  ilmu adalah ciptaan manusia tertentu dan miliknya, adalah suatu kekeliruan. Manusia, tidak lain hanyalah sebatas memiliki kesanggupan untuk menemukan, merakit dan mempelajari ilmu Allah Ta’ala.

 

6. Prinsip Manfa’at dan Maslahat.

            Prinsip ini menekankan bahwa seiap akivitas pendidikan dan atau pembelajaran hendaklah memperhatikan segi  manfaat dan maslahat. Kemubadziran, pemborosan dan kemudharatan tidaklah mendapatkan tempat, sebab hal itu merupakan kesia-siaan (Qs.23:3). Rasulullah rbersabda,

عَنْ أَبِىْ هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ، قَالَ : قَالَ رَسُوْ لُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمُ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ (رواه الترمذى وبن ماجه وأحمد ومالك والطبراني)

“Dari Abu Hurairoh radhiyallohu ‘anhu telah berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallama, “Sebagian dari baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bergna baginya.” (HR. Tirmidzi, Ibn Majah, Ahmad, Imam Malik dan Thabrani).

 

7. Prinsip Keutamaan (Prioritas).

            Prinsip ini menekankan bahwa dengan adanya tahapan-tahapan  di dalam mencapai tujuan beserta kandungan materi/ bahan pendidikan dan pembelajaran dengan berbagai variasi, maka memerlukan adanya prioritas di dalam pelaksanaannya. At Tauhid (keimanan/ aqidah) sebagai suatu bidang studi merupakan prioritas dan adanya integrasi nilai iman atau taqwa ke dalam bidang studi lainnya serta praktek pendidikan adalah suatu upaya yang harus diperhatikan terlebih dahulu, sebab ia secara langsung akan mencapai tujuan pendidikan. Karena itulah, pengembangan kurikulum sebagai implementasi sistem pendidikan dan wahana kondusif bagi pelaksanaan proses pendidikan anak, harus diorganisir sebaik mungkin.

 

8. Prinsip Keseimbangan.

            Prinsip ini menekankan adanya keseimbangan, keadilan di dalam semua sisi aktivitas pendidikan (Qs.2:143). Melalui prinsip ini, gejala ekstrimitas, melampaui batas kewajaran segera dapat diatasi. Hal itu berarti, antara idealisme dan kemampuan yang ada perlu diselaraskan. Artinya, aktivitas pendidikan beroperasi sesuai dengan kesanggupan maksimal yang ada dengan tetap berusaha meningkatkan kemampuan menuju idealisme.

 

9. Prinsip Selaras dengan Hakikat Manusia.

            Pendidikan adalah upaya orang dewasa di dalam mendidik anak untuk mencapai kedewasaannya sesuai dengan fitrah diri anak didik. Prinsip ini meliputi:

9.1. Mengembangkan Fitrah.

            Rasulullah rtelah bersabda,

كُلُّ مَوْ لُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يَهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ (رواه البخاري ومسلم و أبو داود والترمذي و أحمد ومالك)

“Setiap anak dilahirkan di dalam keadaan fitrah, maka orang tuanyalah yang (kemudian) menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.”(HR. Bukhori, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Ahmad dan Malik).

 

Hadits di atas mengandung pengertian, bahwa manusia sejak lahir telah Allah Ta’ala bekali dengan naluri/ gharizah, kecenderungan dan motivasi yang selanjutnya memerlukan bimbingan, motivasi dan pengarahan serta pemeliharan, agar senantiasa berada di dalam aturan Allah Ta’ala. Juga fitrah berarti Islam/ tauhid, sehingga semenjak di dalam kandungan ibu, seorang anak telah menerima Allah Ta’ala sebagai Robbnya (Qs.&:172). Untuk merealisasikan pengakuan tersebut setelah lahir ke dunia, agar tetap di dalam kondisi fitrah, maka dibutuhkan peranan pendidik (orang tua), agar anak sanggup mempertahankan agamanya (Islam). Lalai di dalam hal ini, maka anak dapat saja menempuh jalan fujur yang merugikan dirinya, orang tua dan masyarakat luas.

 

9.2. Memelihara Kemuliaan Anak.

            Anak sebagai manusia berderajat mulia di hadapan Allah Ta’ala, apabila dibandingkan dengan makhluq lainnya. Kemuliaan tersebut disebabkan manusia dikaruniai Allah Ta’ala berupa daya intelektualitas yang tinggi. Lebih dari itu, manusia juga dikaruniai segala fasilitas hidup di dunia untuk dikelola sebagai sarana beribadah kepada Robbnya (Qs.2:29 dan 31:20). Kemudian, Allah Ta’ala tidak membiarkan manusia di dalam kebingungan di dalam mengarungi kehidupan, maka Dia mengutus Rosul-Nya sebagai suri tauladan yang membawa syari’at-Nya untuk diterapkan di muka bumi ini, sehingga manusia dapat beribadah kepada Allah Ta’ala dengan cara yang benar dan diridhoi-Nya.

            Dengan bekal intelektualitas yang tinggi, fasilitas hidup yang serba cukup dan bimbingan Rasul-Nya serta pedoman dan petunjuk hidup (Al Qur’an) dari-Nya, manusia akan dapat membedakan mana yang benar dan salah, baik maupun buruk, indah maupun jelek. Dengan hal itu pula, manusia akan sanggup menyingkap rahasia dan menemukan ilmu Allah Ta’ala untuk kemaslahatan kaumnya.

            Sebaliknya, apabila manusia tidak sanggup memanfaatkan bekal/ potensi tersebut atau menyalahgunakannya, maka manusia dapat jatuh derajatnya menjadi hina dina, lebih rendah dibanding binatang ternak (Qs.7:179). Karena itulah, pendidikan dituntut untuk sebijaksana mungkin memelihara kemuliaan anak, dengan selalu sadar akan ni’mat dan karunia Allah Ta’ala yang tidak terhitung, sadar akan keberadaan dirinya dan selalu berlomba-lomba mencari kebaikan dan ketaqwaan di sisi Allah Ta’ala (Qs.49:13).

 

9.3. Menyadarkan Tugas dan Fungsi Manusia.

            Setiap pendidik dituntut untuk senantiasa berupaya menyadarkan anak didik, bahwa ia lahir ke dunia tidaklah sia-sia dan bukan untuk bermain-main belaka, akan tetapi ia mengemban tugas dan missi Ilahi sebagai hamba Allah Ta’ala di bumi. Ia harus sanggup mengelola dirinya dan alam semesta serta seluruh penghuninya, agar selalu menjaga keserasian dan keharmonisan, sepanjang keadilan Allah Ta’ala (Qs.51:56/ 2:30).

 

9.4. Mendidik Sesuai dengan Kemampuan Intelektualitas Anak.

            Prinsip ini menekankan agar materi pendidikan/ bahan pembelajaran, hendaklah sesuai dengan kesanggupan daya nalar anak, bahasa dan karakternya. Sehingga adanya anggapan yang mengatakan, bahwa pendidikan adalah upaya transfer ilmu, pengetahuan dan ketrampilan dari orang dewasa kepada anak adalah sama saja dengan menganggap bahwa anak bagaikan tong kosong yang dapat diisi sekehendak pendidik, tanpa memperhatikan karakterisik anak, menjadi tertolak.

 مَاأَنْتَ بِمُحْدِثٍ قَوْمًا حَدِ يْثًا لاَ تَبْلُغْهُ عُقُوْلُهُمْ، إِلاَّ كَانَ لِبَعْضِهِمْ فِتْـنَةٌ ( رواه مسلم)

“Seseorang yang menyampaikan kepada suatu kaum atau golongan pembicaraan yang tidak sesuai dengan akalnya, maka hal demikian akan menimbulkan fitnah di kalangan mereka.” (HR.Muslim)

 

            Terlalu berat/ di luar jangkauan daya nalar anak di dalam perumusan materi dan proses pembelajaran, tidaklah bijaksana. Demikian pula, jika terlalu mudah dan ringan, berakibat perkembangan anak menjadi terlambat. Firman Allah Ta’ala berikut ini perlu kita perhatikan,

لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا (البقرة: 286)

“Allah tidak membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Qs. Al Baqoroh: 286).

 

9.5. Membina Kepribadian.

            Prinsip ini menekankan bahwa peranan pendidik di dalam proses pendidikan adalah mengantarkan anak meraih kedewasaannya, baik fikriyah, qolbiyah, jasadiyah maupun dieniyahnya. Apabila kedewasaan ini dapat diwujudkan, berarti kepribadian anak telah terbina dengan baik. Demikian juga akhlaq anak didik menjadi sempurna. Sebagaimana sabda Rasulullah berikut,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ اْلأَخَلاَقِ (رواه البخاري في أدب المفرد والبيهقي والطبراني وابن عبد البر)

“Sesungguhnya saya diutus untuk menyempurnakan akhlaq.” (HR. Bukhori di dalam Al Adab al Mufrod, Baehaqi, Thabrani dan Ibnu Abdil Barr).

 

 

 

BAB  I

LANDASAN  IDEAL  PENDIDIKAN

 

 

 

1. Tujuan Akhir Pendidikan.

وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّلِيَعْبُدُوْنِ (الذاريات: 56)

" Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." (Qs. adz Dzariyaat 51: 56).

 

وَإِذْقَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لاَتُشْرِكْ بِاللهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ(لقمان31: 13 )

" Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran (mendidik) kepadanya, "Hai anakku, janganlah kamu menyekutukan Allah, sesungguhnya menyekutukan Allah benar-benar kedzaliman yang besar." (Qs.Luqman 31: 13).

 

Ayat ke-56 surat ke-51 adz Dzariyaat di atas memberikan gambaran yang umum dan luas, bahwa Allah menciptakan manusia di muka bumi ini hanyalah untuk beribadah kepada-Nya. Ibadah yang dimaksud adalah segala sikap dan perilaku manusia hendaklah diniatkan karena menjalankan suruhan Allah (minallah), dilaksanakan dengan cara-cara yang sesuai dengan ketentuan Allah (billah) dan tujuan melaksanakan aktivitas tersebut di dalam rangka meraih keridhoan Allah semata (ilallah).

Sedangkan ayat ke-13 surat ke-31 Luqman di atas merupakan salah satu contoh yang diperagakan Luqman sebagai hamba Allah yang sholeh bahwa proses pendidikan dan pengajaran adalah mengarahkan dan membimbing anak didik untuk menyadari fungsi dirinya sebagai hamba Allah, bukan hamba selain-Nya. Sehingga apa pun profesi anak didik kelak, maka keimanan atau ketaqwaan akan menjadi landasan hidupnya. Pada akhirnya, kelak anak didik hidup di dalam masyarakatnya berada di dalam keadaan beribadah kepada-Nya semata.

Tujuan tersebut (hidup di dalam beribadah) merupakan suatu idealisme yang mapan. Idealisme itu sangat erat kaitannya dengan  sistem nilai yang dianut oleh  masyarakat. Hal itu mengandung pengertian, bahwa sistem nilai (taqwa) yang dianut masyarakat menjadi landasan bagi sistem/ konsep pendidikan. Tercapai tidaknya tujuan akhir pendidikan, mensyaratkan adanya sistem nilai yang sesuai dengan fitrah manusia (mengesakan Allah).

Suatu yang mustahil (sebagai misal), bila kita menanam padi dan mengharapkan buah, sementara tanahnya kering tanpa ada air setetes pun. Mengapa demikian, sebab fitrah padi adalah tumbuh di atas tanah (yang memiliki unsur sama dengan tanah) serta memiliki air yang cukup.

Fitrah manusia adalah bersih dan lurus/ mengesakan Allah/ berdienul Islam (Qs. Ar Rum 30: 30). Maka bila sistem nilai tempat  tumbuh kembangnya pendidikan dan pengajaran ternyata berlawanan dengan fitrah tersebut, maka jelaslah sudah, pendidikan itu akan terasa kering. Ia tidak akan dapat menghasilkan anak didik yang sanggup mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan yang menjadi harapan orang tua dan masyarakatnya.  Justru menjadi sebaliknya, anak didik akan cakap mengembangkan hawa nafsu dan mungkin saja dapat menjadi penghalang bagi misi keberadaannya di dunia ini. Iptek dan segala profesi yang kelak dikuasainya akan lebih banyak membuat kemudharatan bagi sesamanya dan alam semesta, dibanding manfaatnya.

 

2. Iman atau Taqwa Sebagai Landasan Sistem Pendidikan.

Iman atau taqwa merupakan sebuah sistem nilai buatan Sang Pencipta manusia. Sistem nilai ini memiliki sifat yang menyeluruh dan sempurna yang cocok dengan fitrah manusia di mana pun berada dan di dalam masa apa pun serta di dalam kondisi bagaimana pun. Ia seharusnya dilestarikan dan ditumbuhkembangkan oleh para aktivis pendidikan.

Untuk dapat melaksanakan hal itu -terutama para pendidik- dituntut untuk menyiapkan diri terlebih dahulu. Pendidik seharusnya dan sewajarnya menggembleng dirinya agar menjadi manusia yang beriman atau bertaqwa serta menguasai iptek berdasarkan jenjangnya dan memberikan keteladanan yang tulus. Untuk memenuhi tenaga pendidik yang berkualitas itulah, maka Perguruan Tinggi yang bermutu perlu segera disiapkan.

 

3. Bentuk Out Put Sistem Pendidikan.

Untuk mencapai tujuan akhir sebuah sistem pendidikan, memerlukan pencapaian tahap demi tahap tujuan yang lebih khusus. Untuk itu perlu dirumuskan tujuan yang bersifat kelembagaan suatu lembaga pendidikan tertentu. Hal ini berarti setiap institusi pendidikan yang umum dan khusus (karena memiliki spesifikasi tertentu) memerlukan rumusan tujuan institusional yang berbeda-beda antara institusi yang satu dengan yang lainnya. Pada tahapan inilah, pihak yang berwenang dan ahlinya dituntut untuk berpikir kritis, sistematis dan dinamis serta komprehensif di dalam rangka mengembangkan bentuk dan warna kualitas manusia yang dikehendaki pada zaman/ era lulusan sebuah satuan pendidikan tertentu, di masa yang akan datang. Lulusan ini diharapkan mampu mengolah dunia dengan kemajuan iptek yang berlandaskan iman atau taqwa. Akhirnya kemajuan dan penguasaan iptek dijadikan sarana untuk menopang pengabdian kepada penciptanya di dalam semua lapangan/ bidang kehidupan manusia. Pemegang kebijakan dan para ahli tersebut di atas, berarti mampu mengubah nasib kaumnya ke arah kemajuan lahiriyah dan bathiniyah (mental spiritual dan fisik material), jika berhasil merumuskan tujuan pendidikan dan konsep dan kurikulum pendidikan yang tepat dan benar. Buah yang akan dipetik dari sistem pendidikan yang demikian adalah keselamatan, kesejahteraan lahir & bathin, keamanan dan ketenangan yang sesungguhnya. Inilah rumus Islam yang sebenarnya dikehendaki semua orang.

Sedangkan kenyataannya menunjukkan, dunia sekarang telah mengalami kemajuan iptek dan munculnya manusia-manusia genius serta banyaknya penelitian canggih sebagai hasil suatu sistem pendidikan modern dengan pola pendekatan materialistik. Akibatnya, tidak aneh apabila kemerosotan moral, mental dan akhlaq telah membudaya, termasuk anak sekolahnya sekalipun. Seperti: Perang bermotif keserakahan dunia; munculnya penyakit menakutkan/ AIDS; korupsi; manipulasi; perzinaan; pembunuhan merajalela; perjudian; mabuk-mabukan; pelacuran hak azasi; penipuan; uang telah menjadi tumpuan dan tuhan; perkelaian dan pembunuhan antar pelajar telah menjadi panorama sehari-hari yang menyesakkan dada. Bagaimana sistem pendidikan yang ada dapat menjawabnya ?

 

4. Perubahan Sistem Nilai = Perubahan Tujuan Pendidikan.

Kenyataan dunia seperti digambarkan di atas, akan mengalami perubahan, manakala manusia bersedia mengubahnya. Perubahan harus dimulai dari akarnya dan menyeluruh dan tentu saja secara bertahap dan atau sekaligus jika sanggup. Sebab kerusakan yang terjadi adalah sebagai konsekuensi penerapan sistem nilai yang menyimpang. Berarti pula perubahan yang dikehendaki di dalam bentuk: Penggantian Sistem Nilai yang melandasi sistem pendidikan; Strategi & Konsep Pendidikan; Metode serta materi Pembelajarannya.

Akhirnya akan dapat diwujudkan (hasil pendidikan) yang kita cita-citakan bersama. Bukankan Allah telah menginformasikan,

إِنَّ اللهَ لاَيُغَيِّرُ مَابِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوْا مَابِأَنفُسِهِمْ وَإِذَآ أَرَادَ اللهُ بِقَوْمٍ سُوْءًا فَلاَ مَرَدَّ لَهُ وَمَالَهُم مِّن دُونِهِ مِنْ وَالٍ (الرعد: 11 )

" ..... Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia." (Qs. ar Ra’d13: 11).

 

Apabila perubahan di atas terjadi, maka pendidikan dapat menyumbangkan perannya yang besar di dalam membangun keseluruhan bidang hidup dan kehidupan manusia (peradaban). Namun, bukanlah suatu hal yang mudah untuk mengubah suatu keadaan yang telah membudaya. Perubahan itu tidak akan terjadi, jika orang-orang yang terkait langsung seperti: Pemegang kebijakan, para ahli/ tokoh pendidikan dan para tenaga lapangan, lebih senang berpangku tangan. Mereka hanya menerima dan meneruskan kondisi yang ada/ yang telah membudaya, enggan bersungguh-sungguh dengan segala daya dan upaya untuk mengubah keadaan. Bahkan telah merasa enak, nyenyak dan mapan di dalam kondisi lama (status quo).

 

5. Kebanyakan Sekolah-Sekolah Masa Kini.

Satu pertanyaan perlu dikemukakan, "Bagaimanakah upaya sekolah-sekolah yang ada sekarang ini?" Apabila kita bersedia meneliti, akan didapatkan bahwa sekolah-sekolah yang ada di dalam upaya melaksanakan proses pendidikan  dan pembelajaran siswa, tidak lagi/ kurang menyelaraskan upayanya dengan sistem nilai iman atau taqwa. Hal itu dapat dipahami, sebab sekolah hanyalah salah satu instrumen pelaksana program pendidikan yang telah ditetapkan dari atas. Akibatnya, masyarakat yang peduli terhadap perubahan ke arah kemajuan lahiriyah yang berlandaskan kemajuan rohaniah menjadi prihatin terhadap kenyataan yang ada. Betapa tidak, kenyataan menunjukkan bahwa sekolah lebih menitikberatkan dan menuntut anak didik untuk maju di dalam aspek lahiriyah, sekaligus mengesampingkan/ mengecilkan aspek mental rohaniah. Kemajuan lahiriyah tidak dilandasi dan dibarengi oleh kemajuan mental spiritual yang baik, sehingga melahirkan anak didik yang pandai otaknya, akan tetapi kering jiwanya.

Akhirnya, terbentuklah manusia-manusia terdidik bagai mesin, sebab kini sekolah bagaikan pabrik. Lahirlah manusia robot yang tidak lagi hidup merdeka, tetapi dikendalikan oleh sesama manusia. Hidup tidak lagi dapat dikendalikan oleh Yang Berhak mengendalikan. Padahal hidup dan mati serta segala fasilitas hidup adalah dari Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Mengapa manusia tidak rela dikendalikan-Nya? Mengapa sistem pendidikan tidak mengacu kepada-Nya dan mengapa sistem nilai iman atau taqwa dilupakan? Manusia-manusia yang berkepribadian terpecah (tidak seimbang antara kemajuan lahiriyah dengan kemampuan jiwanya), kian hari semakin bertambah. Sungguh hal itu harus segera diakhiri.

 

6. Pendidikan Merupakan Wahana Pelestarian Sistem Nilai.

Sistem nilai tertentu akan menuntut sistem pendidikan yang dikembangkan, strategi yang ditempuh, teknik yang digunakan, materi pelajaran sebagai muatannya, kebijakan-kebijakan pendidikan dari tingkat satu lembaga pendidikan hingga tingkat pusat dan sistem kurikulum secara menyeluruh, tidaklah boleh bertentangan dengannya.

Oleh karena itu, iman atau taqwa sebagai satu sistem nilai hendaklah telah terintegrasi dengan jelas dan transparan di dalam mengembangkan sistem pendidikan; di dalam menentukan strategi yang ditempuh; di dalam menetapkan teknik/ metode pembelajaran siswa; di dalam rumusan-rumusan materi pelajaran; di dalam kebijakan-kebijakan pendidikan dan di dalam menetapkan sistem kurikulum yang dikembangkan.

Dengan demikian, dapat diharapkan sistem nilai iman atau taqwa akan menjadi lestari, sekaligus kelemahan-kelemahan sistem pendidikan yang berlandaskan sistem nilai lama, dapat diperbaiki. Di kemudian hari, insya Allah, akan lahir manusia-manusia yang benar-benar terdidik dengan baik yaitu lahirnya manusia yang seimbang kepribadiannya. Ia akan memiliki kemajuan lahiriyah yang pesat dengan diimbangi oleh kemajuan bathiniyah yang unggul. Ia dapat menyelaraskan dan tahu batas antara kepentingan-kepentingan pribadi dengan kepentingan-kepentingan masyarakat, sehingga kerusakan-kerusakan yang telah membudaya (kerusakan akhlaq seperti telah tersebut di atas) tidak lagi terulang dan bahkan dapat diberantas.

Hanya sistem nilai iman atau taqwa sajalah yang dapat mencegah dan menghentikan setiap pribadi yang menyimpang. Memang antara sistem nilai yang rusak (fujur) dengan sistem nilai yang baik (taqwa) senantiasa terjadi tarik-menarik, baik di dalam diri pribadi maupun di dalam masyarakat luas. Namun bagi mereka yang telah berlandaskan sistem nilai iman atau taqwa, maka potensi fujur dapat ditekan. Allah telah berfirman,

فَأَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوَاهَا{قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا{وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا ( الشمس:8 - 9)  

"Maka Allah yang mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang telah menyucikan jiwanya dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya." (Qs. asy Syams 91:8-10)

 

Melestarikan sistem nilai iman atau taqwa adalah tergolong di dalam menyucikan jiwa dan hal itu merupakan suatu keberuntungan dunia hingga akhirat. Siapakah yang tidak ingin beruntung?

 

7. Landasan Konstitusional dan Operasional Pendidikan.

Kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa untuk membangun dan mengembangkan sistem pendidikan, harus menggunakan landasan sistem nilai iman atau taqwa dengan tujuan akhir terwujudnya manusia yang senantiasa mengerahkan segala daya dan upaya di dalam mengupayakan kesejahteraan dan kedamaian ummat manusia di seluruh lapangan kehidupan, baik tingkat regional, nasional maupun internasional, di dalam suasana kasih sayang dan persaudaraan, sebagai wujud ibadah kepada Allah Ta’ala.

Iman atau taqwa sebagai landasan sistem pendidikan akan dapat menuntun sekaligus menuntut warga didik (para pemegang kebijakan, para ahli dan pelaksana serta para siswa) untuk senantiasa menerapkan  pendidikan yang sejalan  dengan kebijakan Allah Yang Esa sebagai pencipta manusia. Bahkan menuntut agar warga didik melestarikan sistem nilai tersebut. Sebab dengan ketiadaan nilai-nilai iman atau taqwa pada diri warga didik, maka hilanglah/ merugilah suatu lembaga pendidikan. Kembali kepada fitrah manusia (yang bersistem nilai iman atau taqwa) merupakan suatu keharusan sebelum kita memikirkan dan merumuskan konsep pendidikan, apalagi melaksanakannya.

Adapun landasan konstitusional sebuah sistem/ konsep pendidikan adalah merupakan kebijakan Sang Pencipta manusia itu sendiri. Sebab Allah Ta’ala-lah yang Maha Tahu tentang manusia. Selanjutnya mengikuti contoh yang telah diperagakan oleh Rasulullah r. Sebab beliaulah orang yang ditunjuk Allah Usebagai operasionalisasi ‘kebijakan’ Allah U. Kemudian memperhatikan upaya para cerdik pandai/ ulama pada bidangnya masing-masing untuk masa kini di tempat sebuah lembaga pendidikan dibangun dan dikembangkan. Sudah barang tentu landasan ini lebih disesuaikan dengan situasi dan kondisi kemampuan setiap wilayah dan keanekaragaman sumber daya  yang tersedia. Baik sumber daya manusia, dana, material maupun yang lainnya.

Perlu dikemukakan di sini bahwa, sumber daya manusia yang seharusnya ada di dalam sistem pendidikan adalah mereka yang memiliki karakteristik:

1. Berlandaskan sistem nilai iman atau taqwa.

2. Konsisten memperjuangkan sistem nilai tersebut di atas.

3. Berakhlaq mulia.

4. Menguasai ilmu di bidangnya masing-masing.

 

Sumber Daya Manusia di atas, diharapkan akan sanggup mengadakan pembaharuan dan merumuskan sistem pendidikan dan kurikulum yang dapat mengantarkan anak didik agar memiliki iman atau taqwa yang kokoh dan iptek yang tinggi. Melalui kemampuan tersebut, pada masanya, anak didik akan sanggup berfungsi sebagai pengolah bumi Allah ini. Ia dapat membawa kemaslahatan ummat manusia sesuai kehendak Sang Pencipta alam semesta.

Landasan operasional sebuah sistem pendidikan merupakan tanggung jawab para ahli secara khusus, agar rumusan pendidikan yang akan dikembangkan benar-benar proporsional. Hasil kerja para ahli ini dijadikan suatu kebijakan pendidikan yang diberlakukan menyeluruh mulai tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Sebagaimana sabda Rasulullah r, bahwa suatu urusan pekerjaan diserahkan kepada ahlinya.

إِذَا وُسِّدَ اْلأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِِهِ فَانْتَظِرِالسَّاعَةَ (رواه البخارى ومسلم وهذا لفظ البخاري الرقم 60)

Jika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya.” (HR. Bukhori dan Muslim. Ini lafadz Imam Bukhari dalam kitab al Ilmi No.60 ).

 

 

 

BAB  II

PENGERTIAN  PENDIDIKAN

 

1. Definisi Pendidikan.

Banyak definisi pendidikan diajukan para pakar pendidikan. Pada tulisan ini, penulis menampilkan pendapat yang menyatakan, bahwa pendidikan merupakan usaha sadar orang dewasa untuk membimbing, mengarahkan atau mengondisikan orang yang belum dewasa agar mencapai kedewasaannya. Pengertian ini masih umum, artinya bentuk kedewasaan yang dimaksud tergantung kepada sistem nilai yang melandasi konsep pendidikan yang melingkupinya. Bila konsep pendidikan yang hendak dikembangkan  berlandaskan sistem nilai iman atau taqwa, maka bentuk kedewasaan yang dimaksudkan tentu berbeda dengan bentuk kedewasaan yang hendak dikembangkan oleh konsep pendidikan yang berlandaskan sistem nilai fujur.

 

2. Perbandingan Bentuk Kedewasaan.

Bentuk kedewasaan yang dihasilkan oleh sebuah konsep pendidikan yang berlandaskan sistem nilai fujur adalah kedewasaan yang tidak seimbang dan kerdil. Artinya matang pada satu aspek kepribadian (logika berkembang misalnya), akan tetapi aspek emosi dan sisial cenderung kepada pengabaian nilai-nilai moral dan asusila (fujur). Inilah bentuk kedewasaan yang rusak/ tidak seimbang dan cacat norma.

Sedangkan bentuk kedewasaan yang dihasilkan oleh sebuah sistem pendidikan yang berlandaskan sistem nilai iman atau taqwa adalah lahirnya manusia-manusia yang keseluruhan aspek kepribadiannya (baik logika, etika, estetika, moral dan sosial) berkembang secara seimbang dan stabil, seiring dan sejalan secara harmonis, sehingga tidak lagi muncul berbagai penyakit akhlaq/ moral dan sosial.

 

2.1. Bentuk Kedewasaan.

Bentuk kedewasaan berikut merupakan hasil dari konsep pendidikan  yang berlandaskan sistem nilai fujur, disertai dengan komentarnya:

2.1.1. Dewasa Fisik.

Dewasa fisik berarti telah matang bentuk pertumbuhan jasad yang berguna untuk mengemban tugas-tugas hidupnya. Bentuk kedewasaan ini ditandai dengan perubahan panjang/ tinggi tubuh seseorang, telah tumbuh ciri-ciri sekunder, seperti tumbuh kumis, muncul anak tekak, tumbuh rambut di tempat tertentu dan telah bermimpi, bagi anak laki-laki. Sedangkan bagi anak perempuan, ciri kedewasaan fisik terletak pada pertumbuhan buah dada dan mulai menstruasi serta tumbuh rambut pada bagian tertentu.

Komentar:

Sesungguhnya, kedewasaan fisik seperti digambarkan di atas bukan merupakan pengaruh langsung dari proses pendidikan. Artinya, pertumbuhan fisik tersebut terjadi secara alamiah (hukum yang telah Allah berlakukan bagi makhluq-Nya). Sehingga pendidikan memberikan kontribusi yang kecil terhadap kedewasaan fisik seseorang.

 

2.1.2. Dewasa Psikhis.

Kedewasaan psikhis berciri dapat membedakan perbuatan benar dan salah; baik-buruk; indah-jelek dan memiliki moralitas yang tinggi. Ciri yang terakhir ini (moralitas yang tinggi) dipandang sebagai perwujudan praktek keagamaan (hubungan manusia dengan Tuhannya).

Komentar:

Dengan adanya issu bahwa persoalan agama adalah masalah pribadi, maka pendidikan dan pembinaan agama menjadi urusan keluarga. Sehingga hal itu menyebabkan pendidikan agama di sekolah-sekolah semakin disisihkan dan pelajaran -pelajaran lainnya menjadi jauh dari nilai-nilai iman atau taqwa. Lebih memprihatinkan lagi, apabila kita memperhatikan praktek keseharian di sekolah-sekolah, adalah steril dari ruh dan nilai taqwa. Praktek keimanan hanya terbatas pada ritual seremonial belaka. Hal itupun sering dilalaikan apabila ada kesibukan lain. Bahkan banyak yang tak menghiraukannya. Praktek keseharian di dalam keluarga dan masyarakat luas, kebanyakan tidak jauh berbeda. Pendidikan agama di sekolah dikebiri dan pembinaan agama di keluarga dicurigai. Akankah ada motif hendak melenyapkan landasan nilai iman atau taqwa dengan pembungkus seakan diberi kesempatan berkembang ?

Agama hanya dipandang sebagai bagian, bahkan sub bagian dari sistem yang berlaku. Mereka memandang iman atau taqwa bukan  secara menyeluruh dan apa adanya. Hal itu mungkin cocok di negeri Barat, tetapi tidak di negeri Timur (khususnya Indonesia). Firman Allah jalla wa ‘ala,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوْا فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُوْا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينُُ ( البقرة: 208)

"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syetan. Sesungguhnya syetan-syetan itu musuh yang nyata bagi kamu." (Qs. Al Baqoroh: 208).

 

2.1.3. Dewasa Sosial.

Ciri kedewasaan yang ke tiga adalah dewasa di bidang sosial. Pengertiannya adalah bahwa anak didik diharapkan setelah mengikuti program pendidikan tertentu, mereka akan memiliki kedewasaan bersikap dan bertindak di masyarakat. Mereka dapat membawa diri mereka untuk dapat berperan serta di dalam menumbuhkem bangkan masyarakat sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Baik norma agama, adat-istiadat, hukum dan kesusilaan.

Komentar:

Apabila kita bersedia meneliti dengan sedikit seksama, akan tampak kerancuan semakin meruncing tanpa diperuncing. Bagaimana mungkin berbagai norma tersebut akan dapat direalisir anak didik, sedangkan antar norma tersebut satu dengan yang lainnya terdapat perbedaan yang sangat mencolok, bahkan bertentangan walau tanpa harus dibeda-bedakan dan dipertentangkan.

Norma adat-istiadat dan kesusilaan adalah lebih merupakan warisan nenek moyang secara turun-temurun. Norma hukum merupakan warisan kaum penjajah. Sedangkan norma agama (Islam) hanya baru sebatas dipelajari, tanpa pernah dipraktekkan, padahal norma tersebut merupakan produk Allah pencipta dan pemberi segala fasilitas hidup manusia.

Lalu, bagaimanakah bentuk kedewasaan yang dikehendaki di dalam konsep pendidikan yang berlandaskan sistem nilai iman atau taqwa? Berikut ini uraian singkatnya:

1. Dewasa jasmaniah.

Dewasa jasmaniah mengandung pengertian pertumbuhan jasad yang matang secara potensial alamiah, maupun potensial efektif. Kematangan potensial alamiah merupakan ketentuan/ syarat atau sunnatullah yang telah pasti adanya, tanpa harus diupayakan secara khusus oleh manusia (bukan merupakan produk manusia). Kematangan potensial efektif adalah pelengkap atas pertumbuhan potensial alamiah.       Gabungan keduanya menjadikan anak didik dapat memiliki keunggulan khusus dibanding dengan anak didik yang hanya matang potensial alamiahnya saja. Keunggulan khusus tersebut diperuntukkan sebagai persiapan untuk mengemban tugas hidupnya di dunia ini secara optimal dan tugas khusus di dalam menegakkan kebenaran dan keadilan dengan berlandaskan iman atau taqwa.

Kematangan potensial efektif inilah yang terutama harus diupayakan oleh pendidikan. Untuk itu Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallama telah menganjurkan, memberi tahu dan memerintahkan serta mencontohkan bahwa  belajar berlari, berenang, memanah (menembak) dan berkuda adalah penting.

 

2. Dewasa Qolbiyah.

Inti pengertian dewasa qolbiyah adalah hati yang lunak/ jinak di hadapan Allah Ta’ala, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman atau bertaqwa, sekaligus muncul hati yang tegas dan tegar, jika berhadapan dengan bentuk-bentuk penyimpangan dari iman atau taqwa. Dari hati yang demikian, akan muncul sikap yang dapat mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk berdasar sistem nilai iman atau taqwa tersebut. Dengan demikian, segala perilakunya dikontrol oleh hati yang jernih sebagai celupan Allah Ta’ala.

Rasulullah rtelah bersabda,

أَلآ وَإِنَّ فِيْ الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كَلُهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُهُ أَلآ وَهِيَ الْقَلْبُ (رواه البخاري مسلم و أبو داود والنسائي و البيهقي )

"Ingatlah bahwa di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, yang apabila baik, maka baiklah segala perbuatannya dan apabila segumpal daging itu buruk, maka buruklah segala perbuatannya. Ketahuilah, bahwa segumpal daging itu adalah hati." (HR. Bukhori, Muslim, Ab Daud, an Nasa’I, dan al Baehaqi).

 

Dari hati yang tunduk kepada penciptanya, akan muncul pula akhlaqul karimah/ akhlak yang mulia sebagai buah iman atau taqwa.

 

3. Dewasa fikriyah.

Pengertian mendasar atas kedewasaan berpikir seseorang adalah akan tampak pada saat seseorang menghadapi problematika hidup sesuai dengan taraf dan irama perkembangannya. Artinya kualitas kedewasaan seseorang tidak akan sama satu dengan lainnya. Walau demikian, kedewasaan berpikir seseorang dapat diketahui dari pendayagunaan  potensi intelektualitasnya (ingatan, pemahaman, aplikasi, analisa, sintesa, evaluasi) di dalam menghadapi setiap permasalahan. Berarti, seseorang dapat dikatakan dewasa fikriyah, menakala ia sanggup menggunakan potensi kecerdasannya untuk menemukan strategi dan teknik penyelesaian masalahnya disertai dengan penanggulangan atas beberapa efek atas keputusan yang telah diambil. Kemampuan menanggulangi beberapa efek atas keputusan yang diambil itu merupakan bukti tingkat kedewasaan seseorang sampai pada tahap berkualitas. Manusia yang demikian inilah yang selalu Allah Ta’ala gambarkan dengan kata-kata: Apakah engkau tidak berpikir, apakah engkau tidak memahaminya, apakah engkau tidak berakal, dan sejenisnya.

لَوْ أَنزَلْنَا هَذَا القُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللهِ وَتِلْكَ اْلأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ ( الحشر: 21)

"Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah-belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir." (Qs. Al Hasyr:21).

 

Semakin besar permasalahan hidup manusia, maka untuk menanggulanginya dibutuhkan kualitas berpikir yang makin tinggi pula. Semakin maju cara berpikir seseorang, maka akan semakin berkembanglah taraf peradaban manusia. Sebaliknya, ketidakberdayaan seseorang untuk mengembangkan potensi kecerdasannya, mengakibatkan keterbelakangan peradaban. Kemampuan berpikir merupakan ciri khas manusia yang membedakannya dengan makhluq lain. Ketidakpedulian di dalam urusan ini akan mengakibatkan manusia terjatuh ke lembah kebinasaan. Sebaliknya, upaya mengembangkan kemajuan pikir seseorang tanpa dibarengi dengan kendali yang wajar (wahyu), menyebabkan manusia itu jatuh ke dalam jurang kenistaan (fujur).

 

4. Dewasa Dieniyah.

Yang dimaksud dengan dewasa dieniyah merupakan kesanggupan seseorang memiliki keimanan yang lurus dan mapan karena didasari atas pemahaman (ilmu) terhadap kalimat tauhid, menerima hatinya (yakin) dan berani membuktikan keimanannya di dalam kehidupan sehari-hari dengan berbagai resikonya. Firman Allah Ta’ala,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لآإِلَهَ إِلاَّاللهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ (محمد: 19)

"Maka ilmuilah/ pahamilah, bahwa sesungguhnya tiada ilah yang haq, melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi dosa orang-orang mu'min laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempatmu berusaha dan tempat tinggalmu." (Qs.Muhammad:19).

 

Rasulullah rbersabda,

بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ وَحَجِّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً (رواه البخارى ومسلم و الترمذي والنسائي وأحمد وبن حزيمة والطبراني )

 "Islam dibangun atas lima dasar yaitu: Bersyahadat bahwa tidak ada tuhan melainkan Allah dan bersyahadat bahwa Muhammad adalah Rasulullah dan mendirikan sholat, mengeluarkan zakat, shoum Ramadhan dan berhaji jika kuasa." (HR. Bukhori, Muslim, Tirmidzi, an Nasa’I, Ahmad, Ibn Khuzaemah dan Thabrani).

 

Orang dikatakan beriman atau bertaqwa, apabila memiliki minimal keilmuan Islam secara menyeluruh tentang dasar-dasar dien (Qs.Muhammad:19), lalu meyakini ilmunya (Qs.Al Jaatsiyah: 20) kemudian berani mempraktekkan keyakinannya di dalam semua aspek kehidupannya. Manusia dengan gambaran seperti inilah merupakan manusia yang dewasa dieniyahnya (agamanya).

Kemudian, kesatuan antara dewasa jasadiyah, fikriyah, qolbiyah dan dieniyah di dalam diri seseorang, akan menghasilkan insan kamil (paripurna) yang dicita-citakan dunia pendidikan. Insan kamil inilah yang akan sanggup menyelaraskan dan menyeimbangkan potensi jasadiyah, fikriyah, qolbiyah dan dieniyahnya di dalam bersikap dan berperilaku sehari-hari di dalam hidup sebagai peribadi, anggota keluarga, anggota masyarakat maupun di dalam lingkungan yang lebih luas lagi. Insan kamil ini di dalam hidupnya selalu dibimbing oleh wahyu, sehingga ia berada di dalam kebaikan di dunia dan akhirat, insya Allah.

 

 

 

 

 

 

BAB  III

PENDIDIKAN SEBAGAI SISTEM

 

1. Pengertian Pendidikan Sebagai Sistem.

وَإِذْقَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لاَتُشْرِكْ بِاللهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (لقمان:13)

"Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran (mendidik) anaknya, "Hai anakku, janganlah kamu menyekutukan Allah, sesungguhnya menyekutukan Allah benar-benar kedzaliman yang besar." (Qs. Luqman :13).

 

Juga sabda Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallama,

عَنْ بْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِيْ سَعِيْدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِيْهِ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ ثُمَّ لَمَّا عَمَلاً أَبَا طَالَبٍ اَلْوَفَاةُ جَاءَهُ رَسُوْلُ اللهِ  صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  فَوَجَدُ عِنْدَهُ أَبَا جَهْلِ بْنَ هِشَامٍ وَعَبْدَ اللهِ بْنَ أَبِيْ أُمَيَّةَ بْنَ الْمُغِيْرَةِ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  لِأَبْي طَالِبٍ   يَا عَمِّ  قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ كَلِمَةٌ أَشْهَدُ لَكَ بِهَا ثَمَّ اللهِ فَقَالَ أَبُوْ جَهْلٍ وَعَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِيْ أُمَيَّةَ يَا أَبَا طَالِبٍ أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَلَمْ يَزَلْ رَسُوْلُ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ وَيَعُوِّدَانِ بِتِلْكَ الْمَقَالَةِ حَتَّى قَالَ أَبُوْ طَالِبٍ آخِرَ مَا كَلَّمَهُمْ هُوَ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَأَبِىْ أَنْ يَقُوْلَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَا وَاللهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْكَ فَأَنْزَلَ اللهُ تَعَالَى فِيْهِ مَا كَانَ لِلنَّبِيَّ الآية (رواه البخاري و مسلم وابن ماجه وأحمد وغيرهم)

 

"Ibn Syihab berkata bahwa Sa’id bin Musayyab telah mendapatkan berita dari ayahnya, "Ketika Abu Tholib mendekati kematiannya, maka datang Rasulullah saw dan di sana ada Abu Jahl bin Hisyam beserta Abdullah bin Abi Umayah bin Al Mughiroh, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Abu Tholib, "Wahai pamanku, katakanlah Lailahaillah, satu kalimat yang mana aku jadikan saksi untukmu di sisi Allah. Lalu Abu Jahl dan Abdullah bin Abi Umayyah berkata, "Hai Abu Tholib, apakah engkau akan meninggalkan agama Abdul Mutholib ?" lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun terus menawarkan  kepada Abu Tholib untuk mengucapkan kalimat tersebut dan kedua orang itu menyanggah kembali, sehingga akhirnya Abu Tholib berkata, bahwa ia tetap pada agama Abdul Mutholib dan menolak kalimat Lailahaillah. Lalu nabi shallallahu ‘alaihi bersabda, "Demi Allah saya tetap membacakan istighfar untukmu selama aku tidak dilarang untuk itu." Maka kemudian Allah menurunkan Surat At taubah ayat 113 sebagai larangan bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan orang beriman lainnya untuk memintakan ampun bagi orang musyrik, sekalipun saudaranya." (HR.Muttafaqun Alaihi dan Ibn Majah, Ahmad, ath Thabrani dan al Hakim).

 

-------------------------

 

Sistem berbeda dengan cara. Cara bersinonim dengan teknik atau metode atau seni. Sistem merupakan gabungan beberapa komponen yang saling berinteraksi sesuai dengan fungsinya masing-masing di dalam rangka mencapai tujuan sistem tersebut.

Pendidikan sebagai sistem berarti memandang sektor/ bidang pendidikan secara menyeluruh dan utuh sebagai suatu sistem. Sistem ini di dalam pelaksanaannya berkaitan dan saling berinteraksi dengan sistem lain  di dalam sebuah supra sistem. Oleh karena itu, pendidikan berkaitan erat dengan sistem nilai yang berlaku (iman atau taqwa), politik, sosial, ekonomi dan bidang hankam di dalam sebuah masyarakat. Stabilitas bidang-bidang kehidupan tersebut akan berpengaruh terhadap rumusan dan pelaksanaan sistem pendidikan. Demikian pula sebaliknya, stabilitas sistem pendidikan (karena berlandaskan sistem nilai iman atau taqwa) akan berpengaruh terhadap stabilitas bidang lainnya. Semuanya berkait erat di dalam rangka mewujudkan tujuan bersama.

Adapun ayat 13 surat Luqman di atas, manakala dipelajari, ternyata merupakan sebuah praktek pendidikan di dalam keluarga. Di dalamnya terdapat beberapa komponen, seperti: Komponen ayah sebagai pendidik (yaitu Luqman); Komponen anak sebagai anak didik (anak Luqman); Komponen metode (yaitu lemah lembut, walau isinya larangan, tampak dari teks bahasa tersebut); Komponen tujuan (tampak dari keinginan Luqman agar anaknya menauhidkan Allah semata, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun); Komponen materi (pesan yang disampaikan Luqman) dan komponen situasi dan kondisi (saat berlangsungnya proses pendidikan dan keadaan/ kualitas semua komponen serta lingkungan).

Sedangkan ayat 113 surat At Taubah dan hadits riwayat Bukhori & Muslim di atas, menggambarkan pula sebuah praktek pendidikan yang berupa mendewasakan aqidah Abu Tholib dari jahiliyah kepada Islam, hal itu juga merupakan sebuah sistem. Rasulullah radalah sebagai da'i (komponen pendidik), Abu Tholib, paman Rasulullah rsebagai mad'u (komponen peserta didik), Dienul Islam merupakan tujuan dari proses da'wah (komponen tujuan), pesan yang disampaikan Rasulullah r  (komponen materi), dialog merupakan cara yang Rasulullah rlakukan (komponen metode), situasi saat berlangsungnya proses da'wah adalah di rumah mad'u (peserta didik) di dampingi pihak lain yang berpengaruh terhadap berlangsungnya proses da'wah (komponen situasi) serta keadaan mad'u/ peserta didik yang sedang sakit (komponen kondisi) disertai kegigihan pihak lain yang menggagalkan tujuan (Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah memprovokasi Abu Tholib, agar tidak menerima da’wah Rasulullah r).

 

2. Komponen-Komponen Pendidikan.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa komponen-komponen yang terdapat di dalam sebuah pendidikan adalah:

1. Tujuan.

2. Pendidik.

3. Anak/ peserta didik.

4. Metode/ cara.

5. Materi/ bahan.

6. Situasi dan Kondisi.

7. Media/ alat bantu rekayasa pendidik.

Pendidikan sebagai sebuah sistem dapat digambarkan sebagai berikut :

 

 
 

 

 

 


Tujuan

Anak Didik

Pendidik

Materi

                                     

 

 
 

 

 

 

 


Penjelasan diagaram di atas:

1. Komponen Tujuan.

Fitrah manusia dewasa yang sehat mengatakan bahwa setiap aktivitas manusia, tidak akan  lepas dari sesuatu yang diinginkan/ dituju. Dengan memiliki tujuan, setiap aktivitas manusia menjadi terarah. Demikian juga, setiap potensi yang dimilikinya akan senantiasa  didayagunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Tujuan akhir suatu sistem pendidikan yang fitriah tidak lain adalah mengajak manusia untuk berperilaku hidup di dunia ini berada di dalam  kebaikan dan ketaqwaan. Berarti pula, hidupnya berada di dalam keadaan beribadah kepada penciptanya.

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لاَتَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللهِذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَيَعْلَمُونَ (الروم: 30)

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada dienullah, (tetaplah atas ) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah itu. (Itulah) dien yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (Qs. Ar Ruum :30).

 

Proses pendidikan yang mengarahkan manusia agar tetap pada fitrahnya, sulit untuk diwujudkan, disebabkan peranan syetan yang selalu menggoda. Pendidikan menghadapi karang penghalang yang besar, sehingga tidak mengherankan, apabila komponen tujuan ini menjadi sangat ideal dan sulit dicapai di dalam  situasi masyarakat fujur.

 

مُنِيبِيْنَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوْهُ وَأَقِيمُوْا الصَّلاَةَ وَلاَتَكُوْنُوْا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (الروم: 31)

"Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertaqwalah kepada-Nya serta dirikanlah sholat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah (musyrik)." (Qs.Ar Ruum 31).

 

Dari ayat itu, tampaklah bahwa pendidikan meletakkan fungsinya sebagai suatu aktivitas yang mengembalikan manusia kepada fitrahnya, setelah tergelincir oleh godaan syetan. Sudah menjadi sunnatullah, bahwa manusia dewasa dituntut untuk mendidik anak secara optimal, sedangkan masalah tujuan pendidikan tercapai atau tidak adalah menjadi Kehendak Allah.

 

2. Komponen Pendidik.

Pendidik/ murrobi/ da'i merupakan sosok manusia beriman yang berfungsi membimbing, mengarahkan, menunjukkan, mengajak dan menyediakan kondisi-kondisi yang membuat anak didik/ mad'u menyiapkan dirinya meraih tujuan hidup yang menjadi fitrahnya.

Pendidik ini pula yang seharusnya menjadi teladan nyata di dalam kehidupan yang dapat diamati anak didik, sebagai figur penghubung terhadap figur ummat yang ideal (Rasulullah r). Pendidik jualah yang seharusnya  bersama-sama anak didik berinteraksi di dalam rangka memotivasi anak didik meraih tujuannya. Pendidik/ da'i/ murrobi merupakan  ujung tombak yang dapat menjembatani anak didik untuk bersistem nilai iman atau taqwa. Hal itu merupakan  bentuk usaha/ ikhtiar pendidik sebagai tanggung jawab yang diamanatkan Allah Azza wa Jalla. Adapun berhasil tidaknya anak didik meraih tujuannya, sehingga hidupnya senantiasa di dalam ibadah kepada Allah, merupakan persoalan hidayah/ petunjuk Allah. Firman-Nya,

مَن يَهْدِ اللهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَن يُضْلِلْ فَلن تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُّرْشِدًا (الكهف: 17)

"Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapat seorang pemimpin pun yang akan dapat memberi petunjuk kepadanya." (Qs.Al Kahfi 18 :17).

 

Peranan pendidik adalah sebatas berusaha mengantarkan anak didik untuk memperoleh hidayah Allah Ta’ala. Rasulullah rpun tidak sanggup untuk meng-Islamkan pamannya, karena memang beliau adalah pendidik/ da'i, bukan Allah Ta’ala, sehingga memberi petunjuk adalah hak mutlak Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

3. Komponen Anak Didik.

            Anak didik merupakan sosok manusia yang belum dewasa (mungkin fikrohnya atau jasadnya atau qolbinya atau diennya dan atau keseluruhannya) yang secara aktif berkiprah atau meraih tujuan hidupnya. Ia dituntut untuk mendayagunakan segenap potensi positif pemberian Allah Ta’ala. Ia adalah makhluq Allah Ta’ala yang bersifat potensial untuk mengembangkan jalan fujur atau jalan taqwa. Ia diberi kebebasan secara bertanggung jawab oleh Allah Ta’ala. Artinya, apabila ia memilih jalan fujur berarti tujuan hidup yang sesuai dengan fitrahnya, tidak akan pernah tercapai. Sebagai konsekuensinya, ia harus siap mempertanggungjawab kannya di hadapan Allah Ta’ala kelak di Yaumil Akhir.

            Dengan demikian, peranan anak didik adalah mengerahkan segenap potensi yang merupakan karunia Allah Ta’ala untuk memilih jalan manakah yang akan dikembanmgkan. Ia, di dalam perannya dibantu oleh pendidik, agar potensi fujur dapat ditekan dan potensi taqwa dapat dikembangkan.

            Selain itu,  ia pun akan senantiasa berinteraksi dengan sesama anak didik dan lingkungan (teman sebaya, orang tua dan orang lain serta situasi dan kondisi geografis, sosial dan politik). Proses interaksi tersebut dapat memperlancar atau menghambat pencapaian tujuan pendidikan.

            Interaksi dengan lingkungan yang menghambat proses pendidikan, biasanya terlihat, terdengar dan terasa mengenakkan (ni’mat) bagi anak, walau hanya sekejap. Anak didik yang belum dapat menangkap makna yang sesungguhnya dari setiap fenomena yang ia berinteraksi dengannya, merupakan suatu yang berbahaya dan mengancam kesuksesan hidup anak kelak. Oleh karena itu, anak membutuhkan kehadiran orang dewasa yang bijaksana –yang sudah seharusnya berperan sebagai pendidik- untuk membimbingnya. Namun sayang, sungguh teramat sayang, di dalam masyarakat yang telah melacurkan nilai taqwa dan diganti dengan nilai fujur, maka tidak semua orang dewasa memperhatikan hal ini. Bagaimana mungkin akan menjadi anak yang sholeh/ sholehah, yang akan berguna bagi diri anak, keluarga dan masyarakatnya, kalau anak didik ini diracuni di dalam jalan fujur di tengah masyarakatnya serta hampir seluruh orang dewasa membiarkannya ?

 

4. Komponen  Materi  Pendidikan.

            Inti pesan/ materi pendidikan yang dibawa para nabi yang harus diteruskan oleh para pendidik (da’i) adalah seperti yang tergambarkan di dalam Qs.Ar Ruum ayat 30-31 di atas atau seperti tercantum di dalam Firman Allah Ta’ala,

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ  الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَآءَ بِنَآءًوَأَنزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلاَ تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَندَادًا وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ (البقرة: 21-22)

“Hai manusia, ibadahilah Robbmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaaqwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atapnya dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit. Lalu Dia menghasilkan dengan air hujan itu segala buah-buahan sebagai rizki untukmu Karena itu, janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah (syirik), padahal kamu mengetahui.” Qs. Al Baqoroh : 21-22).

 

            Ayat di atas memberi petunjuk, bahwa Allah Ta’ala memberikan amanat agar manusia beribadah kepada-Nya semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Derajat yang akan diperoleh manusia yang telah beribadah kepada Allah adalah taqwa. Pada sisi lain, Allah Ta’ala seakan mengungkap, bahwa tidak pada tempatnya apabila manusia beribadah kepada selain-Nya. Sebab tidak ada yang sanggup menciptakan manusia dan memberikan segenap fasilitas hidup selain-Nya. Ungkapan (firman) Allah Ta’ala tersebut, pada hakikatnya menghujat manusia, sebab sebenarnya manusia telah memahami, bahwa dirinya tidaklah pantas untuk menyekutukan Allah Ta’ala dengan apa pun dan memang tidak ada yang dapat menandingi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

            Di dalam kitabnya –At Tauhid- Syaikh At Tamimi, setelah membawakan Qs. Adz Dzariyaat: 56 ; An Nahl : 36 ; Al Isra’ : 23-24 ; An Nisa’ : 36, selanjutnya beliau membawakan Qs. Al An’am : 151-153,

 قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَاحَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلاَّتُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلاَتَقْتُلُوا أُوْلاَدَكُم مِّنْ إِمْلاَقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلاَتَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَ مِنْهَا وَمَابَطَنَ وَلاَتَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلاَّباِلْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ ðوَلاَتَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلاَّ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ لاَنُكَلِّفُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْكَانَ ذَاقُرْبَى وَبِعَهْدِ اللهِ أَوْفُوا ذَالِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ ðوَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَالِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ( الأنعام: 151-153)

“Katakanlah (Muhammad), “Marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Robbmu yakni janganlah kamu berbuat syirik sedikit pun kepada-Nya, berbuat baiklah kepada kedua orang tua dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), kecuali dengan sesuatu (sebab) yang benar. Demikianlah yang diwasiatkan Allah kepadamu, supaya kamu memahaminya.ðDan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecauali denggan cara yang lebih bermanfaat, hingga ia mencapai kedewasaannya dan sempurnalah takaran dan timbnagan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang, melainkan menurut kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendati pun dia adalah kerabat (mu) dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diwasiatkan Allah kepadamu, agar kamu ingat.ð“Dan (kubacakan), “Sungguh inilah jalan-Ku, berada di dalam keadaan lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kamu  dari jalan-Nya. Yang demikian itu diwasiatkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.” (Qs. Al An’aam :151-153).

 

            Selanjutnya Syaikh berkata, bahwa Ibnu Mas’ud radhiyallohu ‘anhu berkata, “ Barangsiapa ingin melihat wasiat Muhammad ryang tertera di atasnya cincin stempel milik beliau, maka hendaklah ia membaca firman Allah Ta’ala, “Katakanlah (Muhammad), “Marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Robbmu yakni janganlah kamu berbuat syirik sedikit pun kepada-Nya ……..” dan seterusnya, sampai pada firman-Nya, “Dan (kubacakan), “Sungguh inilah jalan-Ku, berada di dalam keadaan lurus ……” dan seterusnya.” (Riwayat at Tirmidzi, Ibnu Al Mundzir dan Ibnu Abi Hatim).

 

            Mu’adz bin Jabal Radhiyallohu ‘anhu menuturkan,

كُنْتُ رَدِيْفَ النَّبِيِّ عَلَى حِمَارٍ‘ فَقَالَ لِىْ ‘ يَامُعَاذُ‘ أَتَدْرِيْ مَاحَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ وَمَاحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى الله ؟ قُلْتُ ‘ "اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ" قَالَ‘ "حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوْهُ وَلاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْأً" قُلْتُ‘ "يَارَسُوْلَ اللهِ‘ أَفَلاَ أُيَشِّرُالنَّاسَ ؟ " قَالَ ‘ "لاَ تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوْا" (روه البخارى و مسلم الترمذي والنسائي وأحمد والطبرانئ)

 

 “Aku pernah diboncengkan Nabi Shallallohu ‘alaihi wa sallama di atas seekor keledai. Lalu beliau bersabda kepadaku, “Hai Mu’adz, tahukah kamu apakah hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya dan apa hak para hamba yang pasti dipenuhi Allah ?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau pun bersabda, “Hak Allah yang wajib dipenuhi para hamba-Nya adalah supaya mereka beribadah kepada-Nya saja dan tidak berbuat syirik sedikit pun kepada-Nya, sedangkan hak para hamba yang pasti dipenuhi Allah adalah, bahwa Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak berbuat syirik sedikit pun kepada-Nya.” Aku bertanya, “Ya Rasulullah, tidak perlukah aku menyampaikan kabar gembira ini kepada orang-orang ?” Beliau menjawab, “Janganlah kamu menyampaikan kabar gembira ini kepada mereka, sehingga mereka nanti akan bersikap menyandarkan diri.”( HR. Bukhori, Muslim, Tirmidzi, an Nasa’I, Ahmad dan Thabrani)

 

            Berdasarkan ayat-ayat dan hadits di atas, Syaikh At Tamimi menjelaskan tentang kandungan/ pesan/ materi pembahasan yang terdiri atas 24 butir/ pesan/ materi bahasan, di antaranya:

  • Ibadah merupakan hakikat tauhid, karena pertentangan yang terjadi (antara Rasulullah rdengan kaum musyrikin) adalah tentang tauhid ini.
  • Barangsiapa belum melaksanakan tauhid ini, belumlah ia beribadah (menghamba) kepada Allah. Di sinilah letak pengertian firman Allah Ta’ala,
وَلآَأَنتُمْ عَابِدُونَ مَآأَعْبُدُ

       “Dan sekali-kali kamu sekalian bukanlah penyembah (Tuhan) yang aku  

        sembah.” (Qs. Al Kafirun :3).

·         Hikmah diutusnya para rasul (yakni untuk menyerukan tauhid dan melarang syirik).

·         Bahwa ajaran/ tuntunan para nabi adalah satu (yakni tauhid/ pemurnian ibadah kepada Allah).

Dapat ditegaskan di sini, bahwa materi pendidikan yang menjadi prioritas utama, sebagaimana penjelasan di atas, yakni at Tauhid. Inilah yang telah dicontohkan para nabi, sahabatnya dan Luqman di dalam memberikan pendidikan terhadap anak didik mereka. Semoga kita dapat mengambil pelajaran.

Materi pendidikan tersebut selanjutnya harus dikelola oleh pendidik agar mudah untuk diserap dan diamalkan  anak didik sesuai dengan usia perkembangan dan kemampuan anak. Kemudian materi tersebut, dilengkapi dengan materi iptek dan ketrampilan lainnya. Kemajuan iptek dan ketrampilan lainnya diharapkan dapat meningkatkan kualitas peradaban dan budaya manusia, yang tentu saja sejalan dengan iman atau taqwa. Itulah muatan yang diemban oleh pendidikan dan pengajaran anak masa depan yakni anak yang sholih/ sholihah.

 

5. Komponen Metode/ Teknik/ Cara/ Seni.

            Metode merupakan kecakapan pendidik di dalam mengelola dan membimbing, mengarahkan, memotivasi dan menyiapkan kondisi-kondisi tertentu, sehingga materi pendidikan dapat dipahami dan diterima anak dengan mudah. Efeknya, dapat mempermudah siswa untuk mencapai tujuan pendidikan. Dapat diakatakan pula, bahwa metode merupakan upaya pendidik untuk memperjelas jalan yang akan ditempuh anak didik di dalam mewujudkan kebenaran.

            Ketepatan di dalam menggunakan metode dan variasi yang menarik, akan mengakibatkan kerja pendidik lebih efisien dan efektif. Firman Allah Ta’ala.

اُدْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ أَحْسَنُإِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ (النحل: 125)

“Serulah (manusia) ke jalan Robbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara/ metode yang baik. Sesungguhnya Robbmu, Dialah yang mengetahui tentang siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Qs. An Nahl : 125).

 

            Berdasarkan ayat di atas, metode yang seharusnya ditempuh para da’i/ pendidik di dalam mendidik haruslah baik. Pengertian baik sudah barang tentu sepanjang tuntunan Allah Ta’ala dan sunnah Rasul-Nya. Pengertian baik seperti itulah yang akan disukai oleh manusia yang cenderung kepada kebenaran. Sekaligus akan dibenci (tidak disukai) oleh manusia yang cenderung kepada kesesatan, yakni manusia yang lebih mendahulukan potensi fujur daripada potensi taqwa.

            Bagi manusia atau anak didik yang menyukai kebenaran, maka terbukalah potensi taqwanya. Selanjutnya ia akan sampai terhadap materi pendidikan/ pelajaran. Langkah berikutnya, mengikuti program yang telah disusun para pendidik. Pada akhirnya, dengan metode Robbani, akan menghasilkan manusia yang mendapat petunjuk Allah, sehingga selalu konsekuen di dalam  mengarungi kehidupannya. Allah Ta’ala berfirman,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي اْلأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ (آل عمران: 159)

“Maka disebabkan rahmat dari Robbmulah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi kasar, tenulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka di dalam urusan itu. Kemudian, apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. “(Qs. Ali Imran : 159).

 

            Berdasarkan ayat di atas, sebagai pendidik muslim, sudah barang tentu menconoh teladan utama yakni Rasulullah rsebagai pendidik ummat yang memiliki sifat, yakni cara mendidik manusia dengan: Lemah-lembut sebagai rahmat Allah Ta’ala. Jangan sekali-kali bersikap keras, apalagi kasar. Sebab, hal itu akan mengakibatkan  anak didik tidak akan  dapat menyerap materi pelajaran, sehingga tujuan pendidikan pun tidak tercapai.

 

6. Komponen Media.

            Agar anak didik lebih tertarik dengan materi pendidikan dan pengajaran serta agar memperoleh pengalaman belajar yang mendekati/ sesuai obyek aslinya/ yang sesungguhnya dan agar hal itu dapat dipelajari anak didik di dalam jumlah yang besar, maka media pendidikan sangat dibutuhkan kehadirannya. Media ini dapat menjembatani pengalaman nyata yang tidak mungkin dijangkau anak didik, sehingga dapat dihadirkan ke dalam ruang kelas. Misalnya, menyajikan peristiwa gunung meletus (dibuatlah media pendidikannya berupa film pendidikan).

            Media pendidikan ini harus dirancang  pendidik dan bekerja sama dengan tenaga ahli di bidangnya (misal: Ahli Teknologi Pendidikan). Firman Allah Ta’ala,

فَسِيرُوْا فِي اْلأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ (النحل: 36)

“Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhaikan bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan rasul-rasul.”(Qs. An Nahl :36).

 

            Ayat di atas, berupa perintah Allah Ta’ala dengan nada lemah-lembut, agar manusia suka mengadakan perjalanan ilmiah tentang sejarah orang-orang yang menolak kebenaran, sehingga mendapat adzab Allah Ta’ala di dunia. Manusia yang hidup di kemudian hari, supaya mengambil pelajaran atas sejarah, agar tidak mengulangi kesalahan yang serupa. Untuk merealisasikan perintah Allah Ta’ala tersebut, maka media pendidikan dapat dimanfaatkan untuk menunjukkan bukti-bkti ilmiah kepada anak didik, baik berupa media chart, slide, OHT maupun film pendidikan (TV, Video, CD) dan sejenisnya.

 

7. Komponen Situasi dan Kondisi Intern.

            Situasi merupakan keadaan sekitar, di tempat berlangsungya proses pendidikan. Kondisi adalah kualitas taraf kemampuan seluruh komponen yang terkait di dalam proses pendidikan. Situasi Kondisi (Sikon) yang memungkinkan terlaksananya proses pendidikan dengan baik adalah apabila memiliki daya yang kuat untuk membuat wahana yang kondusif bagi proses tersebut. Firman Allah Ta’ala,

لَّيْسَ عَلَى الضُّعَفَآءِ وَلاَعَلَى الْمَرْضَى وَلاَعَلَى الَّذِينَ لاَيَجِدُونَ مَايُنفِقُونَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُوا للهِ وَرَسُولِهِ مَاعَلَى الْمُحْسِنِينَ مِن سَبِيلٍ وَاللهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ (التوبة: 91)

“Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, atas orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa-apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas terhadap Allah dan Rosul-Nya. Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. At Taubah : 91)

 

            Ayat ini, mengisyaratkan dengan tegas, bahwa dengan kondisi yang tidak memungkinkan untuk beraktivitas (jihad, termasuk juga menuntut ilmu), maka lebih baik beristirahat. Sebab apabila memaksakan diri, dapat berakibat kepada kegagalan usaha karena kesalahan upaya manusia. Bagi mereka yang ikhlas kepada Allah dan Rosul-Nya, maka tidak akan mengambil resiko yang dapat dikirakan karena sebuah kesalahan. Sehingga, istirahat sementara waktu adalah cara terbaik, sebagai sebuah ketentuan Allah Ta’ala.

            Implikasi ayat tersebut terhadap proses pendidikan adalah pendidik tidak boleh memaksakan program/ materi pendidikan kepada anak didik, di luar jangkauan fisik dan psikhis mereka. Lebih dari itu, proses pendidikan yang berlangsung harus diupayakan  memenuhi prinsip-prinsip mendidik yang sejalan dengan iman atau taqwa. Hal ini memiliki maksud, agar pendidik tidak melampaui ketentuan dari Allah Ta’ala dan contoh Rosul-Nya (sunnah beliau).

            Adapun jalinan kerja sama antar keseluruhan komponen yang berpengaruh terhadap proses dan hasil pendidikan (seperti tersebut di atas) adalah sebagai berikut:

Setelah tujuan pendidikan dirumuskan dengan cermat, maka pendidik merumuskan suatu strategi pendidikan untuk mengoptimalkan segenap komponen yang ada, agar dapat berfungsi. Selanjutnya, mengadakan interaksi dengan anak didik dan antar anak didik, dengan menggunakan metode yang tepat dan bervariasi, disertai dengan penggunaan media pendidikan yang menarik, sehingga anak didik termotivasi untuk mendayagunakan potensi mereka. Pendidik mengelola sikon yang ada untuk menunjang proses pendidikan  di dalam mencapai tujuan  yang telah dirumuskan.

            Berdasarkan pembahasan di atas, sebagai konsekuensinya, apabila terdapat ikhtiar manusia yang kurang optimal (terbukti dari tujuan yang telah ditetapkan, tidak dicapai dengan sempurna oleh anak didik/ kualitas anak didik tidak sebagaimana yang diharapkan), maka sebagai muhasabah diri (introspeksi), perlu hal ini senantiasa dilakukan. Caranya:  Pelajari keseluruhan komponen yang terkait dengan proses pendidikan, berjalan sesuai dengan fungsinya atau belum. Kemudian, bagaimana jalinan kerja sama antar komponen yang ada.  Komponen manakah yang paling kuat berpengaruh terhadap kegagalan/ kekurangan proses dan hasil pendidikan. Dari sini, akan diketahui dan ditentukan cara penyelesaian masalahnya.

            Apabila ikhtiar maksimal telah dilaksanakan, tetapi tujuan yang telah ditetapkan tidak juga tercapai dengan sempurna/ bahkan gagal sama sekali, maka hal itu berarti kehendak manusia berbeda dengan Kehendak Allah Ta’ala. Dan sudah pasti, kehendak Allah Ta’ala itulah yang akan terlaksana. Dan apa pun yang terjadi, maka selayaknya kita menerima dan menyatakan itulah Qadarullah. Selanjutnya, kita dituntut untuk senantiasa meningkatkan upaya kita terus-menerus, tanpa mengenal putus asa, keluh-kesah dan sejenisnya. Dan tetap memohon karunia-Nya dan bertawakkal hanya kepada-Nya serta mohon ampun kepada-Nya.

 

C. Prinsip-Prinsip Pendidikan.

C .1. Prinsip Iman atau taqwa.

            Prinsip ini menekankan agar proses pendidikan yang berlangsung berazazkan sistem nilai iman atau taqwa. Meninggalkan segenap bentuk dan kemungkinan munculnya gejala fujur yang dapat menghanguskan nilai/ upaya yang selama ini dijalankan. Akhirnya, bukan tujuan yang dapat dicapai dan keuntungan dunia serta akhirat yang diraih, melainkan kerugian belaka dan gagalnya upaya kita. Allah Ta’ala telah berfirman,

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَاîقَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَاîوَقَدْ خَابَ مَنْ د َسَّاهَا(الشمس:8-9)

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) fujur dan ketaqwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”(Qs. Asy Syam: 8-10)

 

C.2. Prinsip Sumber Rujukan.

            Prinsip ke dua merupakan konsekuensi atas prinsip pertama. Karenanya, rujukan bagi sebuah kebijakan pendidikan, perumusan kurikulum dan operasional pendidikan serta perangkat-perangkat pendidikan, tidaklah boleh lepas dan bertentangan dengan  Kehendak Allah Ta’ala (Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah).

 

C.3. Prinsip Pemerataan.

            Prinsip ini menekankan bahwa menuntut ilmu atau memperoleh pelayanan pendidikan adalah sama saja, baik bagi laki-laki maupun wanita, kaya maupun miskin, masyarakat kota maupun desa. Jika pemerataan di dalam menuntut ilmu telah tersebar, maka anak-anak kita kelak, jika menghadap Robb mereka, dapat mempertanggungjawabkan hidup mereka, insya Allah. Sebab, menuntut ilmu merupakan  kewajiban yang berlaku bagi siapa saja. Rasulullah rtelah bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ (رواه بن ماجة والطبراني وابن شهاب)

Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” (HR.Ibnu Majah, Thabrani dan Ibn Syihab)

 

C.4. Prinsip Long Live Learning.

            Prinsip ini menekankan bahwa belajar tidak terikat oleh umur seseorang. Selama hayat di kandung badan, maka wajib belajar akan berlangsung terus-menerus. Rasulullah rtelah bersabda untuk setiap orang yang hendak mati pun, agar tetap dapat belajar yakni,

لَقِّنُوْا مَوْ تَا كُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ (رواه مسلم وأبو داود والترمذي والنسائي وابن ماجه وأحمد والطبراني)

“Talqinkan (ajarkanlah) orang yang hendak mati di antara kalian (dengan ucapan) Laa ilaaha illallah.”(HR. Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’I, Ibnu majah, Ahmad dan Thabrani).

 

            Apabila prinsip ini terealisir, maka orang-orang yang bersistem nilai iman atau taqwa, senantiasa akan belajar terus, sehingga kualitas diri akan dapat ditingkatkan terus. Dengan ilmu, kehidupan menjadi berkembang, senantiasa dinamis dan penuh kreativitas. Derajat hidup orang-orang yang beriman dan berilmu, akan terus meningkat, tidak hanya di sisi manusia, akan tetapi demikian juga di hadapan Allah Ta’ala. Firman-Nya,

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا إِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوْتُوْا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ (المجادلة: 11)

“Hai orang-orang yang beriman, jika dikatakan kepadamu, “Berlapang-lapanglah di dalam majlis, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al Mujaadilah : 11).

 

 

5. Prinsip Ilmu Ilahiyah.

            Prinsip ini menekankan bahwa seluruh ilmu, baik yang eksak maupun social, ilmu agama maupun teknik keduniaan adalah milik Allah Ta’ala dan bersumber dari-Nya (kecuali pengetahuan yang sifatnya fasad, seperti sihir. Maka ia adalah dari syaithon). Ilmu Allah Ta’ala sangat luas, sedangkan manusia hanya sanggup menguasai ilmu-Nya hanyalah sedikit saja (Qs.2:32). Dan adanya pandanggan yang mengatakan bahwa  ilmu adalah ciptaan manusia tertentu dan miliknya, adalah suatu kekeliruan. Manusia, tidak lain hanyalah sebatas memiliki kesanggupan untuk menemukan, merakit dan mempelajari ilmu Allah Ta’ala.

 

6. Prinsip Manfa’at dan Maslahat.

            Prinsip ini menekankan bahwa seiap akivitas pendidikan dan atau pembelajaran hendaklah memperhatikan segi  manfaat dan maslahat. Kemubadziran, pemborosan dan kemudharatan tidaklah mendapatkan tempat, sebab hal itu merupakan kesia-siaan (Qs.23:3). Rasulullah rbersabda,

عَنْ أَبِىْ هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ، قَالَ : قَالَ رَسُوْ لُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمُ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ (رواه الترمذى وبن ماجه وأحمد ومالك والطبراني)

“Dari Abu Hurairoh radhiyallohu ‘anhu telah berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallama, “Sebagian dari baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bergna baginya.” (HR. Tirmidzi, Ibn Majah, Ahmad, Imam Malik dan Thabrani).

 

7. Prinsip Keutamaan (Prioritas).

            Prinsip ini menekankan bahwa dengan adanya tahapan-tahapan  di dalam mencapai tujuan beserta kandungan materi/ bahan pendidikan dan pembelajaran dengan berbagai variasi, maka memerlukan adanya prioritas di dalam pelaksanaannya. At Tauhid (keimanan/ aqidah) sebagai suatu bidang studi merupakan prioritas dan adanya integrasi nilai iman atau taqwa ke dalam bidang studi lainnya serta praktek pendidikan adalah suatu upaya yang harus diperhatikan terlebih dahulu, sebab ia secara langsung akan mencapai tujuan pendidikan. Karena itulah, pengembangan kurikulum sebagai implementasi sistem pendidikan dan wahana kondusif bagi pelaksanaan proses pendidikan anak, harus diorganisir sebaik mungkin.

 

8. Prinsip Keseimbangan.

            Prinsip ini menekankan adanya keseimbangan, keadilan di dalam semua sisi aktivitas pendidikan (Qs.2:143). Melalui prinsip ini, gejala ekstrimitas, melampaui batas kewajaran segera dapat diatasi. Hal itu berarti, antara idealisme dan kemampuan yang ada perlu diselaraskan. Artinya, aktivitas pendidikan beroperasi sesuai dengan kesanggupan maksimal yang ada dengan tetap berusaha meningkatkan kemampuan menuju idealisme.

 

9. Prinsip Selaras dengan Hakikat Manusia.

            Pendidikan adalah upaya orang dewasa di dalam mendidik anak untuk mencapai kedewasaannya sesuai dengan fitrah diri anak didik. Prinsip ini meliputi:

9.1. Mengembangkan Fitrah.

            Rasulullah rtelah bersabda,

كُلُّ مَوْ لُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يَهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ (رواه البخاري ومسلم و أبو داود والترمذي و أحمد ومالك)

“Setiap anak dilahirkan di dalam keadaan fitrah, maka orang tuanyalah yang (kemudian) menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.”(HR. Bukhori, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Ahmad dan Malik).

 

Hadits di atas mengandung pengertian, bahwa manusia sejak lahir telah Allah Ta’ala bekali dengan naluri/ gharizah, kecenderungan dan motivasi yang selanjutnya memerlukan bimbingan, motivasi dan pengarahan serta pemeliharan, agar senantiasa berada di dalam aturan Allah Ta’ala. Juga fitrah berarti Islam/ tauhid, sehingga semenjak di dalam kandungan ibu, seorang anak telah menerima Allah Ta’ala sebagai Robbnya (Qs.&:172). Untuk merealisasikan pengakuan tersebut setelah lahir ke dunia, agar tetap di dalam kondisi fitrah, maka dibutuhkan peranan pendidik (orang tua), agar anak sanggup mempertahankan agamanya (Islam). Lalai di dalam hal ini, maka anak dapat saja menempuh jalan fujur yang merugikan dirinya, orang tua dan masyarakat luas.

 

9.2. Memelihara Kemuliaan Anak.

            Anak sebagai manusia berderajat mulia di hadapan Allah Ta’ala, apabila dibandingkan dengan makhluq lainnya. Kemuliaan tersebut disebabkan manusia dikaruniai Allah Ta’ala berupa daya intelektualitas yang tinggi. Lebih dari itu, manusia juga dikaruniai segala fasilitas hidup di dunia untuk dikelola sebagai sarana beribadah kepada Robbnya (Qs.2:29 dan 31:20). Kemudian, Allah Ta’ala tidak membiarkan manusia di dalam kebingungan di dalam mengarungi kehidupan, maka Dia mengutus Rosul-Nya sebagai suri tauladan yang membawa syari’at-Nya untuk diterapkan di muka bumi ini, sehingga manusia dapat beribadah kepada Allah Ta’ala dengan cara yang benar dan diridhoi-Nya.

            Dengan bekal intelektualitas yang tinggi, fasilitas hidup yang serba cukup dan bimbingan Rasul-Nya serta pedoman dan petunjuk hidup (Al Qur’an) dari-Nya, manusia akan dapat membedakan mana yang benar dan salah, baik maupun buruk, indah maupun jelek. Dengan hal itu pula, manusia akan sanggup menyingkap rahasia dan menemukan ilmu Allah Ta’ala untuk kemaslahatan kaumnya.

            Sebaliknya, apabila manusia tidak sanggup memanfaatkan bekal/ potensi tersebut atau menyalahgunakannya, maka manusia dapat jatuh derajatnya menjadi hina dina, lebih rendah dibanding binatang ternak (Qs.7:179). Karena itulah, pendidikan dituntut untuk sebijaksana mungkin memelihara kemuliaan anak, dengan selalu sadar akan ni’mat dan karunia Allah Ta’ala yang tidak terhitung, sadar akan keberadaan dirinya dan selalu berlomba-lomba mencari kebaikan dan ketaqwaan di sisi Allah Ta’ala (Qs.49:13).

 

9.3. Menyadarkan Tugas dan Fungsi Manusia.

            Setiap pendidik dituntut untuk senantiasa berupaya menyadarkan anak didik, bahwa ia lahir ke dunia tidaklah sia-sia dan bukan untuk bermain-main belaka, akan tetapi ia mengemban tugas dan missi Ilahi sebagai hamba Allah Ta’ala di bumi. Ia harus sanggup mengelola dirinya dan alam semesta serta seluruh penghuninya, agar selalu menjaga keserasian dan keharmonisan, sepanjang keadilan Allah Ta’ala (Qs.51:56/ 2:30).

 

9.4. Mendidik Sesuai dengan Kemampuan Intelektualitas Anak.

            Prinsip ini menekankan agar materi pendidikan/ bahan pembelajaran, hendaklah sesuai dengan kesanggupan daya nalar anak, bahasa dan karakternya. Sehingga adanya anggapan yang mengatakan, bahwa pendidikan adalah upaya transfer ilmu, pengetahuan dan ketrampilan dari orang dewasa kepada anak adalah sama saja dengan menganggap bahwa anak bagaikan tong kosong yang dapat diisi sekehendak pendidik, tanpa memperhatikan karakterisik anak, menjadi tertolak.

 مَاأَنْتَ بِمُحْدِثٍ قَوْمًا حَدِ يْثًا لاَ تَبْلُغْهُ عُقُوْلُهُمْ، إِلاَّ كَانَ لِبَعْضِهِمْ فِتْـنَةٌ ( رواه مسلم)

“Seseorang yang menyampaikan kepada suatu kaum atau golongan pembicaraan yang tidak sesuai dengan akalnya, maka hal demikian akan menimbulkan fitnah di kalangan mereka.” (HR.Muslim)

 

            Terlalu berat/ di luar jangkauan daya nalar anak di dalam perumusan materi dan proses pembelajaran, tidaklah bijaksana. Demikian pula, jika terlalu mudah dan ringan, berakibat perkembangan anak menjadi terlambat. Firman Allah Ta’ala berikut ini perlu kita perhatikan,

لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا (البقرة: 286)

“Allah tidak membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Qs. Al Baqoroh: 286).

 

9.5. Membina Kepribadian.

            Prinsip ini menekankan bahwa peranan pendidik di dalam proses pendidikan adalah mengantarkan anak meraih kedewasaannya, baik fikriyah, qolbiyah, jasadiyah maupun dieniyahnya. Apabila kedewasaan ini dapat diwujudkan, berarti kepribadian anak telah terbina dengan baik. Demikian juga akhlaq anak didik menjadi sempurna. Sebagaimana sabda Rasulullah berikut,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ اْلأَخَلاَقِ (رواه البخاري في أدب المفرد والبيهقي والطبراني وابن عبد البر)

“Sesungguhnya saya diutus untuk menyempurnakan akhlaq.” (HR. Bukhori di dalam Al Adab al Mufrod, Baehaqi, Thabrani dan Ibnu Abdil Barr).

 

 

 

BAB  I

LANDASAN  IDEAL  PENDIDIKAN

 

 

 

1. Tujuan Akhir Pendidikan.

وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّلِيَعْبُدُوْنِ (الذاريات: 56)

" Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." (Qs. adz Dzariyaat 51: 56).

 

وَإِذْقَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لاَتُشْرِكْ بِاللهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ(لقمان31: 13 )

" Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran (mendidik) kepadanya, "Hai anakku, janganlah kamu menyekutukan Allah, sesungguhnya menyekutukan Allah benar-benar kedzaliman yang besar." (Qs.Luqman 31: 13).

 

Ayat ke-56 surat ke-51 adz Dzariyaat di atas memberikan gambaran yang umum dan luas, bahwa Allah menciptakan manusia di muka bumi ini hanyalah untuk beribadah kepada-Nya. Ibadah yang dimaksud adalah segala sikap dan perilaku manusia hendaklah diniatkan karena menjalankan suruhan Allah (minallah), dilaksanakan dengan cara-cara yang sesuai dengan ketentuan Allah (billah) dan tujuan melaksanakan aktivitas tersebut di dalam rangka meraih keridhoan Allah semata (ilallah).

Sedangkan ayat ke-13 surat ke-31 Luqman di atas merupakan salah satu contoh yang diperagakan Luqman sebagai hamba Allah yang sholeh bahwa proses pendidikan dan pengajaran adalah mengarahkan dan membimbing anak didik untuk menyadari fungsi dirinya sebagai hamba Allah, bukan hamba selain-Nya. Sehingga apa pun profesi anak didik kelak, maka keimanan atau ketaqwaan akan menjadi landasan hidupnya. Pada akhirnya, kelak anak didik hidup di dalam masyarakatnya berada di dalam keadaan beribadah kepada-Nya semata.

Tujuan tersebut (hidup di dalam beribadah) merupakan suatu idealisme yang mapan. Idealisme itu sangat erat kaitannya dengan  sistem nilai yang dianut oleh  masyarakat. Hal itu mengandung pengertian, bahwa sistem nilai (taqwa) yang dianut masyarakat menjadi landasan bagi sistem/ konsep pendidikan. Tercapai tidaknya tujuan akhir pendidikan, mensyaratkan adanya sistem nilai yang sesuai dengan fitrah manusia (mengesakan Allah).

Suatu yang mustahil (sebagai misal), bila kita menanam padi dan mengharapkan buah, sementara tanahnya kering tanpa ada air setetes pun. Mengapa demikian, sebab fitrah padi adalah tumbuh di atas tanah (yang memiliki unsur sama dengan tanah) serta memiliki air yang cukup.

Fitrah manusia adalah bersih dan lurus/ mengesakan Allah/ berdienul Islam (Qs. Ar Rum 30: 30). Maka bila sistem nilai tempat  tumbuh kembangnya pendidikan dan pengajaran ternyata berlawanan dengan fitrah tersebut, maka jelaslah sudah, pendidikan itu akan terasa kering. Ia tidak akan dapat menghasilkan anak didik yang sanggup mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan yang menjadi harapan orang tua dan masyarakatnya.  Justru menjadi sebaliknya, anak didik akan cakap mengembangkan hawa nafsu dan mungkin saja dapat menjadi penghalang bagi misi keberadaannya di dunia ini. Iptek dan segala profesi yang kelak dikuasainya akan lebih banyak membuat kemudharatan bagi sesamanya dan alam semesta, dibanding manfaatnya.

 

2. Iman atau Taqwa Sebagai Landasan Sistem Pendidikan.

Iman atau taqwa merupakan sebuah sistem nilai buatan Sang Pencipta manusia. Sistem nilai ini memiliki sifat yang menyeluruh dan sempurna yang cocok dengan fitrah manusia di mana pun berada dan di dalam masa apa pun serta di dalam kondisi bagaimana pun. Ia seharusnya dilestarikan dan ditumbuhkembangkan oleh para aktivis pendidikan.

Untuk dapat melaksanakan hal itu -terutama para pendidik- dituntut untuk menyiapkan diri terlebih dahulu. Pendidik seharusnya dan sewajarnya menggembleng dirinya agar menjadi manusia yang beriman atau bertaqwa serta menguasai iptek berdasarkan jenjangnya dan memberikan keteladanan yang tulus. Untuk memenuhi tenaga pendidik yang berkualitas itulah, maka Perguruan Tinggi yang bermutu perlu segera disiapkan.

 

3. Bentuk Out Put Sistem Pendidikan.

Untuk mencapai tujuan akhir sebuah sistem pendidikan, memerlukan pencapaian tahap demi tahap tujuan yang lebih khusus. Untuk itu perlu dirumuskan tujuan yang bersifat kelembagaan suatu lembaga pendidikan tertentu. Hal ini berarti setiap institusi pendidikan yang umum dan khusus (karena memiliki spesifikasi tertentu) memerlukan rumusan tujuan institusional yang berbeda-beda antara institusi yang satu dengan yang lainnya. Pada tahapan inilah, pihak yang berwenang dan ahlinya dituntut untuk berpikir kritis, sistematis dan dinamis serta komprehensif di dalam rangka mengembangkan bentuk dan warna kualitas manusia yang dikehendaki pada zaman/ era lulusan sebuah satuan pendidikan tertentu, di masa yang akan datang. Lulusan ini diharapkan mampu mengolah dunia dengan kemajuan iptek yang berlandaskan iman atau taqwa. Akhirnya kemajuan dan penguasaan iptek dijadikan sarana untuk menopang pengabdian kepada penciptanya di dalam semua lapangan/ bidang kehidupan manusia. Pemegang kebijakan dan para ahli tersebut di atas, berarti mampu mengubah nasib kaumnya ke arah kemajuan lahiriyah dan bathiniyah (mental spiritual dan fisik material), jika berhasil merumuskan tujuan pendidikan dan konsep dan kurikulum pendidikan yang tepat dan benar. Buah yang akan dipetik dari sistem pendidikan yang demikian adalah keselamatan, kesejahteraan lahir & bathin, keamanan dan ketenangan yang sesungguhnya. Inilah rumus Islam yang sebenarnya dikehendaki semua orang.

Sedangkan kenyataannya menunjukkan, dunia sekarang telah mengalami kemajuan iptek dan munculnya manusia-manusia genius serta banyaknya penelitian canggih sebagai hasil suatu sistem pendidikan modern dengan pola pendekatan materialistik. Akibatnya, tidak aneh apabila kemerosotan moral, mental dan akhlaq telah membudaya, termasuk anak sekolahnya sekalipun. Seperti: Perang bermotif keserakahan dunia; munculnya penyakit menakutkan/ AIDS; korupsi; manipulasi; perzinaan; pembunuhan merajalela; perjudian; mabuk-mabukan; pelacuran hak azasi; penipuan; uang telah menjadi tumpuan dan tuhan; perkelaian dan pembunuhan antar pelajar telah menjadi panorama sehari-hari yang menyesakkan dada. Bagaimana sistem pendidikan yang ada dapat menjawabnya ?

 

4. Perubahan Sistem Nilai = Perubahan Tujuan Pendidikan.

Kenyataan dunia seperti digambarkan di atas, akan mengalami perubahan, manakala manusia bersedia mengubahnya. Perubahan harus dimulai dari akarnya dan menyeluruh dan tentu saja secara bertahap dan atau sekaligus jika sanggup. Sebab kerusakan yang terjadi adalah sebagai konsekuensi penerapan sistem nilai yang menyimpang. Berarti pula perubahan yang dikehendaki di dalam bentuk: Penggantian Sistem Nilai yang melandasi sistem pendidikan; Strategi & Konsep Pendidikan; Metode serta materi Pembelajarannya.

Akhirnya akan dapat diwujudkan (hasil pendidikan) yang kita cita-citakan bersama. Bukankan Allah telah menginformasikan,

إِنَّ اللهَ لاَيُغَيِّرُ مَابِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوْا مَابِأَنفُسِهِمْ وَإِذَآ أَرَادَ اللهُ بِقَوْمٍ سُوْءًا فَلاَ مَرَدَّ لَهُ وَمَالَهُم مِّن دُونِهِ مِنْ وَالٍ (الرعد: 11 )

" ..... Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia." (Qs. ar Ra’d13: 11).

 

Apabila perubahan di atas terjadi, maka pendidikan dapat menyumbangkan perannya yang besar di dalam membangun keseluruhan bidang hidup dan kehidupan manusia (peradaban). Namun, bukanlah suatu hal yang mudah untuk mengubah suatu keadaan yang telah membudaya. Perubahan itu tidak akan terjadi, jika orang-orang yang terkait langsung seperti: Pemegang kebijakan, para ahli/ tokoh pendidikan dan para tenaga lapangan, lebih senang berpangku tangan. Mereka hanya menerima dan meneruskan kondisi yang ada/ yang telah membudaya, enggan bersungguh-sungguh dengan segala daya dan upaya untuk mengubah keadaan. Bahkan telah merasa enak, nyenyak dan mapan di dalam kondisi lama (status quo).

 

5. Kebanyakan Sekolah-Sekolah Masa Kini.

Satu pertanyaan perlu dikemukakan, "Bagaimanakah upaya sekolah-sekolah yang ada sekarang ini?" Apabila kita bersedia meneliti, akan didapatkan bahwa sekolah-sekolah yang ada di dalam upaya melaksanakan proses pendidikan  dan pembelajaran siswa, tidak lagi/ kurang menyelaraskan upayanya dengan sistem nilai iman atau taqwa. Hal itu dapat dipahami, sebab sekolah hanyalah salah satu instrumen pelaksana program pendidikan yang telah ditetapkan dari atas. Akibatnya, masyarakat yang peduli terhadap perubahan ke arah kemajuan lahiriyah yang berlandaskan kemajuan rohaniah menjadi prihatin terhadap kenyataan yang ada. Betapa tidak, kenyataan menunjukkan bahwa sekolah lebih menitikberatkan dan menuntut anak didik untuk maju di dalam aspek lahiriyah, sekaligus mengesampingkan/ mengecilkan aspek mental rohaniah. Kemajuan lahiriyah tidak dilandasi dan dibarengi oleh kemajuan mental spiritual yang baik, sehingga melahirkan anak didik yang pandai otaknya, akan tetapi kering jiwanya.

Akhirnya, terbentuklah manusia-manusia terdidik bagai mesin, sebab kini sekolah bagaikan pabrik. Lahirlah manusia robot yang tidak lagi hidup merdeka, tetapi dikendalikan oleh sesama manusia. Hidup tidak lagi dapat dikendalikan oleh Yang Berhak mengendalikan. Padahal hidup dan mati serta segala fasilitas hidup adalah dari Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Mengapa manusia tidak rela dikendalikan-Nya? Mengapa sistem pendidikan tidak mengacu kepada-Nya dan mengapa sistem nilai iman atau taqwa dilupakan? Manusia-manusia yang berkepribadian terpecah (tidak seimbang antara kemajuan lahiriyah dengan kemampuan jiwanya), kian hari semakin bertambah. Sungguh hal itu harus segera diakhiri.

 

6. Pendidikan Merupakan Wahana Pelestarian Sistem Nilai.

Sistem nilai tertentu akan menuntut sistem pendidikan yang dikembangkan, strategi yang ditempuh, teknik yang digunakan, materi pelajaran sebagai muatannya, kebijakan-kebijakan pendidikan dari tingkat satu lembaga pendidikan hingga tingkat pusat dan sistem kurikulum secara menyeluruh, tidaklah boleh bertentangan dengannya.

Oleh karena itu, iman atau taqwa sebagai satu sistem nilai hendaklah telah terintegrasi dengan jelas dan transparan di dalam mengembangkan sistem pendidikan; di dalam menentukan strategi yang ditempuh; di dalam menetapkan teknik/ metode pembelajaran siswa; di dalam rumusan-rumusan materi pelajaran; di dalam kebijakan-kebijakan pendidikan dan di dalam menetapkan sistem kurikulum yang dikembangkan.

Dengan demikian, dapat diharapkan sistem nilai iman atau taqwa akan menjadi lestari, sekaligus kelemahan-kelemahan sistem pendidikan yang berlandaskan sistem nilai lama, dapat diperbaiki. Di kemudian hari, insya Allah, akan lahir manusia-manusia yang benar-benar terdidik dengan baik yaitu lahirnya manusia yang seimbang kepribadiannya. Ia akan memiliki kemajuan lahiriyah yang pesat dengan diimbangi oleh kemajuan bathiniyah yang unggul. Ia dapat menyelaraskan dan tahu batas antara kepentingan-kepentingan pribadi dengan kepentingan-kepentingan masyarakat, sehingga kerusakan-kerusakan yang telah membudaya (kerusakan akhlaq seperti telah tersebut di atas) tidak lagi terulang dan bahkan dapat diberantas.

Hanya sistem nilai iman atau taqwa sajalah yang dapat mencegah dan menghentikan setiap pribadi yang menyimpang. Memang antara sistem nilai yang rusak (fujur) dengan sistem nilai yang baik (taqwa) senantiasa terjadi tarik-menarik, baik di dalam diri pribadi maupun di dalam masyarakat luas. Namun bagi mereka yang telah berlandaskan sistem nilai iman atau taqwa, maka potensi fujur dapat ditekan. Allah telah berfirman,

فَأَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوَاهَا{قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا{وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا ( الشمس:8 - 9)  

"Maka Allah yang mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang telah menyucikan jiwanya dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya." (Qs. asy Syams 91:8-10)

 

Melestarikan sistem nilai iman atau taqwa adalah tergolong di dalam menyucikan jiwa dan hal itu merupakan suatu keberuntungan dunia hingga akhirat. Siapakah yang tidak ingin beruntung?

 

7. Landasan Konstitusional dan Operasional Pendidikan.

Kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa untuk membangun dan mengembangkan sistem pendidikan, harus menggunakan landasan sistem nilai iman atau taqwa dengan tujuan akhir terwujudnya manusia yang senantiasa mengerahkan segala daya dan upaya di dalam mengupayakan kesejahteraan dan kedamaian ummat manusia di seluruh lapangan kehidupan, baik tingkat regional, nasional maupun internasional, di dalam suasana kasih sayang dan persaudaraan, sebagai wujud ibadah kepada Allah Ta’ala.

Iman atau taqwa sebagai landasan sistem pendidikan akan dapat menuntun sekaligus menuntut warga didik (para pemegang kebijakan, para ahli dan pelaksana serta para siswa) untuk senantiasa menerapkan  pendidikan yang sejalan  dengan kebijakan Allah Yang Esa sebagai pencipta manusia. Bahkan menuntut agar warga didik melestarikan sistem nilai tersebut. Sebab dengan ketiadaan nilai-nilai iman atau taqwa pada diri warga didik, maka hilanglah/ merugilah suatu lembaga pendidikan. Kembali kepada fitrah manusia (yang bersistem nilai iman atau taqwa) merupakan suatu keharusan sebelum kita memikirkan dan merumuskan konsep pendidikan, apalagi melaksanakannya.

Adapun landasan konstitusional sebuah sistem/ konsep pendidikan adalah merupakan kebijakan Sang Pencipta manusia itu sendiri. Sebab Allah Ta’ala-lah yang Maha Tahu tentang manusia. Selanjutnya mengikuti contoh yang telah diperagakan oleh Rasulullah r. Sebab beliaulah orang yang ditunjuk Allah Usebagai operasionalisasi ‘kebijakan’ Allah U. Kemudian memperhatikan upaya para cerdik pandai/ ulama pada bidangnya masing-masing untuk masa kini di tempat sebuah lembaga pendidikan dibangun dan dikembangkan. Sudah barang tentu landasan ini lebih disesuaikan dengan situasi dan kondisi kemampuan setiap wilayah dan keanekaragaman sumber daya  yang tersedia. Baik sumber daya manusia, dana, material maupun yang lainnya.

Perlu dikemukakan di sini bahwa, sumber daya manusia yang seharusnya ada di dalam sistem pendidikan adalah mereka yang memiliki karakteristik:

1. Berlandaskan sistem nilai iman atau taqwa.

2. Konsisten memperjuangkan sistem nilai tersebut di atas.

3. Berakhlaq mulia.

4. Menguasai ilmu di bidangnya masing-masing.

 

Sumber Daya Manusia di atas, diharapkan akan sanggup mengadakan pembaharuan dan merumuskan sistem pendidikan dan kurikulum yang dapat mengantarkan anak didik agar memiliki iman atau taqwa yang kokoh dan iptek yang tinggi. Melalui kemampuan tersebut, pada masanya, anak didik akan sanggup berfungsi sebagai pengolah bumi Allah ini. Ia dapat membawa kemaslahatan ummat manusia sesuai kehendak Sang Pencipta alam semesta.

Landasan operasional sebuah sistem pendidikan merupakan tanggung jawab para ahli secara khusus, agar rumusan pendidikan yang akan dikembangkan benar-benar proporsional. Hasil kerja para ahli ini dijadikan suatu kebijakan pendidikan yang diberlakukan menyeluruh mulai tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Sebagaimana sabda Rasulullah r, bahwa suatu urusan pekerjaan diserahkan kepada ahlinya.

إِذَا وُسِّدَ اْلأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِِهِ فَانْتَظِرِالسَّاعَةَ (رواه البخارى ومسلم وهذا لفظ البخاري الرقم 60)

Jika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya.” (HR. Bukhori dan Muslim. Ini lafadz Imam Bukhari dalam kitab al Ilmi No.60 ).

 

 

 

BAB  II

PENGERTIAN  PENDIDIKAN

 

1. Definisi Pendidikan.

Banyak definisi pendidikan diajukan para pakar pendidikan. Pada tulisan ini, penulis menampilkan pendapat yang menyatakan, bahwa pendidikan merupakan usaha sadar orang dewasa untuk membimbing, mengarahkan atau mengondisikan orang yang belum dewasa agar mencapai kedewasaannya. Pengertian ini masih umum, artinya bentuk kedewasaan yang dimaksud tergantung kepada sistem nilai yang melandasi konsep pendidikan yang melingkupinya. Bila konsep pendidikan yang hendak dikembangkan  berlandaskan sistem nilai iman atau taqwa, maka bentuk kedewasaan yang dimaksudkan tentu berbeda dengan bentuk kedewasaan yang hendak dikembangkan oleh konsep pendidikan yang berlandaskan sistem nilai fujur.

 

2. Perbandingan Bentuk Kedewasaan.

Bentuk kedewasaan yang dihasilkan oleh sebuah konsep pendidikan yang berlandaskan sistem nilai fujur adalah kedewasaan yang tidak seimbang dan kerdil. Artinya matang pada satu aspek kepribadian (logika berkembang misalnya), akan tetapi aspek emosi dan sisial cenderung kepada pengabaian nilai-nilai moral dan asusila (fujur). Inilah bentuk kedewasaan yang rusak/ tidak seimbang dan cacat norma.

Sedangkan bentuk kedewasaan yang dihasilkan oleh sebuah sistem pendidikan yang berlandaskan sistem nilai iman atau taqwa adalah lahirnya manusia-manusia yang keseluruhan aspek kepribadiannya (baik logika, etika, estetika, moral dan sosial) berkembang secara seimbang dan stabil, seiring dan sejalan secara harmonis, sehingga tidak lagi muncul berbagai penyakit akhlaq/ moral dan sosial.

 

2.1. Bentuk Kedewasaan.

Bentuk kedewasaan berikut merupakan hasil dari konsep pendidikan  yang berlandaskan sistem nilai fujur, disertai dengan komentarnya:

2.1.1. Dewasa Fisik.

Dewasa fisik berarti telah matang bentuk pertumbuhan jasad yang berguna untuk mengemban tugas-tugas hidupnya. Bentuk kedewasaan ini ditandai dengan perubahan panjang/ tinggi tubuh seseorang, telah tumbuh ciri-ciri sekunder, seperti tumbuh kumis, muncul anak tekak, tumbuh rambut di tempat tertentu dan telah bermimpi, bagi anak laki-laki. Sedangkan bagi anak perempuan, ciri kedewasaan fisik terletak pada pertumbuhan buah dada dan mulai menstruasi serta tumbuh rambut pada bagian tertentu.

Komentar:

Sesungguhnya, kedewasaan fisik seperti digambarkan di atas bukan merupakan pengaruh langsung dari proses pendidikan. Artinya, pertumbuhan fisik tersebut terjadi secara alamiah (hukum yang telah Allah berlakukan bagi makhluq-Nya). Sehingga pendidikan memberikan kontribusi yang kecil terhadap kedewasaan fisik seseorang.

 

2.1.2. Dewasa Psikhis.

Kedewasaan psikhis berciri dapat membedakan perbuatan benar dan salah; baik-buruk; indah-jelek dan memiliki moralitas yang tinggi. Ciri yang terakhir ini (moralitas yang tinggi) dipandang sebagai perwujudan praktek keagamaan (hubungan manusia dengan Tuhannya).

Komentar:

Dengan adanya issu bahwa persoalan agama adalah masalah pribadi, maka pendidikan dan pembinaan agama menjadi urusan keluarga. Sehingga hal itu menyebabkan pendidikan agama di sekolah-sekolah semakin disisihkan dan pelajaran -pelajaran lainnya menjadi jauh dari nilai-nilai iman atau taqwa. Lebih memprihatinkan lagi, apabila kita memperhatikan praktek keseharian di sekolah-sekolah, adalah steril dari ruh dan nilai taqwa. Praktek keimanan hanya terbatas pada ritual seremonial belaka. Hal itupun sering dilalaikan apabila ada kesibukan lain. Bahkan banyak yang tak menghiraukannya. Praktek keseharian di dalam keluarga dan masyarakat luas, kebanyakan tidak jauh berbeda. Pendidikan agama di sekolah dikebiri dan pembinaan agama di keluarga dicurigai. Akankah ada motif hendak melenyapkan landasan nilai iman atau taqwa dengan pembungkus seakan diberi kesempatan berkembang ?

Agama hanya dipandang sebagai bagian, bahkan sub bagian dari sistem yang berlaku. Mereka memandang iman atau taqwa bukan  secara menyeluruh dan apa adanya. Hal itu mungkin cocok di negeri Barat, tetapi tidak di negeri Timur (khususnya Indonesia). Firman Allah jalla wa ‘ala,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوْا فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُوْا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينُُ ( البقرة: 208)

"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syetan. Sesungguhnya syetan-syetan itu musuh yang nyata bagi kamu." (Qs. Al Baqoroh: 208).

 

2.1.3. Dewasa Sosial.

Ciri kedewasaan yang ke tiga adalah dewasa di bidang sosial. Pengertiannya adalah bahwa anak didik diharapkan setelah mengikuti program pendidikan tertentu, mereka akan memiliki kedewasaan bersikap dan bertindak di masyarakat. Mereka dapat membawa diri mereka untuk dapat berperan serta di dalam menumbuhkem bangkan masyarakat sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Baik norma agama, adat-istiadat, hukum dan kesusilaan.

Komentar:

Apabila kita bersedia meneliti dengan sedikit seksama, akan tampak kerancuan semakin meruncing tanpa diperuncing. Bagaimana mungkin berbagai norma tersebut akan dapat direalisir anak didik, sedangkan antar norma tersebut satu dengan yang lainnya terdapat perbedaan yang sangat mencolok, bahkan bertentangan walau tanpa harus dibeda-bedakan dan dipertentangkan.

Norma adat-istiadat dan kesusilaan adalah lebih merupakan warisan nenek moyang secara turun-temurun. Norma hukum merupakan warisan kaum penjajah. Sedangkan norma agama (Islam) hanya baru sebatas dipelajari, tanpa pernah dipraktekkan, padahal norma tersebut merupakan produk Allah pencipta dan pemberi segala fasilitas hidup manusia.

Lalu, bagaimanakah bentuk kedewasaan yang dikehendaki di dalam konsep pendidikan yang berlandaskan sistem nilai iman atau taqwa? Berikut ini uraian singkatnya:

1. Dewasa jasmaniah.

Dewasa jasmaniah mengandung pengertian pertumbuhan jasad yang matang secara potensial alamiah, maupun potensial efektif. Kematangan potensial alamiah merupakan ketentuan/ syarat atau sunnatullah yang telah pasti adanya, tanpa harus diupayakan secara khusus oleh manusia (bukan merupakan produk manusia). Kematangan potensial efektif adalah pelengkap atas pertumbuhan potensial alamiah.       Gabungan keduanya menjadikan anak didik dapat memiliki keunggulan khusus dibanding dengan anak didik yang hanya matang potensial alamiahnya saja. Keunggulan khusus tersebut diperuntukkan sebagai persiapan untuk mengemban tugas hidupnya di dunia ini secara optimal dan tugas khusus di dalam menegakkan kebenaran dan keadilan dengan berlandaskan iman atau taqwa.

Kematangan potensial efektif inilah yang terutama harus diupayakan oleh pendidikan. Untuk itu Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallama telah menganjurkan, memberi tahu dan memerintahkan serta mencontohkan bahwa  belajar berlari, berenang, memanah (menembak) dan berkuda adalah penting.

 

2. Dewasa Qolbiyah.

Inti pengertian dewasa qolbiyah adalah hati yang lunak/ jinak di hadapan Allah Ta’ala, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman atau bertaqwa, sekaligus muncul hati yang tegas dan tegar, jika berhadapan dengan bentuk-bentuk penyimpangan dari iman atau taqwa. Dari hati yang demikian, akan muncul sikap yang dapat mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk berdasar sistem nilai iman atau taqwa tersebut. Dengan demikian, segala perilakunya dikontrol oleh hati yang jernih sebagai celupan Allah Ta’ala.

Rasulullah rtelah bersabda,

أَلآ وَإِنَّ فِيْ الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كَلُهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُهُ أَلآ وَهِيَ الْقَلْبُ (رواه البخاري مسلم و أبو داود والنسائي و البيهقي )

"Ingatlah bahwa di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, yang apabila baik, maka baiklah segala perbuatannya dan apabila segumpal daging itu buruk, maka buruklah segala perbuatannya. Ketahuilah, bahwa segumpal daging itu adalah hati." (HR. Bukhori, Muslim, Ab Daud, an Nasa’I, dan al Baehaqi).

 

Dari hati yang tunduk kepada penciptanya, akan muncul pula akhlaqul karimah/ akhlak yang mulia sebagai buah iman atau taqwa.

 

3. Dewasa fikriyah.

Pengertian mendasar atas kedewasaan berpikir seseorang adalah akan tampak pada saat seseorang menghadapi problematika hidup sesuai dengan taraf dan irama perkembangannya. Artinya kualitas kedewasaan seseorang tidak akan sama satu dengan lainnya. Walau demikian, kedewasaan berpikir seseorang dapat diketahui dari pendayagunaan  potensi intelektualitasnya (ingatan, pemahaman, aplikasi, analisa, sintesa, evaluasi) di dalam menghadapi setiap permasalahan. Berarti, seseorang dapat dikatakan dewasa fikriyah, menakala ia sanggup menggunakan potensi kecerdasannya untuk menemukan strategi dan teknik penyelesaian masalahnya disertai dengan penanggulangan atas beberapa efek atas keputusan yang telah diambil. Kemampuan menanggulangi beberapa efek atas keputusan yang diambil itu merupakan bukti tingkat kedewasaan seseorang sampai pada tahap berkualitas. Manusia yang demikian inilah yang selalu Allah Ta’ala gambarkan dengan kata-kata: Apakah engkau tidak berpikir, apakah engkau tidak memahaminya, apakah engkau tidak berakal, dan sejenisnya.

لَوْ أَنزَلْنَا هَذَا القُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللهِ وَتِلْكَ اْلأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ ( الحشر: 21)

"Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah-belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir." (Qs. Al Hasyr:21).

 

Semakin besar permasalahan hidup manusia, maka untuk menanggulanginya dibutuhkan kualitas berpikir yang makin tinggi pula. Semakin maju cara berpikir seseorang, maka akan semakin berkembanglah taraf peradaban manusia. Sebaliknya, ketidakberdayaan seseorang untuk mengembangkan potensi kecerdasannya, mengakibatkan keterbelakangan peradaban. Kemampuan berpikir merupakan ciri khas manusia yang membedakannya dengan makhluq lain. Ketidakpedulian di dalam urusan ini akan mengakibatkan manusia terjatuh ke lembah kebinasaan. Sebaliknya, upaya mengembangkan kemajuan pikir seseorang tanpa dibarengi dengan kendali yang wajar (wahyu), menyebabkan manusia itu jatuh ke dalam jurang kenistaan (fujur).

 

4. Dewasa Dieniyah.

Yang dimaksud dengan dewasa dieniyah merupakan kesanggupan seseorang memiliki keimanan yang lurus dan mapan karena didasari atas pemahaman (ilmu) terhadap kalimat tauhid, menerima hatinya (yakin) dan berani membuktikan keimanannya di dalam kehidupan sehari-hari dengan berbagai resikonya. Firman Allah Ta’ala,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لآإِلَهَ إِلاَّاللهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ (محمد: 19)

"Maka ilmuilah/ pahamilah, bahwa sesungguhnya tiada ilah yang haq, melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi dosa orang-orang mu'min laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempatmu berusaha dan tempat tinggalmu." (Qs.Muhammad:19).

 

Rasulullah rbersabda,

بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ وَحَجِّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً (رواه البخارى ومسلم و الترمذي والنسائي وأحمد وبن حزيمة والطبراني )

 "Islam dibangun atas lima dasar yaitu: Bersyahadat bahwa tidak ada tuhan melainkan Allah dan bersyahadat bahwa Muhammad adalah Rasulullah dan mendirikan sholat, mengeluarkan zakat, shoum Ramadhan dan berhaji jika kuasa." (HR. Bukhori, Muslim, Tirmidzi, an Nasa’I, Ahmad, Ibn Khuzaemah dan Thabrani).

 

Orang dikatakan beriman atau bertaqwa, apabila memiliki minimal keilmuan Islam secara menyeluruh tentang dasar-dasar dien (Qs.Muhammad:19), lalu meyakini ilmunya (Qs.Al Jaatsiyah: 20) kemudian berani mempraktekkan keyakinannya di dalam semua aspek kehidupannya. Manusia dengan gambaran seperti inilah merupakan manusia yang dewasa dieniyahnya (agamanya).

Kemudian, kesatuan antara dewasa jasadiyah, fikriyah, qolbiyah dan dieniyah di dalam diri seseorang, akan menghasilkan insan kamil (paripurna) yang dicita-citakan dunia pendidikan. Insan kamil inilah yang akan sanggup menyelaraskan dan menyeimbangkan potensi jasadiyah, fikriyah, qolbiyah dan dieniyahnya di dalam bersikap dan berperilaku sehari-hari di dalam hidup sebagai peribadi, anggota keluarga, anggota masyarakat maupun di dalam lingkungan yang lebih luas lagi. Insan kamil ini di dalam hidupnya selalu dibimbing oleh wahyu, sehingga ia berada di dalam kebaikan di dunia dan akhirat, insya Allah.

 

 

 

 

 

 

BAB  III

PENDIDIKAN SEBAGAI SISTEM

 

1. Pengertian Pendidikan Sebagai Sistem.

وَإِذْقَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لاَتُشْرِكْ بِاللهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (لقمان:13)

"Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran (mendidik) anaknya, "Hai anakku, janganlah kamu menyekutukan Allah, sesungguhnya menyekutukan Allah benar-benar kedzaliman yang besar." (Qs. Luqman :13).

 

Juga sabda Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallama,

عَنْ بْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِيْ سَعِيْدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِيْهِ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ ثُمَّ لَمَّا عَمَلاً أَبَا طَالَبٍ اَلْوَفَاةُ جَاءَهُ رَسُوْلُ اللهِ  صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  فَوَجَدُ عِنْدَهُ أَبَا جَهْلِ بْنَ هِشَامٍ وَعَبْدَ اللهِ بْنَ أَبِيْ أُمَيَّةَ بْنَ الْمُغِيْرَةِ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  لِأَبْي طَالِبٍ   يَا عَمِّ  قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ كَلِمَةٌ أَشْهَدُ لَكَ بِهَا ثَمَّ اللهِ فَقَالَ أَبُوْ جَهْلٍ وَعَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِيْ أُمَيَّةَ يَا أَبَا طَالِبٍ أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَلَمْ يَزَلْ رَسُوْلُ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ وَيَعُوِّدَانِ بِتِلْكَ الْمَقَالَةِ حَتَّى قَالَ أَبُوْ طَالِبٍ آخِرَ مَا كَلَّمَهُمْ هُوَ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَأَبِىْ أَنْ يَقُوْلَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَا وَاللهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْكَ فَأَنْزَلَ اللهُ تَعَالَى فِيْهِ مَا كَانَ لِلنَّبِيَّ الآية (رواه البخاري و مسلم وابن ماجه وأحمد وغيرهم)

 

"Ibn Syihab berkata bahwa Sa’id bin Musayyab telah mendapatkan berita dari ayahnya, "Ketika Abu Tholib mendekati kematiannya, maka datang Rasulullah saw dan di sana ada Abu Jahl bin Hisyam beserta Abdullah bin Abi Umayah bin Al Mughiroh, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Abu Tholib, "Wahai pamanku, katakanlah Lailahaillah, satu kalimat yang mana aku jadikan saksi untukmu di sisi Allah. Lalu Abu Jahl dan Abdullah bin Abi Umayyah berkata, "Hai Abu Tholib, apakah engkau akan meninggalkan agama Abdul Mutholib ?" lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun terus menawarkan  kepada Abu Tholib untuk mengucapkan kalimat tersebut dan kedua orang itu menyanggah kembali, sehingga akhirnya Abu Tholib berkata, bahwa ia tetap pada agama Abdul Mutholib dan menolak kalimat Lailahaillah. Lalu nabi shallallahu ‘alaihi bersabda, "Demi Allah saya tetap membacakan istighfar untukmu selama aku tidak dilarang untuk itu." Maka kemudian Allah menurunkan Surat At taubah ayat 113 sebagai larangan bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan orang beriman lainnya untuk memintakan ampun bagi orang musyrik, sekalipun saudaranya." (HR.Muttafaqun Alaihi dan Ibn Majah, Ahmad, ath Thabrani dan al Hakim).

 

-------------------------

 

Sistem berbeda dengan cara. Cara bersinonim dengan teknik atau metode atau seni. Sistem merupakan gabungan beberapa komponen yang saling berinteraksi sesuai dengan fungsinya masing-masing di dalam rangka mencapai tujuan sistem tersebut.

Pendidikan sebagai sistem berarti memandang sektor/ bidang pendidikan secara menyeluruh dan utuh sebagai suatu sistem. Sistem ini di dalam pelaksanaannya berkaitan dan saling berinteraksi dengan sistem lain  di dalam sebuah supra sistem. Oleh karena itu, pendidikan berkaitan erat dengan sistem nilai yang berlaku (iman atau taqwa), politik, sosial, ekonomi dan bidang hankam di dalam sebuah masyarakat. Stabilitas bidang-bidang kehidupan tersebut akan berpengaruh terhadap rumusan dan pelaksanaan sistem pendidikan. Demikian pula sebaliknya, stabilitas sistem pendidikan (karena berlandaskan sistem nilai iman atau taqwa) akan berpengaruh terhadap stabilitas bidang lainnya. Semuanya berkait erat di dalam rangka mewujudkan tujuan bersama.

Adapun ayat 13 surat Luqman di atas, manakala dipelajari, ternyata merupakan sebuah praktek pendidikan di dalam keluarga. Di dalamnya terdapat beberapa komponen, seperti: Komponen ayah sebagai pendidik (yaitu Luqman); Komponen anak sebagai anak didik (anak Luqman); Komponen metode (yaitu lemah lembut, walau isinya larangan, tampak dari teks bahasa tersebut); Komponen tujuan (tampak dari keinginan Luqman agar anaknya menauhidkan Allah semata, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun); Komponen materi (pesan yang disampaikan Luqman) dan komponen situasi dan kondisi (saat berlangsungnya proses pendidikan dan keadaan/ kualitas semua komponen serta lingkungan).

Sedangkan ayat 113 surat At Taubah dan hadits riwayat Bukhori & Muslim di atas, menggambarkan pula sebuah praktek pendidikan yang berupa mendewasakan aqidah Abu Tholib dari jahiliyah kepada Islam, hal itu juga merupakan sebuah sistem. Rasulullah radalah sebagai da'i (komponen pendidik), Abu Tholib, paman Rasulullah rsebagai mad'u (komponen peserta didik), Dienul Islam merupakan tujuan dari proses da'wah (komponen tujuan), pesan yang disampaikan Rasulullah r  (komponen materi), dialog merupakan cara yang Rasulullah rlakukan (komponen metode), situasi saat berlangsungnya proses da'wah adalah di rumah mad'u (peserta didik) di dampingi pihak lain yang berpengaruh terhadap berlangsungnya proses da'wah (komponen situasi) serta keadaan mad'u/ peserta didik yang sedang sakit (komponen kondisi) disertai kegigihan pihak lain yang menggagalkan tujuan (Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah memprovokasi Abu Tholib, agar tidak menerima da’wah Rasulullah r).

 

2. Komponen-Komponen Pendidikan.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa komponen-komponen yang terdapat di dalam sebuah pendidikan adalah:

1. Tujuan.

2. Pendidik.

3. Anak/ peserta didik.

4. Metode/ cara.

5. Materi/ bahan.

6. Situasi dan Kondisi.

7. Media/ alat bantu rekayasa pendidik.

Pendidikan sebagai sebuah sistem dapat digambarkan sebagai berikut :

 

 
 

 

 

 


Tujuan

Anak Didik

Pendidik

Materi

                                     

 

 
 

 

 

 

 


Penjelasan diagaram di atas:

1. Komponen Tujuan.

Fitrah manusia dewasa yang sehat mengatakan bahwa setiap aktivitas manusia, tidak akan  lepas dari sesuatu yang diinginkan/ dituju. Dengan memiliki tujuan, setiap aktivitas manusia menjadi terarah. Demikian juga, setiap potensi yang dimilikinya akan senantiasa  didayagunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Tujuan akhir suatu sistem pendidikan yang fitriah tidak lain adalah mengajak manusia untuk berperilaku hidup di dunia ini berada di dalam  kebaikan dan ketaqwaan. Berarti pula, hidupnya berada di dalam keadaan beribadah kepada penciptanya.

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لاَتَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللهِذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَيَعْلَمُونَ (الروم: 30)

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada dienullah, (tetaplah atas ) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah itu. (Itulah) dien yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (Qs. Ar Ruum :30).

 

Proses pendidikan yang mengarahkan manusia agar tetap pada fitrahnya, sulit untuk diwujudkan, disebabkan peranan syetan yang selalu menggoda. Pendidikan menghadapi karang penghalang yang besar, sehingga tidak mengherankan, apabila komponen tujuan ini menjadi sangat ideal dan sulit dicapai di dalam  situasi masyarakat fujur.

 

مُنِيبِيْنَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوْهُ وَأَقِيمُوْا الصَّلاَةَ وَلاَتَكُوْنُوْا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (الروم: 31)

"Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertaqwalah kepada-Nya serta dirikanlah sholat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah (musyrik)." (Qs.Ar Ruum 31).

 

Dari ayat itu, tampaklah bahwa pendidikan meletakkan fungsinya sebagai suatu aktivitas yang mengembalikan manusia kepada fitrahnya, setelah tergelincir oleh godaan syetan. Sudah menjadi sunnatullah, bahwa manusia dewasa dituntut untuk mendidik anak secara optimal, sedangkan masalah tujuan pendidikan tercapai atau tidak adalah menjadi Kehendak Allah.

 

2. Komponen Pendidik.

Pendidik/ murrobi/ da'i merupakan sosok manusia beriman yang berfungsi membimbing, mengarahkan, menunjukkan, mengajak dan menyediakan kondisi-kondisi yang membuat anak didik/ mad'u menyiapkan dirinya meraih tujuan hidup yang menjadi fitrahnya.

Pendidik ini pula yang seharusnya menjadi teladan nyata di dalam kehidupan yang dapat diamati anak didik, sebagai figur penghubung terhadap figur ummat yang ideal (Rasulullah r). Pendidik jualah yang seharusnya  bersama-sama anak didik berinteraksi di dalam rangka memotivasi anak didik meraih tujuannya. Pendidik/ da'i/ murrobi merupakan  ujung tombak yang dapat menjembatani anak didik untuk bersistem nilai iman atau taqwa. Hal itu merupakan  bentuk usaha/ ikhtiar pendidik sebagai tanggung jawab yang diamanatkan Allah Azza wa Jalla. Adapun berhasil tidaknya anak didik meraih tujuannya, sehingga hidupnya senantiasa di dalam ibadah kepada Allah, merupakan persoalan hidayah/ petunjuk Allah. Firman-Nya,

مَن يَهْدِ اللهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَن يُضْلِلْ فَلن تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُّرْشِدًا (الكهف: 17)

"Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapat seorang pemimpin pun yang akan dapat memberi petunjuk kepadanya." (Qs.Al Kahfi 18 :17).

 

Peranan pendidik adalah sebatas berusaha mengantarkan anak didik untuk memperoleh hidayah Allah Ta’ala. Rasulullah rpun tidak sanggup untuk meng-Islamkan pamannya, karena memang beliau adalah pendidik/ da'i, bukan Allah Ta’ala, sehingga memberi petunjuk adalah hak mutlak Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

3. Komponen Anak Didik.

            Anak didik merupakan sosok manusia yang belum dewasa (mungkin fikrohnya atau jasadnya atau qolbinya atau diennya dan atau keseluruhannya) yang secara aktif berkiprah atau meraih tujuan hidupnya. Ia dituntut untuk mendayagunakan segenap potensi positif pemberian Allah Ta’ala. Ia adalah makhluq Allah Ta’ala yang bersifat potensial untuk mengembangkan jalan fujur atau jalan taqwa. Ia diberi kebebasan secara bertanggung jawab oleh Allah Ta’ala. Artinya, apabila ia memilih jalan fujur berarti tujuan hidup yang sesuai dengan fitrahnya, tidak akan pernah tercapai. Sebagai konsekuensinya, ia harus siap mempertanggungjawab kannya di hadapan Allah Ta’ala kelak di Yaumil Akhir.

            Dengan demikian, peranan anak didik adalah mengerahkan segenap potensi yang merupakan karunia Allah Ta’ala untuk memilih jalan manakah yang akan dikembanmgkan. Ia, di dalam perannya dibantu oleh pendidik, agar potensi fujur dapat ditekan dan potensi taqwa dapat dikembangkan.

            Selain itu,  ia pun akan senantiasa berinteraksi dengan sesama anak didik dan lingkungan (teman sebaya, orang tua dan orang lain serta situasi dan kondisi geografis, sosial dan politik). Proses interaksi tersebut dapat memperlancar atau menghambat pencapaian tujuan pendidikan.

            Interaksi dengan lingkungan yang menghambat proses pendidikan, biasanya terlihat, terdengar dan terasa mengenakkan (ni’mat) bagi anak, walau hanya sekejap. Anak didik yang belum dapat menangkap makna yang sesungguhnya dari setiap fenomena yang ia berinteraksi dengannya, merupakan suatu yang berbahaya dan mengancam kesuksesan hidup anak kelak. Oleh karena itu, anak membutuhkan kehadiran orang dewasa yang bijaksana –yang sudah seharusnya berperan sebagai pendidik- untuk membimbingnya. Namun sayang, sungguh teramat sayang, di dalam masyarakat yang telah melacurkan nilai taqwa dan diganti dengan nilai fujur, maka tidak semua orang dewasa memperhatikan hal ini. Bagaimana mungkin akan menjadi anak yang sholeh/ sholehah, yang akan berguna bagi diri anak, keluarga dan masyarakatnya, kalau anak didik ini diracuni di dalam jalan fujur di tengah masyarakatnya serta hampir seluruh orang dewasa membiarkannya ?

 

4. Komponen  Materi  Pendidikan.

            Inti pesan/ materi pendidikan yang dibawa para nabi yang harus diteruskan oleh para pendidik (da’i) adalah seperti yang tergambarkan di dalam Qs.Ar Ruum ayat 30-31 di atas atau seperti tercantum di dalam Firman Allah Ta’ala,

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ  الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَآءَ بِنَآءًوَأَنزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلاَ تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَندَادًا وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ (البقرة: 21-22)

“Hai manusia, ibadahilah Robbmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaaqwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atapnya dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit. Lalu Dia menghasilkan dengan air hujan itu segala buah-buahan sebagai rizki untukmu Karena itu, janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah (syirik), padahal kamu mengetahui.” Qs. Al Baqoroh : 21-22).

 

            Ayat di atas memberi petunjuk, bahwa Allah Ta’ala memberikan amanat agar manusia beribadah kepada-Nya semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Derajat yang akan diperoleh manusia yang telah beribadah kepada Allah adalah taqwa. Pada sisi lain, Allah Ta’ala seakan mengungkap, bahwa tidak pada tempatnya apabila manusia beribadah kepada selain-Nya. Sebab tidak ada yang sanggup menciptakan manusia dan memberikan segenap fasilitas hidup selain-Nya. Ungkapan (firman) Allah Ta’ala tersebut, pada hakikatnya menghujat manusia, sebab sebenarnya manusia telah memahami, bahwa dirinya tidaklah pantas untuk menyekutukan Allah Ta’ala dengan apa pun dan memang tidak ada yang dapat menandingi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

            Di dalam kitabnya –At Tauhid- Syaikh At Tamimi, setelah membawakan Qs. Adz Dzariyaat: 56 ; An Nahl : 36 ; Al Isra’ : 23-24 ; An Nisa’ : 36, selanjutnya beliau membawakan Qs. Al An’am : 151-153,

 قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَاحَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلاَّتُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلاَتَقْتُلُوا أُوْلاَدَكُم مِّنْ إِمْلاَقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلاَتَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَ مِنْهَا وَمَابَطَنَ وَلاَتَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلاَّباِلْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ ðوَلاَتَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلاَّ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ لاَنُكَلِّفُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْكَانَ ذَاقُرْبَى وَبِعَهْدِ اللهِ أَوْفُوا ذَالِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ ðوَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَالِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ( الأنعام: 151-153)

“Katakanlah (Muhammad), “Marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Robbmu yakni janganlah kamu berbuat syirik sedikit pun kepada-Nya, berbuat baiklah kepada kedua orang tua dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), kecuali dengan sesuatu (sebab) yang benar. Demikianlah yang diwasiatkan Allah kepadamu, supaya kamu memahaminya.ðDan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecauali denggan cara yang lebih bermanfaat, hingga ia mencapai kedewasaannya dan sempurnalah takaran dan timbnagan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang, melainkan menurut kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendati pun dia adalah kerabat (mu) dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diwasiatkan Allah kepadamu, agar kamu ingat.ð“Dan (kubacakan), “Sungguh inilah jalan-Ku, berada di dalam keadaan lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kamu  dari jalan-Nya. Yang demikian itu diwasiatkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.” (Qs. Al An’aam :151-153).

 

            Selanjutnya Syaikh berkata, bahwa Ibnu Mas’ud radhiyallohu ‘anhu berkata, “ Barangsiapa ingin melihat wasiat Muhammad ryang tertera di atasnya cincin stempel milik beliau, maka hendaklah ia membaca firman Allah Ta’ala, “Katakanlah (Muhammad), “Marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Robbmu yakni janganlah kamu berbuat syirik sedikit pun kepada-Nya ……..” dan seterusnya, sampai pada firman-Nya, “Dan (kubacakan), “Sungguh inilah jalan-Ku, berada di dalam keadaan lurus ……” dan seterusnya.” (Riwayat at Tirmidzi, Ibnu Al Mundzir dan Ibnu Abi Hatim).

 

            Mu’adz bin Jabal Radhiyallohu ‘anhu menuturkan,

كُنْتُ رَدِيْفَ النَّبِيِّ عَلَى حِمَارٍ‘ فَقَالَ لِىْ ‘ يَامُعَاذُ‘ أَتَدْرِيْ مَاحَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ وَمَاحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى الله ؟ قُلْتُ ‘ "اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ" قَالَ‘ "حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوْهُ وَلاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْأً" قُلْتُ‘ "يَارَسُوْلَ اللهِ‘ أَفَلاَ أُيَشِّرُالنَّاسَ ؟ " قَالَ ‘ "لاَ تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوْا" (روه البخارى و مسلم الترمذي والنسائي وأحمد والطبرانئ)

 

 “Aku pernah diboncengkan Nabi Shallallohu ‘alaihi wa sallama di atas seekor keledai. Lalu beliau bersabda kepadaku, “Hai Mu’adz, tahukah kamu apakah hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya dan apa hak para hamba yang pasti dipenuhi Allah ?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau pun bersabda, “Hak Allah yang wajib dipenuhi para hamba-Nya adalah supaya mereka beribadah kepada-Nya saja dan tidak berbuat syirik sedikit pun kepada-Nya, sedangkan hak para hamba yang pasti dipenuhi Allah adalah, bahwa Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak berbuat syirik sedikit pun kepada-Nya.” Aku bertanya, “Ya Rasulullah, tidak perlukah aku menyampaikan kabar gembira ini kepada orang-orang ?” Beliau menjawab, “Janganlah kamu menyampaikan kabar gembira ini kepada mereka, sehingga mereka nanti akan bersikap menyandarkan diri.”( HR. Bukhori, Muslim, Tirmidzi, an Nasa’I, Ahmad dan Thabrani)

 

            Berdasarkan ayat-ayat dan hadits di atas, Syaikh At Tamimi menjelaskan tentang kandungan/ pesan/ materi pembahasan yang terdiri atas 24 butir/ pesan/ materi bahasan, di antaranya:

  • Ibadah merupakan hakikat tauhid, karena pertentangan yang terjadi (antara Rasulullah rdengan kaum musyrikin) adalah tentang tauhid ini.
  • Barangsiapa belum melaksanakan tauhid ini, belumlah ia beribadah (menghamba) kepada Allah. Di sinilah letak pengertian firman Allah Ta’ala,
وَلآَأَنتُمْ عَابِدُونَ مَآأَعْبُدُ

       “Dan sekali-kali kamu sekalian bukanlah penyembah (Tuhan) yang aku  

        sembah.” (Qs. Al Kafirun :3).

·         Hikmah diutusnya para rasul (yakni untuk menyerukan tauhid dan melarang syirik).

·         Bahwa ajaran/ tuntunan para nabi adalah satu (yakni tauhid/ pemurnian ibadah kepada Allah).

Dapat ditegaskan di sini, bahwa materi pendidikan yang menjadi prioritas utama, sebagaimana penjelasan di atas, yakni at Tauhid. Inilah yang telah dicontohkan para nabi, sahabatnya dan Luqman di dalam memberikan pendidikan terhadap anak didik mereka. Semoga kita dapat mengambil pelajaran.

Materi pendidikan tersebut selanjutnya harus dikelola oleh pendidik agar mudah untuk diserap dan diamalkan  anak didik sesuai dengan usia perkembangan dan kemampuan anak. Kemudian materi tersebut, dilengkapi dengan materi iptek dan ketrampilan lainnya. Kemajuan iptek dan ketrampilan lainnya diharapkan dapat meningkatkan kualitas peradaban dan budaya manusia, yang tentu saja sejalan dengan iman atau taqwa. Itulah muatan yang diemban oleh pendidikan dan pengajaran anak masa depan yakni anak yang sholih/ sholihah.

 

5. Komponen Metode/ Teknik/ Cara/ Seni.

            Metode merupakan kecakapan pendidik di dalam mengelola dan membimbing, mengarahkan, memotivasi dan menyiapkan kondisi-kondisi tertentu, sehingga materi pendidikan dapat dipahami dan diterima anak dengan mudah. Efeknya, dapat mempermudah siswa untuk mencapai tujuan pendidikan. Dapat diakatakan pula, bahwa metode merupakan upaya pendidik untuk memperjelas jalan yang akan ditempuh anak didik di dalam mewujudkan kebenaran.

            Ketepatan di dalam menggunakan metode dan variasi yang menarik, akan mengakibatkan kerja pendidik lebih efisien dan efektif. Firman Allah Ta’ala.

اُدْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ أَحْسَنُإِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ (النحل: 125)

“Serulah (manusia) ke jalan Robbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara/ metode yang baik. Sesungguhnya Robbmu, Dialah yang mengetahui tentang siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Qs. An Nahl : 125).

 

            Berdasarkan ayat di atas, metode yang seharusnya ditempuh para da’i/ pendidik di dalam mendidik haruslah baik. Pengertian baik sudah barang tentu sepanjang tuntunan Allah Ta’ala dan sunnah Rasul-Nya. Pengertian baik seperti itulah yang akan disukai oleh manusia yang cenderung kepada kebenaran. Sekaligus akan dibenci (tidak disukai) oleh manusia yang cenderung kepada kesesatan, yakni manusia yang lebih mendahulukan potensi fujur daripada potensi taqwa.

            Bagi manusia atau anak didik yang menyukai kebenaran, maka terbukalah potensi taqwanya. Selanjutnya ia akan sampai terhadap materi pendidikan/ pelajaran. Langkah berikutnya, mengikuti program yang telah disusun para pendidik. Pada akhirnya, dengan metode Robbani, akan menghasilkan manusia yang mendapat petunjuk Allah, sehingga selalu konsekuen di dalam  mengarungi kehidupannya. Allah Ta’ala berfirman,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي اْلأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ (آل عمران: 159)

“Maka disebabkan rahmat dari Robbmulah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi kasar, tenulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka di dalam urusan itu. Kemudian, apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. “(Qs. Ali Imran : 159).

 

            Berdasarkan ayat di atas, sebagai pendidik muslim, sudah barang tentu menconoh teladan utama yakni Rasulullah rsebagai pendidik ummat yang memiliki sifat, yakni cara mendidik manusia dengan: Lemah-lembut sebagai rahmat Allah Ta’ala. Jangan sekali-kali bersikap keras, apalagi kasar. Sebab, hal itu akan mengakibatkan  anak didik tidak akan  dapat menyerap materi pelajaran, sehingga tujuan pendidikan pun tidak tercapai.

 

6. Komponen Media.

            Agar anak didik lebih tertarik dengan materi pendidikan dan pengajaran serta agar memperoleh pengalaman belajar yang mendekati/ sesuai obyek aslinya/ yang sesungguhnya dan agar hal itu dapat dipelajari anak didik di dalam jumlah yang besar, maka media pendidikan sangat dibutuhkan kehadirannya. Media ini dapat menjembatani pengalaman nyata yang tidak mungkin dijangkau anak didik, sehingga dapat dihadirkan ke dalam ruang kelas. Misalnya, menyajikan peristiwa gunung meletus (dibuatlah media pendidikannya berupa film pendidikan).

            Media pendidikan ini harus dirancang  pendidik dan bekerja sama dengan tenaga ahli di bidangnya (misal: Ahli Teknologi Pendidikan). Firman Allah Ta’ala,

فَسِيرُوْا فِي اْلأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ (النحل: 36)

“Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhaikan bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan rasul-rasul.”(Qs. An Nahl :36).

 

            Ayat di atas, berupa perintah Allah Ta’ala dengan nada lemah-lembut, agar manusia suka mengadakan perjalanan ilmiah tentang sejarah orang-orang yang menolak kebenaran, sehingga mendapat adzab Allah Ta’ala di dunia. Manusia yang hidup di kemudian hari, supaya mengambil pelajaran atas sejarah, agar tidak mengulangi kesalahan yang serupa. Untuk merealisasikan perintah Allah Ta’ala tersebut, maka media pendidikan dapat dimanfaatkan untuk menunjukkan bukti-bkti ilmiah kepada anak didik, baik berupa media chart, slide, OHT maupun film pendidikan (TV, Video, CD) dan sejenisnya.

 

7. Komponen Situasi dan Kondisi Intern.

            Situasi merupakan keadaan sekitar, di tempat berlangsungya proses pendidikan. Kondisi adalah kualitas taraf kemampuan seluruh komponen yang terkait di dalam proses pendidikan. Situasi Kondisi (Sikon) yang memungkinkan terlaksananya proses pendidikan dengan baik adalah apabila memiliki daya yang kuat untuk membuat wahana yang kondusif bagi proses tersebut. Firman Allah Ta’ala,

لَّيْسَ عَلَى الضُّعَفَآءِ وَلاَعَلَى الْمَرْضَى وَلاَعَلَى الَّذِينَ لاَيَجِدُونَ مَايُنفِقُونَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُوا للهِ وَرَسُولِهِ مَاعَلَى الْمُحْسِنِينَ مِن سَبِيلٍ وَاللهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ (التوبة: 91)

“Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, atas orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa-apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas terhadap Allah dan Rosul-Nya. Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang yang berbbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. At Taubah : 91)

 

            Ayat ini, mengisyaratkan dengan tegas, bahwa dengan kondisi yang tidak memungkinkan untuk beraktivitas (jihad, termasuk juga menuntut ilmu), maka lebih baik beristirahat. Sebab apabila memaksakan diri, dapat berakibat kepada kegagalan usaha karena kesalahan upaya manusia. Bagi mereka yang ikhlas kepada Allah dan Rosul-Nya, maka tidak akan mengambil resiko yang dapat dikirakan karena sebuah kesalahan. Sehingga, istirahat sementara waktu adalah cara terbaik, sebagai sebuah ketentuan Allah Ta’ala.

            Implikasi ayat tersebut terhadap proses pendidikan adalah pendidik tidak boleh memaksakan program/ materi pendidikan kepada anak didik, di luar jangkauan fisik dan psikhis mereka. Lebih dari itu, proses pendidikan yang berlangsung harus diupayakan  memenuhi prinsip-prinsip mendidik yang sejalan dengan iman atau taqwa. Hal ini memiliki maksud, agar pendidik tidak melampaui ketentuan dari Allah Ta’ala dan contoh Rosul-Nya (sunnah beliau).

            Adapun jalinan kerja sama antar keseluruhan komponen yang berpengaruh terhadap proses dan hasil pendidikan (seperti tersebut di atas) adalah sebagai berikut:

Setelah tujuan pendidikan dirumuskan dengan cermat, maka pendidik merumuskan suatu strategi pendidikan untuk mengoptimalkan segenap komponen yang ada, agar dapat berfungsi. Selanjutnya, mengadakan interaksi dengan anak didik dan antar anak didik, dengan menggunakan metode yang tepat dan bervariasi, disertai dengan penggunaan media pendidikan yang menarik, sehingga anak didik termotivasi untuk mendayagunakan potensi mereka. Pendidik mengelola sikon yang ada untuk menunjang proses pendidikan  di dalam mencapai tujuan  yang telah dirumuskan.

            Berdasarkan pembahasan di atas, sebagai konsekuensinya, apabila terdapat ikhtiar manusia yang kurang optimal (terbukti dari tujuan yang telah ditetapkan, tidak dicapai dengan sempurna oleh anak didik/ kualitas anak didik tidak sebagaimana yang diharapkan), maka sebagai muhasabah diri (introspeksi), perlu hal ini senantiasa dilakukan. Caranya:  Pelajari keseluruhan komponen yang terkait dengan proses pendidikan, berjalan sesuai dengan fungsinya atau belum. Kemudian, bagaimana jalinan kerja sama antar komponen yang ada.  Komponen manakah yang paling kuat berpengaruh terhadap kegagalan/ kekurangan proses dan hasil pendidikan. Dari sini, akan diketahui dan ditentukan cara penyelesaian masalahnya.

            Apabila ikhtiar maksimal telah dilaksanakan, tetapi tujuan yang telah ditetapkan tidak juga tercapai dengan sempurna/ bahkan gagal sama sekali, maka hal itu berarti kehendak manusia berbeda dengan Kehendak Allah Ta’ala. Dan sudah pasti, kehendak Allah Ta’ala itulah yang akan terlaksana. Dan apa pun yang terjadi, maka selayaknya kita menerima dan menyatakan itulah Qadarullah. Selanjutnya, kita dituntut untuk senantiasa meningkatkan upaya kita terus-menerus, tanpa mengenal putus asa, keluh-kesah dan sejenisnya. Dan tetap memohon karunia-Nya dan bertawakkal hanya kepada-Nya serta mohon ampun kepada-Nya.

 

C. Prinsip-Prinsip Pendidikan.

C .1. Prinsip Iman atau taqwa.

            Prinsip ini menekankan agar proses pendidikan yang berlangsung berazazkan sistem nilai iman atau taqwa. Meninggalkan segenap bentuk dan kemungkinan munculnya gejala fujur yang dapat menghanguskan nilai/ upaya yang selama ini dijalankan. Akhirnya, bukan tujuan yang dapat dicapai dan keuntungan dunia serta akhirat yang diraih, melainkan kerugian belaka dan gagalnya upaya kita. Allah Ta’ala telah berfirman,

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَاîقَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَاîوَقَدْ خَابَ مَنْ د َسَّاهَا(الشمس:8-9)

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) fujur dan ketaqwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”(Qs. Asy Syam: 8-10)

 

C.2. Prinsip Sumber Rujukan.

            Prinsip ke dua merupakan konsekuensi atas prinsip pertama. Karenanya, rujukan bagi sebuah kebijakan pendidikan, perumusan kurikulum dan operasional pendidikan serta perangkat-perangkat pendidikan, tidaklah boleh lepas dan bertentangan dengan  Kehendak Allah Ta’ala (Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah).

 

C.3. Prinsip Pemerataan.

            Prinsip ini menekankan bahwa menuntut ilmu atau memperoleh pelayanan pendidikan adalah sama saja, baik bagi laki-laki maupun wanita, kaya maupun miskin, masyarakat kota maupun desa. Jika pemerataan di dalam menuntut ilmu telah tersebar, maka anak-anak kita kelak, jika menghadap Robb mereka, dapat mempertanggungjawabkan hidup mereka, insya Allah. Sebab, menuntut ilmu merupakan  kewajiban yang berlaku bagi siapa saja. Rasulullah rtelah bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ (رواه بن ماجة والطبراني وابن شهاب)

Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” (HR.Ibnu Majah, Thabrani dan Ibn Syihab)

 

C.4. Prinsip Long Live Learning.

            Prinsip ini menekankan bahwa belajar tidak terikat oleh umur seseorang. Selama hayat di kandung badan, maka wajib belajar akan berlangsung terus-menerus. Rasulullah rtelah bersabda untuk setiap orang yang hendak mati pun, agar tetap dapat belajar yakni,

لَقِّنُوْا مَوْ تَا كُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ (رواه مسلم وأبو داود والترمذي والنسائي وابن ماجه وأحمد والطبراني)

“Talqinkan (ajarkanlah) orang yang hendak mati di antara kalian (dengan ucapan) Laa ilaaha illallah.”(HR. Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’I, Ibnu majah, Ahmad dan Thabrani).

 

            Apabila prinsip ini terealisir, maka orang-orang yang bersistem nilai iman atau taqwa, senantiasa akan belajar terus, sehingga kualitas diri akan dapat ditingkatkan terus. Dengan ilmu, kehidupan menjadi berkembang, senantiasa dinamis dan penuh kreativitas. Derajat hidup orang-orang yang beriman dan berilmu, akan terus meningkat, tidak hanya di sisi manusia, akan tetapi demikian juga di hadapan Allah Ta’ala. Firman-Nya,

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا إِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوْتُوْا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ (المجادلة: 11)

“Hai orang-orang yang beriman, jika dikatakan kepadamu, “Berlapang-lapanglah di dalam majlis, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al Mujaadilah : 11).

 

 

5. Prinsip Ilmu Ilahiyah.

            Prinsip ini menekankan bahwa seluruh ilmu, baik yang eksak maupun social, ilmu agama maupun teknik keduniaan adalah milik Allah Ta’ala dan bersumber dari-Nya (kecuali pengetahuan yang sifatnya fasad, seperti sihir. Maka ia adalah dari syaithon). Ilmu Allah Ta’ala sangat luas, sedangkan manusia hanya sanggup menguasai ilmu-Nya hanyalah sedikit saja (Qs.2:32). Dan adanya pandanggan yang mengatakan bahwa  ilmu adalah ciptaan manusia tertentu dan miliknya, adalah suatu kekeliruan. Manusia, tidak lain hanyalah sebatas memiliki kesanggupan untuk menemukan, merakit dan mempelajari ilmu Allah Ta’ala.

 

6. Prinsip Manfa’at dan Maslahat.

            Prinsip ini menekankan bahwa seiap akivitas pendidikan dan atau pembelajaran hendaklah memperhatikan segi  manfaat dan maslahat. Kemubadziran, pemborosan dan kemudharatan tidaklah mendapatkan tempat, sebab hal itu merupakan kesia-siaan (Qs.23:3). Rasulullah rbersabda,

عَنْ أَبِىْ هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ، قَالَ : قَالَ رَسُوْ لُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمُ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ (رواه الترمذى وبن ماجه وأحمد ومالك والطبراني)

“Dari Abu Hurairoh radhiyallohu ‘anhu telah berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa sallama, “Sebagian dari baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bergna baginya.” (HR. Tirmidzi, Ibn Majah, Ahmad, Imam Malik dan Thabrani).

 

7. Prinsip Keutamaan (Prioritas).

            Prinsip ini menekankan bahwa dengan adanya tahapan-tahapan  di dalam mencapai tujuan beserta kandungan materi/ bahan pendidikan dan pembelajaran dengan berbagai variasi, maka memerlukan adanya prioritas di dalam pelaksanaannya. At Tauhid (keimanan/ aqidah) sebagai suatu bidang studi merupakan prioritas dan adanya integrasi nilai iman atau taqwa ke dalam bidang studi lainnya serta praktek pendidikan adalah suatu upaya yang harus diperhatikan terlebih dahulu, sebab ia secara langsung akan mencapai tujuan pendidikan. Karena itulah, pengembangan kurikulum sebagai implementasi sistem pendidikan dan wahana kondusif bagi pelaksanaan proses pendidikan anak, harus diorganisir sebaik mungkin.

 

8. Prinsip Keseimbangan.

            Prinsip ini menekankan adanya keseimbangan, keadilan di dalam semua sisi aktivitas pendidikan (Qs.2:143). Melalui prinsip ini, gejala ekstrimitas, melampaui batas kewajaran segera dapat diatasi. Hal itu berarti, antara idealisme dan kemampuan yang ada perlu diselaraskan. Artinya, aktivitas pendidikan beroperasi sesuai dengan kesanggupan maksimal yang ada dengan tetap berusaha meningkatkan kemampuan menuju idealisme.

 

9. Prinsip Selaras dengan Hakikat Manusia.

            Pendidikan adalah upaya orang dewasa di dalam mendidik anak untuk mencapai kedewasaannya sesuai dengan fitrah diri anak didik. Prinsip ini meliputi:

9.1. Mengembangkan Fitrah.

            Rasulullah rtelah bersabda,

كُلُّ مَوْ لُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يَهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ (رواه البخاري ومسلم و أبو داود والترمذي و أحمد ومالك)

“Setiap anak dilahirkan di dalam keadaan fitrah, maka orang tuanyalah yang (kemudian) menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.”(HR. Bukhori, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Ahmad dan Malik).

 

Hadits di atas mengandung pengertian, bahwa manusia sejak lahir telah Allah Ta’ala bekali dengan naluri/ gharizah, kecenderungan dan motivasi yang selanjutnya memerlukan bimbingan, motivasi dan pengarahan serta pemeliharan, agar senantiasa berada di dalam aturan Allah Ta’ala. Juga fitrah berarti Islam/ tauhid, sehingga semenjak di dalam kandungan ibu, seorang anak telah menerima Allah Ta’ala sebagai Robbnya (Qs.&:172). Untuk merealisasikan pengakuan tersebut setelah lahir ke dunia, agar tetap di dalam kondisi fitrah, maka dibutuhkan peranan pendidik (orang tua), agar anak sanggup mempertahankan agamanya (Islam). Lalai di dalam hal ini, maka anak dapat saja menempuh jalan fujur yang merugikan dirinya, orang tua dan masyarakat luas.

 

9.2. Memelihara Kemuliaan Anak.

            Anak sebagai manusia berderajat mulia di hadapan Allah Ta’ala, apabila dibandingkan dengan makhluq lainnya. Kemuliaan tersebut disebabkan manusia dikaruniai Allah Ta’ala berupa daya intelektualitas yang tinggi. Lebih dari itu, manusia juga dikaruniai segala fasilitas hidup di dunia untuk dikelola sebagai sarana beribadah kepada Robbnya (Qs.2:29 dan 31:20). Kemudian, Allah Ta’ala tidak membiarkan manusia di dalam kebingungan di dalam mengarungi kehidupan, maka Dia mengutus Rosul-Nya sebagai suri tauladan yang membawa syari’at-Nya untuk diterapkan di muka bumi ini, sehingga manusia dapat beribadah kepada Allah Ta’ala dengan cara yang benar dan diridhoi-Nya.

            Dengan bekal intelektualitas yang tinggi, fasilitas hidup yang serba cukup dan bimbingan Rasul-Nya serta pedoman dan petunjuk hidup (Al Qur’an) dari-Nya, manusia akan dapat membedakan mana yang benar dan salah, baik maupun buruk, indah maupun jelek. Dengan hal itu pula, manusia akan sanggup menyingkap rahasia dan menemukan ilmu Allah Ta’ala untuk kemaslahatan kaumnya.

            Sebaliknya, apabila manusia tidak sanggup memanfaatkan bekal/ potensi tersebut atau menyalahgunakannya, maka manusia dapat jatuh derajatnya menjadi hina dina, lebih rendah dibanding binatang ternak (Qs.7:179). Karena itulah, pendidikan dituntut untuk sebijaksana mungkin memelihara kemuliaan anak, dengan selalu sadar akan ni’mat dan karunia Allah Ta’ala yang tidak terhitung, sadar akan keberadaan dirinya dan selalu berlomba-lomba mencari kebaikan dan ketaqwaan di sisi Allah Ta’ala (Qs.49:13).

 

9.3. Menyadarkan Tugas dan Fungsi Manusia.

            Setiap pendidik dituntut untuk senantiasa berupaya menyadarkan anak didik, bahwa ia lahir ke dunia tidaklah sia-sia dan bukan untuk bermain-main belaka, akan tetapi ia mengemban tugas dan missi Ilahi sebagai hamba Allah Ta’ala di bumi. Ia harus sanggup mengelola dirinya dan alam semesta serta seluruh penghuninya, agar selalu menjaga keserasian dan keharmonisan, sepanjang keadilan Allah Ta’ala (Qs.51:56/ 2:30).

 

9.4. Mendidik Sesuai dengan Kemampuan Intelektualitas Anak.

            Prinsip ini menekankan agar materi pendidikan/ bahan pembelajaran, hendaklah sesuai dengan kesanggupan daya nalar anak, bahasa dan karakternya. Sehingga adanya anggapan yang mengatakan, bahwa pendidikan adalah upaya transfer ilmu, pengetahuan dan ketrampilan dari orang dewasa kepada anak adalah sama saja dengan menganggap bahwa anak bagaikan tong kosong yang dapat diisi sekehendak pendidik, tanpa memperhatikan karakterisik anak, menjadi tertolak.

 مَاأَنْتَ بِمُحْدِثٍ قَوْمًا حَدِ يْثًا لاَ تَبْلُغْهُ عُقُوْلُهُمْ، إِلاَّ كَانَ لِبَعْضِهِمْ فِتْـنَةٌ ( رواه مسلم)

“Seseorang yang menyampaikan kepada suatu kaum atau golongan pembicaraan yang tidak sesuai dengan akalnya, maka hal demikian akan menimbulkan fitnah di kalangan mereka.” (HR.Muslim)

 

            Terlalu berat/ di luar jangkauan daya nalar anak di dalam perumusan materi dan proses pembelajaran, tidaklah bijaksana. Demikian pula, jika terlalu mudah dan ringan, berakibat perkembangan anak menjadi terlambat. Firman Allah Ta’ala berikut ini perlu kita perhatikan,

لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا (البقرة: 286)

“Allah tidak membebani seseorang, melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Qs. Al Baqoroh: 286).

 

9.5. Membina Kepribadian.

            Prinsip ini menekankan bahwa peranan pendidik di dalam proses pendidikan adalah mengantarkan anak meraih kedewasaannya, baik fikriyah, qolbiyah, jasadiyah maupun dieniyahnya. Apabila kedewasaan ini dapat diwujudkan, berarti kepribadian anak telah terbina dengan baik. Demikian juga akhlaq anak didik menjadi sempurna. Sebagaimana sabda Rasulullah berikut,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ اْلأَخَلاَقِ (رواه البخاري في أدب المفرد والبيهقي والطبراني وابن عبد البر)

“Sesungguhnya saya diutus untuk menyempurnakan akhlaq.” (HR. Bukhori di dalam Al Adab al Mufrod, Baehaqi, Thabrani dan Ibnu Abdil Barr).

 



Pengirim : muslim

Komentar :